Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Keguguran (1)


__ADS_3

Satu bulan berlalu, setelah kejadian Ayu menghilang waktu itu, Ayu jarang sekali keluar dari kontrakan. Kecuali bekerja di toko Pak Ridwan. Seperti pagi ini, Ayu di ajak oleh Irna keluar rumah.


''Yu, keluar ke kafe, yuk,'' ucap Irna. Ayu menggeleng.


''Kenapa?'' tanya Irna. ''Beberapa hari ini, lo nggak pernah keluar rumah,'' lanjut Irna.


''Beberapa hari ini, perut gue suka kram, Ir. Takut di jalan ada apa-apa.'' jawab Ayu.


''Apa? Kok bisa?'' tanya Irna terkejut.


''Nggak tahu, Ir. Perasaan gue makan juga nggak yang aneh-aneh, sayur, buah, susu juga nggak ketinggalan.'' jawab Ayu.


''Kenapa, ya? Kita ke klinik aja, yuk,''


''Nggak lah. Mungkin sekarang sudah semakin besar kali, ya?'' ucap Ayu sambil mengusap perutnya yang sedikit buncit.


''Iya. Lo 'kan udah masuk empat bulan.'' sahut Irna.


''Kalo lo mau ke kafe, sama Zainal aja.'' ucap Ayu. Irna menggeleng. ''Nggak ah, gue sama lo aja di rumah, takut kalau ada apa-apa.'' sahut Irna.


''Ya sudah. Terserah lo saja, Ir.'' ucap Ayu. Irna mangut-mangut.


...****************...


''Irna!'' teriak Ayu dari dalam kamar mandi. Irna bangkit dari ranjang, keluar kamar menuju kamar mandi.

__ADS_1


Tok tok tok! Irna mengetuk pintu kamar mandi.


''Yu, kenapa?''


''Tolong gue, Ir.'' sahut Ayu dari dalam kamar mandi sambil merintih kesakitan.


''Buka pintunya, Yu.'' ucap Irna panik.


''Nggak bisa, Ir. Tolong gue. Aduhh, sakit!''


''Sebentar, ya, gue cari kunci kamar mandi.'' Irna masuk kamar mencari kunci di meja. ''Ini dia ketemu,'' Irna keluar kamar menuju kamar mandi. Lalu membuka pintu kamar mandi.


''Astagfirullah, Ayu!'' Irna terkejut melihat Ayu duduk di lantai kamar mandi sambil memegangi perutnya.


''Hiks...hiks...Hiks, sakit, Ir.'' ucap Ayu merintih kesakitan. Irna membantu Ayu berdiri.


''Ya ampun! Yu, lo pendarahan. Lo tidur disini dulu, gue hubungin, Zainal.'' ucap Irna. Ayu mengangguk. Irna mencari hp nya di laci meja rias, setelah hp nya ketemu, Irna menghubungi Zainal. Tetapi tidak di angkat. Irna mencoba hubungi Rifki, tetapi sama saja tidak diangkat.


''Sialan, kemana manusia-manusia ini.'' ucap Irna geram. Irna melihat Ayu sedang merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Wajahnya sudah di penuhi keringat. Irna mengusap keringat di wajah Ayu.


''Nomor Arnold gue nggak punya. Apa gue minta bantuan, Putra aja?'' batin Irna. Tanpa pikir panjang Irna menghubungi Putra.


''Halo, kenapa, Ir?'' ucap suara di sebrang.


''Mmmm, lo sibuk nggak?''

__ADS_1


''Nggak sih, kenapa?''


''Bisa bantuin, gue?''


''Bantu apa?''


''Ayu tadi jatuh dari kamar mandi, sekarang perutnya sa....'' Tut tut tut....Irna belum selesai berbicara, Putra memutuskan panggilan secara sepihak.


''Sial*An. Awas aja lo, Put." ucap Irna geram sambil menggenggam erat hp nya. Irna menghampiri Ayu di ranjang. Dia tidak tega melihat Ayu merintih begini, apalagi sudah banyak sekali darah yang keluar.


"Masih sakit, ya?" tanya Irna. Ayu mengangguk.


"Sabar dulu, ya. Gue cari bantuan dulu." Ayu mengangguk. Irna keluar dari kamar. Dia hendak ke rumah tetangga meminta bantuan. Irna berhenti di depan pintu, melihat mobil warna hitam ada di depan kontrakan nya. Ada seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut.


"Mana, Ayu?" tanya laki-laki itu.


"Ada di kamar." jawab Irna. Laki-laki itu masuk kedalam menuju kamar. Laki-laki itu langsung membopong tubuh Ayu keluar kamar menuju mobilnya. Ayu memandang laki-laki itu nanar, sebenarnya Ayu ingin menolak. Tetapi karna rasa sakitnya yang luar biasa dia tak sanggup berbicara.


"Irna! Lo mau disitu selamanya?" teriak laki-laki itu. Irna sadar dari lamunannya.


"Ehhh, gue ikut, Put." ucap Irna sambil lari menuju mobil Putra. Ya, laki-laki itu adalah Putra.


Blam! Irna masuk mobil. Putra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Putra sesekali melirik Ayu. Sebenarnya Putra ingin menangis melihat Ayu merintih kesakitan seperti ini. Tetapi ia tahan air matanya, dia tidak ingin menangis di depan Irna. Ada rasa takut kehilangan anak yang di kandung Ayu. Mau bagaimana pun, yang di kandung Ayu adalah anaknya. Putra meraih tangan Ayu, dia genggam erat tangan Ayu, dan sesekali mencium nya.


Setibanya di rumah sakit, Ayu langsung di tangani oleh dokter yang bertugas. Irna dan Putra menanti dengan gelisah di luar ruangan, mereka berdua berharap Ayu dan bayi nya selamat.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen, ya!😘


__ADS_2