
"Ayu mana, ya? Kok dari tadi belum balik-balik." Arnold melihat kanan kiri. Lalu dia berdiri melangkah keluar. Tapi tidak ada Ayu.
"Apa sama, Irna?" Batin Arnold bertanya-tanya.
"Arnold!" panggil Irna.
"Ayu mana, Kak?" tanya Arnold.
"Loh. Bukannya sama Lo tadi." Irna mengerutkan keningnya.
"Iya. Katanya dia ke toilet. Tapi sampek sekarang kok belum balik-balik, ya?" ucap Arnold.
"Ya udah. Coba gue cari ke toilet. Lo tunggu disini." ucap Irna. Arnold mengangguk. Lalu Irna melangkah pergi. Arnold menelfon Ayu tapi nomornya tidak aktif.
"Ayu nggak ada di toilet." ucap Irna.
"Kemana, ya? Gue telfon juga nggak aktif." ucap Arnold.
"Haduh. Gue takut kalo dia kenapa-napa, Ar." ucap Irna panik.
"Ya udah. Gue cari kekontrakan aja. Siapa tahu dia pulang." ucap Arnold.
"Gue ikut." ucap Irna.
"Ya udah. Lo izin dulu sama, Zainal. Biar dia nggak nyariin lo." ucap Arnold.
"Iya." Irna melangkah mencari Zainal. Tak berapa lama, Irna kembali dengan Zainal.
"Ayo, Ar." Mereka melangkah menuju mobil.
"Arnold. Mobil lo tinggal disini dulu aja." ucap Zainal. Arnold mengangguk. Lalu mereka bertiga masuk mobil.
...***...
"Yah. Ibu rindu sekali sama, Ayu." ucap Bu Asri.
"Iya. Ayah sebenernya juga rindu sekali, Bu." sahut pak Yoka.
"Gimana kabarnya Ayu, Yah?" tanya bu Asri.
"Alhamdulillah. Kata Irna dia baik-baik aja, Bu." jawab pak Yoka.
__ADS_1
"Gimana sama kandungan nya?" tanya bu Asri.
"Baik juga." jawab pak Yoka.
"Beberapa hari ini, perasaan ibu nggak enak. Ibu takut kalo Ayu kenapa-kenapa, Yah." ucap bu Asri.
"Ibu berdoa aja. Semoga anak kita nggak kenapa-kenapa, Bu." ucap pak Yoka.
"Iya. Semoga anak-anak kita baik-baik aja." ucap bu Asri.
"Yah. Apa kita suruh, Ayu pulang aja kesini?" tanya bu Asri.
"Biarin dulu dia disana, Bu. Biar dia tahu, gimana rasanya." jawab pak Yoka.
"Nanti, kalo sudah waktunya pulang. Ayah sendiri yang jemput Ayu." tambah pak Yoka.
"Iya, Yah." ucap bu Asri
...***...
"Kaya nya Ayu nggak ada deh. Soalnya pintunya masih kekunci ini." ucap Zainal. Irna ngambil kunci diatas pintu. Lalu, membuka pintu kontrakan.
"Yu. Ayu!" Irna masuk kamar. Arnold masuk kamar mandi dan dapur. Sedangkan Zainal mencari dibelakang rumah.
"Di kamar mandi nggak ada." ucap Arnold.
"Di belakang, samping kanan kiri nggak ada." ucap Zainal.
"Di kamar juga nggak ada." ucap Irna lesu.
"Kemana ya?" Irna berfikir keras.
"Biasanya kalo dia lagi ada masalah kemana?" tanya Zainal.
"Biasanya cuma di kontrakan." jawab Irna.
"Mmmm. Gimana kalo kita cari ke cafe. Siapa tahu dia ada disana, untuk menenangkan pikiran." usul Zainal.
"Tapi, biasanya kalo ada masalah itu ke tempat yang sepi. Jadi nggak mungkin ke cafe." ucap Arnold.
"Iya juga sih." ucap Irna.
__ADS_1
"Apa sama, Ana sama Rifki?" ucap Arnold.
"Nggak mungkin. Tadi gue lihat, Rifki sama Ana. Masih ada disana kok." sahut Zainal.
"Ya udah. Kita coba ke kafe-kafe, siapa tahu beneran ada disana." ucap Arnold.
"Ya udah. Ayo, buruan." ucap Irna. Lalu mereka pergi menuju kafe.
...***...
"Setop. sudah sampek." ucap Ayu. Lalu dia turun dari motor.
"Neng. Saya temenin, ya?" ucap abang tukang ojek.
"Saya nggak perlu temen." jawab Ayu.
"Neng. Jangan berbuat macam-macam, ya. Kamu lagi hamil, loh." ucap tukang ojek.
"Kok tahu saya lagi hamil?" Ayu mengerutkan keningnya.
"Itu. Perutnya buncit." jawab tukang ojek.
"Oh. Saya nggak akan macam-macam. Udah sana, abang pulang aja." ucap Ayu.
"Emang nggak takut. Disini angker loh, Neng." ucap tukang ojek.
"Saya nggak takut." ucap Ayu.
"Ya udah. Nanti kalo mau pulang kabari saya aja, ya." ucap tukang ojek.
"Mana nomer hp nya?" ucap Ayu.
"Ini." abang tukang ojek memberikan nomer hp nya.
"Udah. Nanti kalo saya mau pulang, saya kabari abang." ucap Ayu.
"Iya. Jangan aneh-aneh, ya." ucap tukang ojek.
"Iya. Tukang ojek nyebelin." ucap Ayu.
"Ya udah. Saya pulang dulu." Tukang ojek itu pergi.
__ADS_1
"Dasar tukang ojek nyebelin." ucap Ayu.
Bersambung........