Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Kenapa perasaan itu datang lagi.


__ADS_3

"Motor siapa, nih?" tanya Zainal.


"Nggak tahu." jawab Irna.


"Nggak biasanya ada motor." ucap Zainal. Irna dan Zainal masuk rumah.


"Assalamualaikum." Salam Irna.


"Wa'alaikumsalam." jawab Ayu. Irna memandang, Arnold dengan tatapan bingung.


"Oh iya. Kenalin, ini sahabat aku, Irna sama Zainal." ucap Ayu.


"Arnold." Berjabat tangan.


"Zainal." Zainal membalas nya.


"Irna." Irna tersenyum.


"Udah lama?" tanya Zainal.


"Udah. Ini juga udah mau pulang." jawab Arnold.


"Nggak mau ngobrol dulu sama gue?" tanya Zainal.


"Kapan-kapan, bro." Arnold tersenyum.


"Ya udah. Gue pulang dulu." pamit Arnold.


"Hati-hati." Ayu tersenyum. Lalu Arnold keluar rumah.


"Gue kek pernah liat itu, cowok." ucap Zainal.


"Di mana?" tanya Irna penasaran.


"Halah, Zainal. Lo dengerin, Ir." ucap Ayu.


"Dimana, sayang?" tanya Irna.


"Di jalan." jawab Zainal.


"Kamu nih, serius kenapa." Irna mengerucutkan bibirnya.


"Serius aku." ucap Zainal.


"Hahaha." Ayu tertawa.


"Siapa itu, Yu?" tanya Zainal.


"Anak manusia." jawab Ayu.


"Ya tahu. Temen apa calon pacar?" tanya Zainal.

__ADS_1


"Temen." jawab Ayu.


"Temen hidup." ucap Zainal.


"Iya lah." ucap Ayu.


"Serius lu, yu?" tanya Irna.


"Serius lah." jawab Ayu.


"Lah, kenapa nggak pernah cerita?" tanya Irna.


"Masa gitu aja harus cerita, Ir." jawab Ayu.


"Jadi,lo udah bisa move on dari, Putra?" tanya Zainal.


"Apaan sih lo, Nal." ucap Ayu.


"Yu. Lo beneran udah pacaran sama tuh cowok?" tanya Irna.


"Ayu. Kalo lo mau cari pacar harus yang bener, jangan yang modelan kek cowok tadi." ucap Zainal.


"Iya. Gue bisa cariin lo cowok yang lebih baik dari cowok tadi." ucap Irna.


"Makin ngelantur ini orang. Dengerin, ya. Irna dan Zainal. Gue nggak pernah pacaran sama tuh orang, dan kapan gue bilang jadian sama, Arnold." ucap Ayu.


"Tadi, waktu gue tanya, temen hidup. lu jawab nya, iya." ucap Zainal.


"Kalo mati ya nggak bisa lah." ucap Ayu. Lalu, Ayu berdiri masuk kamar.


"Ya udah lah. Aku pulang dulu, nanti aku kesini habis magrib, ya." ucap Zainal. Irna mengangguk. Zainal keluar rumah menuju mobilnya.


...***...


"Put. Bukannya sih, Irna. Sahabatnya, Ayu?" tanya Jihan.


Putra mengangguk. "Kenapa emang nya?" tanya Jihan.


"Nggak pa-pa. " jawab Jihan.


"Aku pulang dulu, udah sore." Putra berdiri.


"Ngapain pulang? Sebentar lagi kan pengajian pernikahan kita." ucap Jihan.


"Semua orang tau nya kita itu belum nikah, Jihan." Putra meninggalkan Jihan begitu saja.


"PMS kali sih, Putra." ucap Jihan.


Blam! Putra menutup pintu mobilnya.


"Aaaaa. Kenapa perasaan itu datang lagi." Putra memukul setir mobilnya. Lalu, dia melajukan mobilnya.

__ADS_1


...***...


Ayu memperhatikan, Irna.


"Mau kemana, ir?" tanya Ayu.


"Gue, mau ke....."


"Mau ke tempat, Jihan." ucap Ayu. Irna mengangguk.


"Gitu aja kok lama, jawab nya." ucap Ayu.


"Jangan marah, ya." ucap Irna.


"Nggak lah. Kenapa harus marah." ucap Ayu.


"Jangan sedih, ya." ucap Irna.


"Iya. Nggak akan, bawel." ucap Ayu.


"Mau nitip apa?" tanya Irna.


"Nitip apa?" Ayu mengerutkan keningnya.


"Ya, siapa tahu. Mau nitip jajan atau apa gitu." ucap Irna.


"Nitip lo hati-hati di jalan." ucap Ayu.


"Iya, sayang." Irna tersenyum.


"Ya udah. Gue mau berangkat dulu." ucap Irna.


"Peluk dulu." Ayu merentangkan kedua tangannya.


"Lebay." Cibir Irna. Ayu tertawa. Lalu, dia keluar kamar.


Ceklek! Irna membuka pintu. Lalu menutup nya kembali.


"Maa Syaa ALLAH. Cantik banget." Puji Zainal.


"Masa sih." Irna tersipu.


"Iya. Kamu cantik, kalo pakek jilbab." ucap Zainal.


"Berarti biasanya jelek, iya?" Irna melotot.


"Nggak. Biasanya juga cantik kok." ucap Zainal.


"Bohong, ya?" Tanya Irna.


Zainal menggeleng. "Ya udah. Mari masuk, tuan putri." Zainal membukakan pintu mobil.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2