
Ayu, Rifki, dan Ana sedang asik ngobrol. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Rifki.
"Rif."Panggil Putra.
"Kenapa?"Tanya Rifki dengan dingin.
"Ini, gue mau kasih undang."Jawab Putra.
"Dateng ya, ke pernikahan kita."Ucap Jihan. Ayu memandang Jihan dan Putra dengan tatapan sendu.
"Oh, ini yang nama nya Jihan. Cantik banget."Batin Ayu.
"Iya."Rifki menerima nya.
"Oh iya. Ini buat lu juga."Putra memberikan undangan pada Ayu. Ayu menerima dengan tangan gemetar. Mata nya berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak, karna menahan tangis.
Ana memperhatikan Ayu. "Kenapa, Ayu jadi sedih gitu?"Ana bertanya-tanya dalam hati.
"Oh iya. Sekalian sama, Ana. Jangan lupa dateng, ya."Ucap Putra. Ana mengangguk.
"Ya udah. Gue ke sana dulu, ya."Ucap Putra. Lalu melangkah pergi bersama Jihan.
Ayu memandang undangan yang ada digenggam tangannya. Dadanya terasa semakin sesak, dia berusaha agar tidak menangis.
"Yu. Lu nggak pa-pa?"Tanya Rifki.
"Nggak pa-pa."Jawab Ayu dengan berusaha terlihat tenang.
"Ya udah. Gue ke toilet dulu, ya."Ucap Rifki.
Ana dan Ayu mengangguk. "Gue pulang duluan, ya?"Ucap Ayu.
"Loh. Kenapa nggak bareng aja?"Tanya Ana.
__ADS_1
"Nggak. Gue ada urusan."Jawab Ayu. Lalu, dia melangkah keluar dari gedung. Sesampainya di depan Ayu sudah tidak bisa menahan tangis nya. Dia menangis tersedu-sedu.
"Lo jahat, Putra! Lo janji kan mau nikahin, gue. Kenapa lo sekarang nikah sama orang lain."Ucap Ayu sambil terisak teredam. Ayu menghapus air mata nya. Dia memesan ojek online. Tak berapa lama, ojek pesanan Ayu datang.
...***...
"Aaaaaaaaa."Ayu teriak sekencang-kencangnya, di atas jembatan, tidak ada seorang pun di sana, kecuali Ayu. Di jembatan yang gelap gulita.
"Gue harus gimana, Tuhan?"Teriak Ayu.
"Putra, lo jahat! Gue nggak akan pernah maafin, lo!" Ucap Ayu. Tubuhnya luruh terduduk di aspal jembatan. Wajah cantik nya penuh dengan air mata, bibir mungilnya bergetar. Lama Ayu di jembatan itu dengan melampiaskan kemarahannya sambil berteriak. Hari sudah semakin larut, Ayu belum juga pulang. Lalu, dia merogoh tasnya mengeluarkan hp nya. Dia melihat jam, sudah jam satu malam. Ayu bangkit, berjalan pulang ke rumah dengan jalan kaki.
...***...
Tok tok tok. Ayu mengetuk pintu kontrakannya. Tetapi tidak ada yang membukakan pintu.
"Irna!"Panggil Ayu.
Ting! Hp Ayu bergetar. Ayu melihat hp nya, ternyata Irna yang mengirim pesan.
(Gue nggak pulang. Gue ikut sama ibu, nginep di rumah saudara)
(Kuncinya di atas pintu.)
Ceklek! Ayu membuka pintu. Lalu dia menutup kembali pintu nya. Dia masuk kamar, menaruh tasnya dan ngambil handuk. Lalu, dia ke kamar mandi. Tak lama Ayu keluar. Ayu terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ayu menjatuhkan tubuhnya di kasur nya. Ayu merentangkan tangannya memandang plafon. Lama kelamaan Ayu tertidur.
...***...
Ayu terbangun. Dia melihat jam di dinding menunjukan jam enam pagi. Ayu bangkit. Berjalan gontai menuju kamar mandi. Tak berapa lama, Ayu keluar dari kamar mandi. Ayu langsung siap-siap, hendak berangkat ke toko. Sebenernya, Ayu malas ke toko. Tap, gimana lagi. Dia harus bekerja untuk makan.
...***...
Sesampainya Ayu di toko, pak Ridwan menghadang Ayu di depan pintu.
__ADS_1
"Mana, Irna?"Tanya pak Ridwan.
"Irna, izin pak."Jawab Ayu.
"Kenapa izin?"Tanya pak Ridwan dengan berkacak pinggang.
"Semalamkan dia habis tunangan, pak. Dia ikut orang tua nya, kerumah saudara nya."Jawab Ayu dengan malas.
"Ya sudah. Kamu masuk sana."Perintah pak Ridwan.
"Iya,"Ucap Ayu.
...***...
"Makasih, bang."Ucap Ayu turun dari motor.
"Sama-sama, neng."Jawab abang tukang ojek.
Ceklek! Ayu membuka pintu kontrakan nya. Ayu masuk dapur, dia ingin minum karena sangat haus. Dia sangat letih, karna banyak yang datang ke toko tadi.
"Kusut amat muka, lu."Ucap Irna sambil menaruh piring di meja makan.
"Iya. Capek banget."Ucap Ayu sambil menuangkan air minum ke gelas.
"Makan dulu."Ucap Irna. Ayu mengangguk. Dia hendak ngambil piring.
Tuk! Irna memukul tangan Ayu.
"Cuci tangan dulu."Perintah Irna.
"Hehehe. Iya, lupa."Jawab Ayu.
Ayu makan dengan lahap, karna sedari pagi Ayu belum makan.
__ADS_1
Bersambung..........