
(Indah....)
Hubungan singkatku dengan Rivaldo menyisahkan kenangan yang manis, hingga kini..., semua lelaki yang pernah menjalin hubungan denganku memiliki ceritanya masing - masing, tapi awal kehancuran hidupku dimulai pada pertengahan tahun ketika aku duduk di bangku kelas dua SMA, Yah...., pada Bab ini aku akan menceritakan bagaimana awal kehancuran itu..., sungguh aku sangat berterima kasih kepada Author yang akan menyampaikan kelamnya hidupku, agar tidak ada lagi gadis - gadis muda mengalami apa yang pernah aku alami.
*
*
*
Mathew sungguh terdengar gusar di balik telepon saat itu, "Apakah kau sudah mengakhiri hubungamu dengan Anak SMA itu?!" suaranya sedikit meninggi, dan memekikkan telinga serta menusuk hatiku,
"Sudah!! apalagi yang kamu mau dari aku kak?!!! aku minta kita putus!!!" teriakku sambil memutuskan sambungan telepon malam itu.
"Kamu mau putusin Mathew?!!! terus hidupmu mau jadi apa!!! HAH?!! anak goblok!!!" tiba - tiba sangking emosinya mama kepadaku, mama menjambak rambutku dengan kasar yang mendorongku masuk kekamarku.
Saat itu aku adalah anak yang tidak berani membatah orang tuaku, terlebih mama, karena sedari kecil aku tidak pernah merasa segan dengan mama melainkan merasa takut, setiap aku melakukan kesalahan aku pasti akan dipukul oleh mama sampai babak belur, dan setiap ada perkelahian antara aku dan leo junior benar atau salah aku tetap salah. Itulah rumas dalam kehidupan keluargaku, sedangkan selama ini selain sekolah aku juga di tuntut untuk membantu papa bekerja di perusahaan miliknya,
"Ma...,Indah nggak kuat ma.., tingkah laku Mathew sungguh keterlaluan..." aku berusaha membela diriku di hadapan mama, namun percuma, apapun alasanku peraturan dalam rumah adalah semua harus nurut sama mama, tidak terkecuali papaku.
_________
Hari - hari kembali ku lewati dengan suram, kini aku menatap wajah Kak Mathew pada foto yang selalu kusimpan di lemariku, dan ditengah lamunanku, tidak ku sangkah Kak Mathew mengambil cuti lagi untuk bertemu denganku, kali ini kak Mathew datang dengan sikao yang lebih keras kepadaku.
"Kak..., maafkan Indah..." rasa ketakutan yang besar menyelimuti hatiku,
"Iyah nggak apa - apa..., asal jangan di ulangi lagi yah..., kakak tidak akan mencari anak SMA itu, tapi kakak minta kamu tidak mengulangi lagi.." jawab Mathew,
"Iyah kak,, aku janji" sahutku..,
Kami berbincang - bincang ringan di ruang tamu rumahku, dan aku berinisyatif mengangkat tas ransel Kak Mathew dan merapikan baju - bajunya pada kamar tamu yang selalu disediakan mama tiap kali Mathew datang mengunjungi kami,
"Indah dan Mathew, ini mama mau pergi nemani papa kerja proyek, mama akan ajak leo kecil, kalian baik - baik di rumah, Mathew.., tante titip Indah yah.." pamit mama hari itu,
__ADS_1
"Berapa lama ma?" tanyaku,
"Kurang lebih satu minggu" sahut mama, dan kulihat Mathew membantu mama mengangkat tas koper serta beberapa perlengkapan lainnya,
"Ndah, baik - baik dirumah, sekolah yang rajin, jangan bolos yah Nak," pamit papa dan segera menyusul ke mobil yang sudah siap berangkat.
"Baiklah pa.., semoga urusannya semua sukses yah pa.." sambungku sambil memeluk erat papa dengah penuh kasih sayang.
Aku menyusul Kak mathew, menuruni tangga balkon halaman depan rumahkum dan mengantarkan kedua orang tuaku pergi mencari nafkah, doa dan harapan ku panjatkan kepada Tuhan agar keadaan ekonomi kami membaik sehingga aku tidak memerlukan dukungan dana dari Kak Mathew.
______
Langit telah menjadi gelap, kami juga telah menghabiskan makan malam kami, dan menghabiskan waktu di ruang tengah sambil nonton televisi, ketika aku serius menonton televisi tanpa bergeming tangan Mathew mulai merayap di sekujur tubuhku, dan aku menikmati irama permainan tangan kak Mathew malam itu.
Sungguh pelampiasan rasa benci sangatlah tipis dengan cinta, aku sangat membenci kearoganan Mathew, namun aku juga sangat mencintai Mathew tanpa alasan yang jelas, di tambah dia adalah satu - satu nya laki - laki yang telah menjamah tubuhku.
Mathew mulai menjilat bagian belakang leherku, dan memainkan tangannya dengan meremas - remas kedua payudaraku, suara erangan keluar dari bibirku, namun akal sehat tetap kujaga agar aku tidak kebablasan,
"Jangan kak.., jangan sampai begini.." aku berusaha menahan segala aktifitas Kak Mathew yang menjuru pada keintiman,
"Kak.., jangan kak.,," lagi - lagi aku memintanya untuk berhenti,
"Apakah Rivaldo sudah mengambil keperawananmu?!!' Sungguh pertanyaan yang sangat menyakitkan yang pernah kudengar dari orang lain kala itu,
"Apa maksudmu Kak??!! kamu jangan sembarang berbicara?!" bantahku dengan suara tinggi,
"Aku tidak percaya, Aku yakin kamu pasti sudah Bolong!!" teriaknya Mathew, wajahnya sudah semakin memerah.
PLAAAKKKK!!!!
aku menamparnya sekuat tenaga, airmataku berderai deras tak karuan!!
"Kenapa kamu selalu berbicara ngawur denganku kak?!!" tidak terima dengan perlakuannya aku meminta penjelasan apa maksud semua ini,
__ADS_1
Bukannya memberikan penjelasan, Mathew malah semakin membuat suasana semakin keruh, "Harusnya aku yang bertanya!! mengapa kau berpacaran dengan orang lain selain aku?!!" Mathew mendorongku hingga ke sudut tembok, Namun karena luapan emosi kali ini tidak ada rasa takut sedikitpun kepada Kak Mathew yang sedang mengintimidasiku,
"Karena sikapmu yang seperti sekarang!! kamu terlalu arogan kepada aku Kak!!! Kamu juga selingkuh di belakangku kan??!! sekalipun kamu tidak mau mengakuinya tapi sudah lebih dari dua orang yang memberikan aku Info, dan asal kau tau kak selama sebulan ini ada perempuan yang mengaku sudah tidur dengan kamu!! lalu apalagi yang aku harapkan dari kamu kak?!!!" jawabku histeris dan menangis sesenggukkan,
Mathew sungguh tidak menghiraukan semua keluh kesah curahan hati yang di sampaikan oleh indah, "Aku akan memilikimu!!" Ujar Mathew dengan penuh emosi, kali ini sungguh serius Mathew mencapai puncak keinginannya padaku, Mathew merobek baju kemeja yang kupakai malam itu, dan merobek pakaian dalamku sehingga kedua payudaraku terekspos keluar, dan aku menutup dengan kedua tanganku, kini tubuhku gemetaran karena rasa takut yang tidak ketolongan.
Ketika Mathew berusaha membuka bajunya, aku berusaha berlari untuk menyelamatkan diriku dengan berlari kearah kamar, dan berniat untuk mengunci pintu kamarku, namun sayang...ketika aku sudah setengah jalan Mathew menarik kasar pergelangan tanganku, dan menarik tangan kananku serta melemparkan aku ke atas tempat tidur pada kamar yang ditempatinya.
"Kak..., jangan kak..., kumohon, apa yang mau kamu lakukan kak?" Aku sungguh memohon agar semuanini dihentikan saat itu juga, sambil menutup bagian dadaku.
Seketika itu Juga Mathew menarik kakiku dan membuka paksa celana pendek yang aku kenakan bersamaan dengan celana dalam, kini tidak ada satu helai benangpun menutupi tubuhku, Nafsu birahi Mathew naik dan buru - buru di buka celana yang masih kenakannya sehingga bagian vital Mathew terlihat dengan jelas, sungguh harga diriku terinjak - injak malam itu, dengab Paksa Mathew menggenggam kedua tanganku dan menekanku dengan kedua kakinya yang panjang dan besar sehingga aku tidak dapat bergerak sama sekali, dan Mathew memasukkan alat vitalnya pada bagian vitalku,
Dengan Kasar Mathew terus memaksa agar alat vitalnya menembus lapisan keperawananku, dengan jeritan dan tangisan hebat aku terus memohon agar Mathew menghentikan perbuatannya, Namuh Mathew semakin beringas kepadaku, merasa bagian Vitalnya belum bisa menembus tebalnya dinding keperawananku Mathew mengisap kasar payudaraku dan menggigit salah satu ** hingga sedikit berdarah,
Aku menangis semakin menjadi - jadi, "Stop kak..., ampuni Indah..., tolong kak.., jangan kak.,, ampun kak,," aku memohon bagaikan pengemis untuk tidak lagi menerima siksaan berat yang diberikan Mathew kapadaku,
"Aku tidak akan berhenti sampai kau menjadi milikku" sahut Mathew dan kembali mathew menusukkan alat vitalnya kedalam alat vitalku kini dengan cara yang kebih kasar, hingga cesssss...., Darah segar membasahi kakiku dan menetes pada seperai temoat tidur itu.
Aku aku merasa sudah menyerah, rasa sakit dan perih membuatku tak berdaya melawan, sungguh tubuhku terasa seperti memar menyelimuti seluruh bagian tubuhku,
"Kini aku akan mengeluarkan milikku" Mathew memompa dengan sangat cepat tanpa menghiraukan darah yang tak kunjung berhenti,
"Ampuuunnn kak..," hanya satu kata itu saja yang dapat kuucapkan.
"Kini kamu adalah milikku" bisik Mathew sambil terus menggoyangkan pinggulnya tiada henti..
"Aku tidak perawan lagi,,," lirihku dan air mata sungguh menyiksaku
*
*
*
__ADS_1
bersambung