Aku Adalah Indah

Aku Adalah Indah
Menghujam Jantungku


__ADS_3

(Monolog Indah)


"Roy..., apa yang harus aku lakukan bila begini Roy..." tanyaku kepada Roy,


"Bukankah kamu ingin lepas dari Mathew? sekarang sudah ada kesempatan terus kenapa kamu malah tidak mau melepaskan Mathew? jangan bikin aku bingung deh Ndah?" Roy heran dengan sikapku yang di anggapnya plin plan, namun Roy tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Iyah Roy, aku akan segera melepasnya jika mamaku sudah mendapatkan pengganti untuk Mathew." jawabku lirih,


"Apa??!!! Indah jangan bilang..." Roy menatap mataku dengan iba,


"Iyah..., persis seperti apa yang kamu pikirkan" jawabku,


"Ndah... aku akan berusaha membuatmu lepas dari cengkeraman mamamu dan Mathew" jawab Roy menahan rasa kesal,


"Jangan menambah beban dihidupmu hanya karena aku Roy, masa depanku masih panjang, aku baru SMA dan aku akan menentukan pilihan hidupku kelak ketika aku mampu" hatiku remuk mengingat apa yang terjadi terhadap diriku sendiri,


"Tapi Indah..."


"Stop Roy, aku tidak mungkin bisa menjadi masa depanmu, tugasmu sekarang adalah kamu harus meninggalkan gaya hidupmu yang nggak jelas ini Roy, selesaikan kuliahmu secepatnya dan carilah pekerjaan yang baik, ingat kamu harus lebih dulu membahagaian mamamu yang sekarang hanya seorang janda, jangan harap kamu bisa membahagiakan aku jika kamu belum berhasil membahagiakan mamamu" pesanku tulus kepada Roy, seperti roy yang juga tulus menyayangi aku,


"Mungkin kita tidak ditakdirkan menjadi sepasang kekasih Indah, tapi kita bisa menjadi saudara.." lirih Roy sambil merangkulku,


"Iyah Roy, kamu bisa menjadi kakakku..., terima kasih untuk kebaikanmu.." aku tersenyum kepadanya,


"Lalu bagaimana dengan Jack?" tanya Roy,


"Hhhhhmmm...., sudahlah Roy, aku tidak mau menyusahkan anak itu lagi, dia terlalu baik untukku, dan derajat keluargaku berbeda dengannya, dia dari keluarga pejabat sedangkan papaku??, kontraktor bangkrut Roy, kami tidak sepadan, dan cara mamanya memandangku seperti memandang seekor kecoak, hehehee..." air mataku jatuh,


"Aku akan bicara dengan anak itu," potong Roy,


"Kalau kamu berani berbicara dengan Jack, Roy..., kau tidak akan pernah bertemu denganku lagi, selamanya!" tegasku,


"Lalu kamu akan membiarkan dirimu tersiksa,??" tanya Roy merasa prihatin dengan keputusanku,

__ADS_1


"Nggak lah..., aku akan bahagia, hanya menunggu waktu saja" aku tersenyum optimis di hadapan Roy,


"Yah sudah aku antar kamu pulang sekarang yah..." ajak Roy,


"Nggak usa, aku mau ke asrama ketemu sama Kak Mathew tadi sudah janjian" jawabku,


"Yah sudah aku antar kamu ke Asramanya Mathew" ajaknya,


"Iyah, makasi yah..." kami segera bergegas ke asramanya kak Mathew dan Roy meninggalkanku sendiri serta melanjutkan perjalanannya,


Aku berjalan menyusuri Barak keluarga yang berada pada Asrama tersebut menuju ke Barak Bujang tempatnya beristirahay, setelah sampai aku bertemu dengan Kak Alen, salah satu teman kak Mathew yang juga baik kepadaku,


"Mau cari Mathew ndah?" tanya Kak Alen,


"Iyah kak.." jawabku singkat,


"Ayo kakak antar, biar nggak di goda - godain sama teman - teman yang lain" ajaknya,


"Baiklah terima kasih kak.." jawabku, dan aku mengikuti Kak alen menuju ke kamar kak Mathew, seelah kudengar suara kak Mathew yang menyahuti panggilan Kak Alen, aku bergegas membuka pintu kamarnya sesuai perintah Kak Mathew,


"Adek..., maafkan kakak..., tolong jangan potong pembicaraan kakak, dengarkan kakak baik - baik" pintanya, dan aku menganggukkan kepalaku kepadanya,


"Adek, maafkan kakak..., maafkan kakak yang sudah mengambil mahkota milikmu, kakak berjanji akan bertanggung jawab sama adek, dan mengenai mamamu, sumpah!!! sumpah ndah..., kakak hanya bergurau, kakak tidak bermaksud mengancam, adek lihat kan? kakak pas ngomong sambil ketawa - ketawa, sumpah kakak nggak ada maksud apa - apa" lalu Mathew diam sejenak, "Untuk masalah di Pulau A, memang benar ada perempuan yang menjebak kakak, tapi kami tidak sampai melakukan hubungan intim, kakak bersumpah, maafkan kakak menyakiti hati kamu, kakak janji tidak akan ulang lagi, asal adek mau tetap sama kakak...mau setia sama kakak disini..." pintanya dan kulihat airmata jatuh di pipi Kak Mathew, Aku sungguh heran melihat Mathew menangis di depan ku, sungguh suatu pemandangan yang membuatku gagal fokus,


"Tolong dek, sekarang tolong jawab atau tanggapi apa yang barusan kakak ungkapkan" pintanya seraya memegang kedua tanganku, aku pun menghela nafasku dengan berat,


"Huuuuuufttttt, Sampai kapanpun aku tidak akan bisa memaafkan kejahatanmu yang sudah menghancurkan masa depanku kak..., tapi rasa benciku terhadap sikapmu kalah dengan besarnya cintaku sama kamu kak, itu yang pertama, dan yang kedua soal mama...., aku tidak tau deal deal lan apa yang kalian rundingkan di belakangku kak?!! mulai dari uang bulanan hingga yang lain - lain, aku tidak bisa menilai apa - apa soal kasus mama dan ucapanmu itu, dan yang terakhir sebelum ku jawab masalahmu di Pulau A, kakak harus jujur sama ku" aku menatap matanya dengan tajam,


"Iyah, kakak akan jujur" jawabnya dan menguatkan pegangan tangannya di telapak tanganku,


"Sejujur - jujurnya!! dan aku tidak mau melihat kakak berpikir lama - lama saat aku melontarkan pertanyaan - pertanyaan." pintaku dengan tegas.


"Iyah, kakak janji adek" jawabnya

__ADS_1


"Okay, Indah mau tanya, apakah benar kakak pernah berpacaran di Kota dingin dengan dua orang wanita berbeda sesuai dengan cerita Kak theo?"


"Iyah benar" jawabnya singkat, Hatiku hancur lebur, namun aku menahannya


"Apakah benar di Pulau A kakak menjalin hubungan singkat dengan seorang wanita di sana sesuai cerita sepupuku?"


"Iyah benar" lagi dia menjawab pertanyaanku, kini air mataku mulai keluar, namun aku kembali berusaha tegar,


"Berapa kali kakak berhubungan intim dengan wanita di Pulau A sampai kejadian penggebrekkan kemarin?"


"Tiga kali, dan yang terakhir belum sempat melakukan hubungan intim" kembalu dia menjawab dengan jujur,


Kini aku melepaskan tanganku dari tangannya dengan kasar, aku sungguh emosional, aku memukul Kak Mathew sekeras - kerasnya karena emosiku meluap - luap, dan Kak Mathew hanya diam menerima semua amarahku,


"Bahkan di saat kau mengungkapkan isi hatimu, kau masih menyembunyikan semua kebenaran dan bila aku tidak menekan mu seperti ini, maka selamanya kau akan membodohi dan membohongiku.." tuturku sambil terisak - isak,


"Kenapa kamu tega kak??" tanyaku, Mathew ikut menangis dan sadar bila aku akan segera meninggalkannya, dia langsung memelukku


"Maafkan kakak dek..., maafkan, jangan tinggalkan kakak, maafkan kakak..." pintanya


Aku langsung membersihkan air mataku, dengan berusaha tegar aku menahan rasa sakit hatiku,


"Indah akan memaafkan kakak kali ini, dan Indah akan memberikan kakak kesempatan terakhir dan juga kesetiaan untuk kakak, kita akan sama - sama membuktikan siapa yang sebenarnya lebih setia, dan bila terjadi lagi hal serupa seperti ini, kakak sudah tau jawabannya dan artinya bila masa depanku hancur kelak, semua berakar dari kakak!! karena kakaklah yang sudah merusak aku!" tegasku dan bergegas meninggalkan Mathew untuk mengobati luka hati.


Mathew berusaha menahanku, tapi aku dengan kasar menolaknya, dan Kak Mathew membiarkanku pergi, aku pun berjalan keluar dari asrama itu dengan air mata yang terus mengalir tiada henti, tanpa memperdulikan orang disekitar aku beranjak menuju ke rumahku, aku menelpon Roy untuk menjemputku dan Roy bergegas datang hanya butuh waktu sepuluh menit sampai Roy mendapatiku menangis di trotoar depan asrama,


Roy tidak bertanya apapun kepadaku, di perjalanan kami diam seribu bahasa, dan setelah sampai di rumah Roy hanya berpesan " Jadilah adikku yang kuat Indah.." Sahutnya sambil tersenyum,


"Terima Kasih Roy.." jawabku


*


*

__ADS_1


*


bersambung


__ADS_2