
Blam! Zainal menutup pintu mobil.
"Kamu apaan sih, langsung narik tangan ku aja."Irna cemberut.
"Maaf. Aku nggak mau, kalo Ayu ikut."ucap Zainal.
"Kasian dia. Dia itu jalan kaki." ucap Irna.
"Loh. Kok jalan kaki?" Tanya Zainal.
"Iya. Lagian kenapa sih, kamu?" tanya Irna.
"Aku nggak mau kalo dia tahu kita mau ke rumah, Jihan." jawab Zainal.
"Iya sih." ucap Irna.
"Emang kenapa dia jalan kaki?" tanya Zainal.
"Mau hemat katanya." jawab Irna.
"Tapi, dia kan hamil." ucap Zainal.
"Ya, kamu tuh harusnya tadi anter, Ayu." ucap Irna.
"Kalo dia tanya gimana?" tanya Zainal.
"Ya, jawab aja mau ke mana gitu," jawab Irna.
"Maaf. Aku nggak tahu." Ucap Zainal.
"Oh iya. Kita ngapain ke rumah, Jihan?" tanya Irna.
"Dia kan mau nikah. Jadi, kita di suruh mama bantu-bantu dia." jawab Zainal.
"Tapikan bisa tadi nganterin, Ayu. Dulu." ucap Irna.
"Mungkin, Ayu. Belum jauh dari sini. Kita ikutin aja, ya?" tanya Zainal. Irna mengangguk. Lalu, Zainal melajukan mobilnya.
...***...
Tin tin tin! Ayu membalikkan badannya. Ada seorang laki-laki keluar dari mobil tersebut.
__ADS_1
"Jalan sendirian aja?" tanya laki-laki itu. Ayu tidak menjawabnya.
"Ayo. Aku anterin pulang." tambah laki-laki itu. Ayu tetap diam, tidak menjawabnya. Hanya menatap wajah laki-laki itu.
"Hey. Ayo, aku anterin pulang. Panas loh ini." ucap laki-laki itu.
"Aku bisa pulang sendiri." ucap Ayu. Ayu melangkahkan kakinya. Tetapi laki-laki itu menahan nya.
"Ayu. Gue nggak mau liat, lo. Kesusahan kek gini." ucap laki-laki itu.
"Liat nih, muka lo pucet banget." tambah laki-laki itu.
"Sejak kapan lo nggak mau liat gue kesusahan. Lo, itu udah buat hidup gue susah, Put. Lo udah buat hidup gue menderita. Lebih susah, lebih menderita dari jalan kaki dari toko ke kontrakan. Apa lo nggak inget apa yang, lo perbuat sama, gue. Hah!" bentak Ayu.
"Maaf." Putra menunduk.
"Gue nggak perlu kata maaf dari, lo. Lo itu bukan hanya buat gue susah, tapi juga anak yang nggak bersalah ini juga susah." Ayu menatap tajam Putra. Putra menarik paksa tangan Ayu.
Blam! Putra menutup pintu mobil.
"Apa yang lo mau dari, gue?" tanya Ayu.
"Gue nggak mau apa-apa dari, lo" jawab Zainal.
"Gue, nggak mau lo kecapek an." jawab Putra.
"Dan gue nggak mau, anak gue kenapa-kenapa." tambah Zainal.
Ayu terkekeh. "Udah. Turun sini aja." ucap Ayu.
"Bukannya, kontrakan lo masih di depan?" tanya Putra.
"Gue, mau kesitu dulu." jawab Ayu. Lalu, dia keluar dari mobil Putra. Putra hendak membuka pintu mobil nya, tiba-tiba hp nya bergetar.
"Hallo. Kenapa, sayang?"
Jihan❤️
(....)
"Oh. iya, ini juga mau kesana."
__ADS_1
Jihan ❤️
(...)
...***...
Ayu sedang memilih-milih susu. Tiba-tiba ada yang menepuk pelan pundak nya. Ayu membalikkan tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Ayu.
"Mau nanya, boleh?" tanya Arnold.
"Nanya apa?" Ayu memasukkan susu ke keranjang.
"Mau gue anterin pulang?" tanya Arnold.
"Itu bukan nanya, tapi nawarin." Ayu tersenyum.
Arnold tersenyum kikuk. "Mau nggak?" tanya Arnold.
"Kontrakan gue deket sini aja." jawab Ayu.
"Nggak pa-pa. Gue pengen jadi temen, lo." ucap Arnold.
"Ya udah. Nggak pa-pa." ucap Ayu.
"Jadi, gue boleh main ke kontrakan, lo?" tanya Arnold.
"Boleh. Tapi nggak boleh pulang malem-malem." jawab Ayu. Arnold tersenyum. Lalu, Ayu ke kasir.
"Jadi, total nya 250."
"Biar gue aja yang bayar." ucap Arnold.
"Makasih, ya." ucap Ayu.
"Sama-sama." jawab Arnold. Lalu, Arnold dan Ayu. Keluar menuju parkiran.
"Oh iya. Gue bawa motor, lo nggak pa-pa?" tanya Arnold.
Ayu tersenyum. "Nggak pa-pa." jawab Ayu.
__ADS_1
"Ini helm nya." Arnold memberikan helm pada Ayu. Ayu memakai nya. Lalu, dia naik motor Arnold.
Bersambung.........