Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Hamil


__ADS_3

''Jadi, begini.....Ayu sehat, tetapi mungkin Ayu hamil. Usia kandungannya satu bulan, jangan banyak fikiran. Kandungan nya sangat lemah, jika terus tertekan nanti bisa keguguran.''Ucap Bu Ani.


''Apa? Mungkin Bu Ani salah, nggak mungkin anak saya hamil.'' Ucap Bu Asri dengan suara serak.


''Kalo, ibu dan bapak tidak percaya. Bisa lengsung dibawa kerumah sakit.'' Ucap Bu Ani.


''Iya, terima kasih Bu bidan.'' Ucap Pak Yoka.


''Sama-sama.'' Ucap Bu Ani.


''Saran saya, kalo ibu dan bapak tidak keberatan bisa di tes pak kerumah sakit.'' Ucap Bu Ani.


''Iya Bu.'' Jawab pak Yoka.


''Saya pamit dulu, Bu pak.'' Pamit Bu Ani. Lalu, melangkah keluar rumah.


''Yah, kita gagal yah.'' Ucap Bu Asri dengan menangis. Pak Yoka mendekap tubuh istrinya, pak Yoka sangat kecewa pada Ayu.


''Ibu! Kenapa bu?.'' Tanya Putri. Dia bingung kenapa ibunya menangis, dan ayahnya pun terlihat sangat sedih.


''Masukan semua pakaian kakak mu, kedalam koper.'' Perintah pak Yoka.


''Kenapa yah? Apa kak Ayu sakit parah?'' Tanya Putri masih bingung, ada apa dengan kedua orang tua nya.


''Cepat! Jangan banyak bertanya.'' Bentak pak Yoka pada Putri. Putri mengangguk. Lalu dia masuk kamar, memasukkan semua pakaian kakaknya kedalam koper.


''Ini, bajunya udah Putri masukin semua yah.'' Ucap Putri ketakutan. Baru kali ini, dia melihat ayahnya marah.


''Coba lihat kakak mu, sudah bangun apa belum.'' Ucap pak Yoka dengan datar.


''Iya, yah.'' Jawab Putri. Langsung masuk kamar kakaknya.


''Kak, udah sadar.'' Ucap Putri menghampiri sang kakak.

__ADS_1


''Iya.'' Jawab Ayu.


''Kak, disuruh ayah keluar.'' Ucap Putri.


''Sekarang?''Tanya Ayu. Putri mengangguk. Lalu Putri membantu kakak nya, lalu mereka keluar kamar.


Plak!


''Keterlaluan kamu! Mau ditarok dimana muka ku, kalo semua orang tahu kamu hamil. Hah! Kamu itu hanya buat malu keluarga. Pergi dari rumah ku, saya bukan ayah mu lagi! '' Ucap Yoka dengan emosi.


''Maafin Ayu yah, Ayu nggak sengaja.'' Ucap Ayu dengan menangis.


'' Pergi!'' Bentak pak Yoka.


''Ayu mohon yah, jangan usir Ayu. Ayu harus pergi kemana?'' Ayu memohon pada sang ayah.


''Dengar! Aku bukan ayahmu lagi. Aku malu punya anak yang nggak bisa jaga diri, aku udah nggak mau tahu lagi sama kamu.'' Ucap pak Yoka dengan garang.


''Bu, bantu Ayu bu.'' Ayu memohon pada ibunya. Sang ibu hanya menangis, tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu, sang ayah menyeret Ayu keluar dari rumah.


Blam!


Pintu ditutup oleh ayahnya, Ayu melangkahkan kakinya, entah kemana. Dia tidak tahu harus kemana.


'' Apa aku nelfon Irna, mungkin dia belum pulang.'' Ucap Ayu dengan menghapus air mata nya.


Ayu


(Ir, jemput gue)


Irna


(...)

__ADS_1


Ayu


(Lo, masih di sinikan?)


Irna


(...)


Ayu


(Gue, dideket rumah mbok jum)


Irna


(...)


Ayu


(Iya)


''Nanti, kalau sampai Putra nggak mau tanggung jawab gimana? Apa gue kerumah Putra aja? Tapi, gue nggak tahu alamatnya, oh iya, gue kan punya nomor Rifki. Nanti, kalo gue udah sampai baru gue hubungin.'' Ucap Ayu. Sebenarnya, Ayu sangat lemas, dan kepalanya pun sangat pusing. Dia ingin merebahkan tubuhnya, tetapi direbahkan dimana? Putra tidak bisa dihubungi, bahkan mau menikah dengan orang lain.


''Ayu!'' Panggil Irna. Ayu menoleh langsung memeluk sang sahabat, Ayu menangis. Irna dan Zainal bingung, ada apa dengan sahabat nya. Cukup lama mereka berpelukan.


''Udah mulai tenang belum?'' Tanya Irna. Ayu mengaguk.


''Cerita! Kenapa Lo nangis?'' Tanya Irna.


''Nanti, kalo kita udah di kontrakan.'' Jawab Ayu.


''Apa? Kita sekarang masih disini, bukan di kota.'' Ucap Irna.


''Kita pulang ya?'' Ucap Ayu. Irna melihat Zainal, Zainal menggunakan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung.............


__ADS_2