Aku Adalah Indah

Aku Adalah Indah
Rivaldo


__ADS_3

(Indah....)


Libur Panjang kenaikan kelas hanya tinggal dua hari lagi, dan hari ini adalah hari terakhir kebersamaan Indah bersama Vany dan Maya, mereka saling berpamitan satu sama lain di bandara, rasanya sungguh berat bagi Indah berpisah lagi dengan Vany dan Maya yang menjadi semangatnya dalam beberapa hari ini,


"Van... May..., jangan lupa kontak - kontak aku yah..., " Indah sangat berat melepaskan kepergian kedua sahabatnya itu, setetes air mata yang dari tadi menggantung di pelupuk matanya langsung saja terjatuh bebas membasahi pipinya.


"Ndah.., Ingat pesanku yah..., kamu harus bahagia Ndah.., jangan mau menanggung beban yang belum waktunya, kita hanya anak remaja yang terlalu muda untuk menjadi dewasa," Ujar Maya menguatkan sahabatnya itu.


"Intinya Ndah.., sekali kali kamu harus egois untuk kebahagian mu sendiri, jangan lagi kamu kepikiran dengan teror - teror nggak jelas itu, apalagi sekarang Mathew juga sangat jarang menghubungi kamu" sambung Vany, ikut menguatkan Indah seperti Maya.


Benar juga selama liburan ini, Mathew beralasan sedang tugas di Pulau Komodo sehingga membuatnya susah untuk menghubungi Indah, biarlah kesendirian ini akan terisi dengan sosok pembanding yang lain, mungkin aku bisa menemukan kebahagian sesaat bila aku membuka hatiku kepada Rivaldo,


"Baiklah.., terima kasih untuk support kalian.." sahut Indah sambil memeluk kedua sahabatnya itu, sesaat kemudian Vany dan Maya masuk kedalam ruang tunggu di mana mereka akan bersiap - siap untuk melakukan perjalanan ke kota Malang tempat mereka menempuh pendidikan.


_________


Hari ini adalah hari pertama aku masuk kesekolah sebagai murid kelas dua SMA, rasanya sangat bahagia bisa berkumpul kembali dengan semua teman - temanku, terlebih bisa berkumpul bersama Lady dan yanti, yang selama dua pekan ini tidak berkomunikasi sama sekali, karena keduanya menghabiskan waktu bersama keluarganya masing - masing.


Ketika Indah melihat pembagian kelas yang baru, rasanya sungguh lega melihat barisan namanya masuk dalam satu kelas yang sama dengan Lady dan Yanti,


"Untunglah..aku tetap satu kelas dengan kalian" Ujarku penuh kebahagiaan,


"Iyah Ndah, aku juga bersyukur banget, aku kira kita bakalan terpisah" sahut Yanti penuh semangat, Hari ini Lady belum masuk sekolah karena belum pulang dari tempat liburannya.


*tlingg...tliiinggg...


(suara pesan singkat masuk dari nomor Rivaldo* )


"Hai Indah, hari ini pulang jam berapa? aku sekarang berada di sebelah sekolahanmu, apakah kita bisa bertemu?"


"Baiklah, aku keluar sekitar dua puluh menit lagi" balasku,

__ADS_1


"Aku tunggu yah Ndah" kembali Rivaldo membalas pesan singkat dari Indah,


Ternyata selama Indah mengetik pesan singkat itu, Yanti yang duduk di sampingnya melirik kearah layar ponsel Indah, "Ti,.., kamu nakal" Indah merasa malu dihadapan yanti,


"Bagus Ndah.., aku sangat tidak menyukai gaya pacaranmu dengan Mathew, di tambah lagi setelah mendengar ceritamu tentang teror nggak jelas dari wanita asing itu" Ternyata Yanti juga prihatin dengan keadaan Indah, dan mendukung Indah untuk membuka hatinya kepada orang lain.


"Benarkah? Kau tidak akan menghakimi aku?" tanyaku serius,


"Yah..., lakukan apa yang membuatmu bahagia" sambung Yanti, " Pergilah temui Valdomu, nanti informasi dari kelas akan ku sampaikan kepadamu, bersenang - senang sana.." Yanti malah mendukung Indah untuk bergegas menemui Rivaldo, dengan semangat Tinggi, Indah segera bergegas untuk turun dari gedung sekolahannya dan segera menemui Rivaldo yang sudah menantinya di sebuah warung tepat berada di sisi kiri gedung sekolah.


Indah berjalan melewati trotoar dan dari jauh tampak senyuman mengembang dari Rivaldo, senyuman itu juga di balas olehku, rasanya langkah kakiku berjalan sungguh ringan ketika melihat wajah Rivaldo yang sungguh ceria siang itu,


"Hai, Valdo" sapaku,


"Hai Ndah, sudah makan?" tanya Valdo sambil tersenyum manis, Oh Tuhan senyuman itu sungguh meneduhkan hatiku yang sedang galau kala itu, sungguh aku merasa bersalah kepada Mathew, namun rasa bersalah ini lebih besar kepada Rivaldo,


"Aku sudah makan tadi di kantin sekolah Val..., apakah kau sudah makan?" tanyaku,


"Yah udah, ayo,, aku temani kamu makan yah.., tapi aku hanya akan minum jus jeruk saja" sahutku, dan tampak Rivaldo tersenyum bahagia,


Setelah Valdo menyelesaikan makan siangnya, Valdo membuka pembicaraan yang romatis versi anak SMA kala itu,


"Indah.., maaf yah.., aku baru berani berbincang - bincang denganmu, setelah sekian lama kita saling mengenal" ini adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Valdo,


"Kenapa kamu takut?Apakah melihatku kamu merasa ketakutan seperti melihat hantu??" sungguh membingungkan, padahal aku tidak pernah bersikap jutek pada Rivaldo selama di bangku SMP, dan aku mencoba mencairkan suasana canggung itu dengan sedikit menggodanya,


"Iyah... sungguh menakutkan bagiku, tiap kali kamu lewat di hadapanku, jantung terasa mau meledaj Ndah" sambung Valdo sangat jujur,


Aku tersenyum mendengar jawabannya, Valdo menatap mataku cukup lama dan kami saling beradu pandang tanpa sanggup mengucapkan kalimat apapun, seketika Valdo menggapai telapak tanganku dan menggenggam erat jemariku, jantungku berrdetak cukup kencang, aku merasa sedikit gerogi kekita telapak tangan kami saling bersentuhan,


"Ndah..., aku sangat menyukaimu,," Ucap Valdo dengan serius,

__ADS_1


"Sejak kapan?" tanyaku penasaran,


"Sejak pertama kali aku melihatmu masuk menjadi anak bari di kelas kita" jawab Valdo, kurasakan tangannya juga sedikit bergetar dan keringat membasahi tangannya,


"Jika sejak pertama kamu menyukaiku, lalu mengapa kamu pacaran sama Lala?" tanyaku keheranan,


"Karena aku keduluan sama Patrict," Valdo diam sejenak, "Tapi kini aku sudah perduli lagi siapapun sainganku, aku akan tetap mengungkapkan perasaanku padamu Ndah.., aku sangat menyukaimu" lanjut Valdo,


Aku menanggapinya dengan senyuman dan berusaha untuk tenang, serta tidaj ingin terlihat gerogi dihadapan Valdo, yang kala itu terlihat sungguh serius,


"Ndah..., aku ingin kamu menjadi pacarku.., maukah kau menjadi kekasihku?" Wajah Valdo penuh harap, bahkan pemilik warung melihat kami berbincang dengab tersipu malu, Oh Tuhan... rasanya aku lebih malu,


"Kamu boleh memikirkannya beberapa saat sebelum memberikan aku jawaban Ndah.." Valdo seakan tidak ingin aku salah mengambil keputusan, tapi tanpa berpikir panjang, dan hati ini sudah menahan rasa bahagia,


"Aku mau Val.." jawabku tegas, Terlihat Valdo begitu kaget, matanya terbelalak membulat sempurna, dan tersenyum lebar hingga gigi gingsulnya terlihat sungguh manis,


"Serius?!!" tanya Valdo, untuk meyakinkan diri, Aku menganggukkan kepalaku dan Valdo mencium punggunh telapak tanganku,


"Makasi sayang..., ayo.., aku antar pulang" ajak Valdo, dan aku menyetujuinya


Itu adalah hari pertama aku berani membuka hatiku untuk teman masa SMP ku yang kini menjadi kekasihku, dikala aku juga menjalin hubunganku dengan Kak Mathew. Namun aku bertekad untuk menjaga hubunganku dengan Rivaldo dan melepaskan Mathew untuk manita misteriusnya yang selalu saja menerorku tiada henti.


*


*


*


*


bersambung

__ADS_1


__ADS_2