Aku Adalah Indah

Aku Adalah Indah
Tugas ke Sumatera


__ADS_3

"Belajarlah yang baik, agar kamu segera lulus, dan kakak berjanji akan menguliahkanmu, juga setelah lulus kita akan segera bertunangan Dek," segala ucapan Mathew terdengar sangat tulus dan aku pun sangat berharap kala itu, agar bisa menikah dengan kak Mathew, karena aku tidak ingin ada pria lain menjadi pendampingku..., sungguh aku tidak sanggup bila harus di katakan "dasar tidak perawan!!" atau di cemooh oleh orang lain.


Pikirku, bisa tidak bisa aku harus menikah dengan Mathew.


******


Akhirnya hari dimana aku harus mengantarkan Mathew kepelabuhan telah tiba, aku mengantarnya di pelabuhan untuk melihat Mathew pergi meninggalkanku lagi demi tugas negara, konfilk yang terjadi di sumatra belum juga mereda paska terjadinya pemberontakkan hingga menyebabkan salah satu wartawan televisi swasta meninggal dunia karen terjadi baku tembak di sana, dan seorang kameranen yang juga di sandera bersamaan dengan reporter tersebut selamat dari kontak tembak yang terjadi, Indah bergidik membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya,


Indah mengantarkan Mathew, diantar oleh mamanya dan supir pribadi mereka, Indah merasa agak bingung dengan sikap mamanya, yang tiba - tiba meminta Indah untuk mempertahankan kembali hubungannya dengan Mathew, keputusan mama Indah untuk memisahkan mereka tiba - tiba berubah seketika, mendapati perubahan sikap mama Indah yang kembali melunak kepada Mathew, membuat sepasang kekasih ini merasa sangat berbahagia,


"Terima kasih tante sudah mau mengantarkan saya dan menemani Indah" ucap Mathew, Mama Indah hanya mengangguk dan tersenyum, dan sambil menunggu keberangkatan kapal Mathew mengeluarkan sesuatu dari dompet lipatnya "Tante..., ini saya titipkan kartu ASABRI saya, sebagai bukti bahwa saya sangat serius dengan anak tante" ucap Mathew dengan pasti,


"Apa kegunaan kartu ini kak?" tanya Indah heran,


"Ini adalah sama depan kita Dek..." jawab Mathew, "Bila kakak akan pensiun nanti..., kartu ini harus dilampirkan, bila tidak maka dana pensiun kakak tidak akan turun, dan ini adalah asuransi jiwa kakak juga, bila terjadi sesuatu yang mengakibatkan kakak meninggal, maka kamu bawa kartu ini agar bisa klaim asuransi dan mendapatkan dana dari kematian kakak" sambung Mathew,


Mendengar penjelasan terakhir dari Mathew, Indah bergidik ngeri.., "Mengapa kakak suka mengatakan hal yang tidak - tidak, aku tidak mau kehilangan kamu kak" sahut Indah sambil menahan air matanya yang sudah hampir terjatuh,


"Jangan takut, setelah kakak pulang dari Sumatra, kakak akan melamar kamu Dek, kakak ingin minimal kita nikah dinas dulu" sambung Mathew,


"Entahlah kak..., tapi ketika kakak pulang aku masih kelas tiga SMA, tidak mungkin kondisi aku masih sekolah dan menjadi istrimu" sahut Indah,


"Baiklah..., kakak akan menunggumu sampai kamu lulus SMA yah sayang.." tutur Mathew sambil mengecup kening Indah,


"Berjanjilah pada kakak, kamu tidak akan macam - macam di sini, dan kakak akan berjanji tidak akan macam - macam di sana, kali ini akan setia sama adek" Mathew mengulurkan jari kelingkingnya, Namun Indah menutup jari kelingking Mathew dengan telapak tangannya,

__ADS_1


"Jangan berjanji sesuatu hal yang belum tentu kakak tepati, tidak perlu berjanji apapun kepadaku kak..., cukup buktikan bila memang itu niatmu, untuk kesetianku pun tidak akan ku janjikan apapun kepada kakak, tapi aku akan membuktikannya" sambung Indah


"Mengapa seperti itu, apakah kamu akan mengingkarinya?" jawab Mathew terlihat kesal,


"Apakah aku terlihat seperti seseorang yang akan mengingkarinya?" tegas Indah dan menatap kedua bola mata Mathew dengan serius,


"Entahlah.., tapi kakak takut kehilangan kamu Indah.." lirih Mathew,


" Kamu tidak akan kehilangan aku, jika kakak bisa menjaga hati kakak kepadaku" jawab Indah,


"Baiklah kakak tidak berdebat apapun denganmu, kakak hanya mau sayang - sayangan sebelum kakak pergi, ingat aktifkan selalu telpon genggammu yah..., jangan pernah sedetikpun kamu jauh dari ponselmu, bahkan bila perlu saat, mandi, kencing atau beol sekalipun harus adek bawa yah.." ucap Mathew serius,


Namun mendengar omongan Mathew, Indah tertawa terbahak - bahak, bahkan teman - teman Mathew yang tidak sengaja mendengar percakapan Indah Mathew pun ikut tertawa, Mathew merasa malu dengan ejekkan teman - temannya "Diam kalian!!, apa kalian tidak pernah jatuh cinta dengan seseorang??!!" bentak Mathew, mendengar Mathew suara tinggi, teman - temannya bukannya diam tapi malah tertawa semakin menjadi - jadi,


"Aarrrggghhh!!! ayo Dek, kita pindah dari sini" ajak Mathew, dan indah juga tertawa geli melihat tingkah Mathew,


Terdengar suara komandan memanggil semua anggotanya untuk mengikuti arahan terakhir, jantung Indah bergerak semakin cepat, air mata mulai keluar dari mata, Indah sudah tau artinya, sebentar lagi Mathew akan segera pergi meninggalkan Indah untuk mengemban tugas Negara, Mathew pun dengan sigap langsung pergi kearah pasukan yang lain berbaris, sebelum pergi Mathew sempat berbisik "Tunggu, habis arahan kakak akan segera kembali" dan Indah langsung menganggukan kepala tanda mengerti.


Setelah lima belas menit mendengar arahan dari komandannya, pasukan di perintahkan untuk berpamitan kepada anak, istri dan keluarga lainnya hanya diberi waktu sepuluh menit, Indah menelpon mamanya untuk ikut bergabung karena sebentar lagi Mathew akan segera naik ke kapal, tanpa menunggu lama, mama segera menghampiri indah dan merangkul bahu Indah memberikan kekuatan kepada anaknya, Lalu beberapa saat kemudian Mathew menghampiri Indah dan mamanya,


"Tante, saya pamit untuk bertugas, maafkan kesalahan Mathew selama ini baik yang disengaja ataupun tidak sengaja tante.., Mathew harap, tante mau memaafkan mathew dan menjaga Indah untuk mathew" ucap Mathew dengan suara yang sedih,


"Iyah Mathew, kamu nggak usa mikir yang macam - macam, kamu bertugas saja di sana dengan baik, dan jaga keselamatan selalu juga jangan putus kontak dengan kami yah, tante akan meninggalkan kalian berdua" ucap mama Indah, dan berlajan menjauh agar memberikan ruang privasi bagi anaknya dan Mathew,


"Kak..." lirih Indah

__ADS_1


"Adek... kesayangan kakak..., baik - baik disini.., tunggu kakak..., kakak akan pulang sembilan bulan lagi dan itu adalah waktu yang sangat lama sayang...," lirih Mathew,


"Sudahlah jangan dipikirkan, atau menghitung hari, jalani saja, nanti juga kita akan bersama lagi.." sambung Indah menguatkan Mathew


Mathew tidak memperdulikan lagi hiruk pikuk di sekelilingnya, terlihat beberapa istri dan anak yang menangis akan di tinggal oleh ayah dan suaminya, melihat emosi yang begitu menyayat hati Mathew tak kuasa menahan rasa sedihnya, Mathew meneteskan air mata, begitu pula dengan indah mereka berdua saling berpelukan dan Mathew mengecup lembut bibir Indah, "Tunggulah kakak sayang.." mohon Mathew,


Indah tak sanggup menjawab Mathew karena menangis sejadi - jadinya, Indah hanya menganggukkan kepalanya sampai terdengar suara panggilan untuk berbaris dan segera menaiki kapal, seluruh pasukan pun berlari untuk berbaris, tak terkecuali Mathew segera melepaskan pelukannya dari Indah dan mengikuti instruksi dari komandannya, lalu pasukan yang sudah berbaris rapi satu persatu menaiki tangga kapal dan berdiri di pinggir Dek serta melambaikan tangan ke arah seluruh pengantar - pengantar di dermaga, begitu pula dengan Mathew yang tak melepaskan pandangannya kepada Indah juga sebaliknya, setelah terdengar tiga kali suara pluit kapal, kapal mulai bergeser dari lokasi bersandarnya, dan pelan - pelan semakin menjauhi dermaga.


Orang di sekeliling dermaga histeris dan melambaikan tangan, namun Indah hanya menatap Mathew sampai akhirnya Mathew tak terjangkau dari pandangan mata Indah lagi, ketika semua orang telah meninggalkan dermaga tersebut, Indah masih berdiri mematung dan melihat kapal yang ditumpangi Mathew semakin menjauh dan hilang dari jangkauan matanya di telan garis laut.


"Ayo kita pulang" ajak mama,


"Iyah ma.." sahut Indah,


*


*


*


*bersambung,


Hai readers minta tolong bantu vote untuk novelku ini yah...,


juga jangan lupa Like dan coment,

__ADS_1


makasi semuanya*,


__ADS_2