
Hoam! Ayu menguap, sambil merenggangkan otot tangannya. Matahari sudah meninggi, jam di hp pun sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Ayu menoleh kesisi kanan, tapi Irna tidak ada. Mungkin, Irna sudah berangkat ke toko. Ayu tidak ke toko, karna dia masih cuti. Ayu melihat jam di dinding, mata Ayu langsung membulat.
''Apa? Udah jam sembilan pagi."Ucap Ayu langsung berlari ke kamar mandi.
Ayu sudah selesai dengan ritual mandinya.
Ceklek
Ayu membuka pintu kamar.
Ting
Hp Ayu berbunyi, tanda ada pesan masuk. Ayu membukakan hp nya, ada sepuluh panggilan tak terjawab.
Rifki
(Ayu! Gue, udah di cafe)
(Ayu)
(Yu)
(Ayu, Lo dimana?)
(Jadi ketemu atau nggak. Kalo nggak, gue pulang aja)
(Gue banyak kerjaan😏)
Ayu
(Maaf, jadi kok)
(Tunggu, sebentar lagi ya🙏)
(Soalnya, gue baru bangun🙏)
Rifki
(Nggak pakek lama!)
Ayu
(Iya😁🙏)
Ayu memilih baju yang mau dipakainya. Dan dia memoles wajahnya.
__ADS_1
"Udah, selesai." Ucap Ayu. Lalu, dia melangkah keluar rumah.
Tin tin tin
Ojek online yang dipesan Ayu sudah sampai.
"Ini, helmnya mb." Ucap abang tukang ojek
"Iya."Jawab Ayu sambil memakai helm.
...***...
Sesampainya Ayu di cafe, dia melihat sekeliling. Dia melangkah ke arah laki-laki memakai kemeja warna hitam.
''Rifki!'' Panggil Ayu. Rifki menoleh.
''Ayu. Lama banget sih, Lo.''Ucap Rifki dengan cemberut.
''Maaf. Baru bangun, dan gue lupa.''Ucap Ayu dengan terkekeh.
''Pasti, Lo. Bangunnya siang.''Ucap Rifki.
''Iya. Bangun kesiangan.''Ucap Ayu.
''Hahaha. Jangan kenceng-kenceng suaranya, nanti pada denger.''Ucap Ayu dengan melihat kanan, kiri.
''Biarin.''Ucap Rifki.
''Gimana, kabarnya?'' Tanya Ayu basa basi.
''Baik. Seperti yang Lo lihat.''Jawab Rifki. Ayu mengaguk.
''Jadi...Lo, ngajak gue ketemuan. Kenapa?''Tanya Rifki. Ayu merubah posisi duduknya, menghadap Rifki. Dan menatap Rifki.
''Tolong gue!''Ucap Ayu.
''Tolong apaan.''Jawab Rifki.
''Tolong, kasih alamat rumah Putra.'' Ucap Ayu dengan memohon pada Rifki.
''Nggak. Gue kan, udah bilang. Kalo, Putra udah mau nikah.''Ucap Rifki dengan menatap tajam Ayu.
''Plis Rif. Tolong gue, gue minta tolong sama Lo.''Ucap Ayu dengan memelas.
''Masih, banyak laki-laki di dunia ini. Kenapa? Mesti Putra! Kenapa, mesti laki-laki yang udah mau nikah. Hah?''Ucap Rifki dengan menatap tajam ke arah Ayu.
__ADS_1
''Emang, banyak laki-laki di dunia ini. Tapi, ayah yang ada diperut gue, cuma satu. Yaitu, Putra!'' Jawab Ayu dengan terisak pelan.
''Jadi...Lo, hamil?''Tanya Rifki. Ayu mengangguk. Lalu, Rifki menarik tangan Ayu keluar dari cafe. Menuju mobil miliknya.
Blam!
Rifki menutup pintu mobil.
''Maaf. Gue, bawa lo kemobil. Nggak enak, kalo di denger banyak orang.''Ucap Rifki.
''Jadi...Lo, beneran hamil?'' Lanjut Rifki.
''Iya. Gue, minta bantuan Lo. Kasih tahu, Putra dimana?'' Ucap Ayu. Rifki menghembuskan nafasnya kasar.
''Ini, sebenernya salah Lo. Kenapa, Lo jadi perempuan murah banget. Mau aja tidur bareng sama laki-laki yang jelas-jelas bukan suami lo!'' Ucap Rifki.
''Emang. Gue, emang murahan. Tapi, asal Lo tahu! Gue, awal nya nggak mau. Tapi, gue dipaksa, gue nggak bisa melawan Putra. Karna, gue cuma cewek lemah.'' Ucap Ayu dengan menangis.
''Maaf. Gue, nggak bermaksud.''Ucap Rifki.
''Nggak usah minta maaf. Karna, emang gue murahan!''Ucap Ayu.
''Maaf. Gue kasih alamat tempat nongkrong Putra, gue nggak bisa asih alamat rumahnya.''Ucap Rifki.
''Kenapa?''Tanya Ayu.
'Papanya lagi sakit.''Jawab Rifki.
''Sakit apa?''Tanya Ayu.
''Itu nggak penting! Nanti, gue kirim lewat WA aja.'' Jawab Rifki.
''Iya. Makasih Rif.''Ucap Ayu.
''Sama-sama.'' Jawab Rifki.
''Gue, mau pulang dulu.''Ucap Ayu. Lalu, berdiri.
''Gue anter.''Ucap Rifki.
''Nggak usah, gue bisa pulang sendiri.'' Ucap Ayu .
''Nggak Papa. Ayo!'' Ucap Rifki. Ayu manut, dia melangkah keluar cafe dengan Rifki.
Bersambung.........
__ADS_1