
''Ayu. Makan dulu!''Teriak Irna.
"Iya."Jawab Ayu.
"Enak banget kayak nya."Tambah Ayu sambil menyedok nasi ke dalam piring. Ayu melahap makanan nya habis tak tersisa.
"Tumben Lo, masak nya enak."Ucap Ayu.
"Kalo gue yang masak, pasti enak."Ucap Irna dengan cemberut.
"Mana ada. Baru kali ini, ah."Ucap Ayu.
"Lu tuh, yang masakan nya nggak enak."Ucap Irna.
"Hahaha."Ayu tertawa terbahak-bahak.
"Males gue, masak lagi!"Ucap Irna.
"Jangan gitu, dong."Ucap Ayu.
"Males, gue."Ucap Irna.
"Iya deh. Masakan Irna, paling enak."Ucap Ayu sambil mengacungkan kedua jempol nya.
"Bodo amat. Gue mau kerja."Ucap Irna.
"Emang nggak libur, Ir?"Tanya Ayu.
"Enggak lah."Jawab Irna.
"Kok pulang?"Tanya Ayu.
"Niatnya mau ambil barang. Tapi liat lo nangis, jadi nggak jadi."Jawab Irna.
"Maaf, ya."Ucap Ayu.
"Nggak pa-pa."Ucap Irna.
"Pasti di marahin sama, pak Ridwan."Ucap Ayu.
"Nggak. Gue udah izin, kalo lo sakit."Ucap Irna.
"Kan gue, nggak sakit."Ucap Ayu.
__ADS_1
"Ya, biar di izinin."Ucap Irna.
"Oh."Ucap Ayu.
"Ya udah. Gue ke toko dulu."Pamit Irna. Ayu menuangkan air ke gelas.
Ting! Belum sempat Ayu minum, hp yang terletak di atas meja makan bunyi. Ayu melihat hp nya.
"Nomor baru, siapa ya?"Ucap Ayu.
08**********
(Jangan berani lagi lo, datengin Putra lagi!)
"Siapa ya?"Ucap Ayu bingung. Ayu membalas pesan tersebut.
Ayu
(Maaf, siapa ya?)
Nomor tak dikenal
(Gue istrinya, Putra!)
Ayu
Nomor tak dikenal
(Iya. Awas lo! Kalo berani datengin, Putra.)
Ayu
(Maaf. Tapi, gue mau minta tanggung jawab dari Putra. Dan gue nggak tahu kalo Lo itu istrinya.)
Nomor tak dikenal
(Dasar pelakor, murahan, nggak usah genit-genit sama laki gue)
Ayu
(Gue bukan pelakor! Gue nggak pernah tahu Putra udah punya istri.)
Nomor tak dikenal
__ADS_1
(Emang dasar cewek murahan. Inget! Jangan pernah lo temuin, Putra lagi!)
Ayu hanya membaca pesan dari Jihan, tidak berniat membalas nya. Ayu meletakan hp nya di atas meja.
"Sampai kapan pun, gue tetep minta tanggung jawab, Putra! Dia yang berbuat, maka harus dia juga yang tanggung jawab! Kasian anak gue, kalo nggak punya ayah. Gimana nanti kalo dia udah besar?"Batin Ayu. Ayu masuk ke kamar. Dia duduk di dekat jendela. Di luar hujan deras sekali.
"Kangen ayah, ibu, sama Putri. Apa kabar ya? Semoga sehat semua. Ayah, ibu. Ayu kangen. Ayu pengen curhat sama ibu, maafin Ayu, nggak bisa jadi anak yang baik, Ayu gagal buat ayah sama ibu bangga. Ayu buat ayah sama ibu malu. Maafin Ayu Bu, yah. Ayu gagal jadi kakak yang baik buat Putri. Maafin Ayu." Ucap Ayu dengan terisak.
...***...
"Sayang. Aku mau yang ini." Ucap Jihan.
"Terserah." Ucap Putra. Mereka sedang memilih gaun pengantin, karna sebentar lagi mereka akan mengadakan resepsi pernikahan nya.
"Kok terserah sih, Put?"Ucap Jihan.
"Bagus yang mana?"Tambah Jihan.
"Yang menurut kamu bagus, sayang."Ucap Putra dengan tersenyum.
"Jangan menurut aku aja. Yang nikah kan kita berdua, Put. Menurut aku bagus, belum tentu menurut kamu."Ucap Jihan.
"Iya. Aku nurut aja." Ucap Putra.
"Kamu ihh. Menurut kamu yang mana?"Tanya Jihan dengan cemberut.
"Ya udah. Yang ini, kayak nya bagus."Ucap Putra dengan menunjuk gaun pengantin warna putih.
"Jangan warna putih. Aku nggak suka."Ucap Jihan. Putra memijat pelipisnya, pusing dengan keinginan Jihan.
"Yang ini aja, ya."Ucap Jihan dengan menunjuk gaun pengantin warna merah.
"Iya, sayang."Ucap Putra dengan di paksakan tersenyum.
"Ya udah."ucap Jihan.
"Mbak indah"Panggil Jihan pada pelayan toko.
"Iya, mbk Jihan."Jawab indah.
"Aku mau yang ini."Ucap Jihan. Mbak indah mengangguk.
Bersambung..........
__ADS_1