Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Perdebatan Jihan dan Putra


__ADS_3

Hoam! Irna menguap. Lalu dia duduk dengan mata masih terpejam. Dia mencari hp nya di bawah bantal, dia melihat jam ternyata sudah menunjukkan pukul lima pagi. Dia melihat Ana masih tertidur pulas.


"Oh iya, Ayu. Dia belum pulang, coba gue telfon saja." ucap Irna.


Drtttt!


"Loh, kok bunyi hp ayu di kamar ini?" Irna menoleh ke sisi kiri.


"Ayu. Ini beneran, Ayu?" Irna menarik selimut pelan-pelan.


"Ayu bangun." Irna menggoyangkan tubuh Ayu agar bangun.


"Irna. Ganggu aja sih, lo." Ayu menarik selimutnya kembali.


"Ihhh, Bangun! Lo dari mana aja kemarin? Gue capek tahu nyariin, lo." ucap Irna dengan nada kesal.


"Besok pagi aja gue cerita, ini masih malam juga." ucap Ayu memejamkan matanya.


"Ini udah pagi, bangun!" ucap Irna.


"Emang udah jam berapa, sih?" tanya Ayu.


"Sudah jam lima pagi." jawab Irna. Ayu membuka matanya, lalu dia turun dari ranjang, lalu keluar kamar.


"Katanya tadi ngantuk, tapi sekarang keluar begitu saja." ucap Irna. Irna merapikan tempat tidur. Tak berapa lama, Ayu kembali ke kamar. Dia membuka lemari, lalu mengeluarkan sajadah dan mukenah, lalu dia solat.


"Setelah hilang entah kemana, dan sekarang dia sudah dapat hidayah," ucap Irna memandang Ayu dari atas ranjang.


"Alhamdulillah, sih. Harusnya gue juga ikut solat." ucap Irna. Lalu dia keluar kamar menuju kamar mandi.


***


"Hallo, kenapa nelfon pagi-pagi buta begini?"


(...)


"Gue lagi nggak ada di rumah"


(...)

__ADS_1


"Nanti aja gue telfon balik."


(...)


"Iya, sayang. Muachh"


"Arnold!" panggil Zainal. Arnold mematikan hp nya, lalu dia masukan kedalam saku celana.


"Lagi nelfon siapa, lo?" tanya Zainal.


"Nggak. Temen gue, Kak." jawab Arnold.


"Temen kok mesra, pacar lo, ya?" ucap Zainal..


"Bukan." jawab Arnold singkat.


"Sebenarnya, itu bukan urusan gue, tapi itu semua jadi urusan gue. Karna lo udah berani deketin, Ayu. Dan kasih harapan ke dia." ucap Zainal. Memandang Arnold dingin.


"Iya." balas Arnold cuek.


"Awas aja lo!" Zainal menunjuk wajah Arnold.


"Hehehe. Nggak ngapa-ngapain, Rif." jawab Zainal cengengesan. Rifki memandang Zainal dan Arnold bergantian.


"Karna lo udah tahu tempat disini, jadi lo yang beli sarapan untuk kita semua, ya." ucap Rifki. Zainal mengangguk.


"Biar gue aja, gue juga tahu kok." ucap Arnold menawarkan diri.


"Terserah lo." ucap Rifki. Zainal menatap tajam Arnold. Lalu Arnold melangkah pergi.


"Lo kenapa sih, Nal?" tanya Rifki.


"Nggak. Gue lagi kebelet, Rif." jawab Zainal. Lalu dia masuk kedalam rumah.


***


"Kamu telfonan sama siapa?" tanya Putra dingin.


"Bukan siapa-siapa, sayang." jawab Jihan tersenyum.

__ADS_1


"Mana hp kamu, aku mau lihat." ucap Putra.


"Untuk apa, sih?" tanya Jihan sewot.


"Mau lihat tadi kamu telfonan sama siapa?" balas Putra.


"Sama temen. Kamu itu selalu saja curiga sama aku, aku capek, Put. Nggak bisa bebas kaya begini, telfonan sama temen sendiri saja sudah di curigai." ucap Jihan.


"Coba lihat mana hp nya?" ucap Putra.


"Kenapa sih, kamu nggak pernah percaya sama aku?" tanya Jihan.


"Karna penghianat tetaplah penghianat." jawab Putra.


"Oh. Jadi aku ini penghianat, lalu kenapa kamu mau rujuk lagi sama aku? Apa karna wanita itu hamil, iya?" ucap Jihan emosi.


"Karna aku cinta sama kamu! Itu yang membuat aku mempertahankan hubungan ini, walaupun aku tahu kamu tidak pernah setia sama aku." ucap Putra emosi. Lalu dia keluar kamar meninggalkan Jihan sendirian di kamar.


Blam! Putra membanting pintu.


"Putra." panggil nama putra lembut. Putra menoleh.


"Iya, Ma." jawab Putra.


"Sini, Nak." Putra mengangguk. Lalu dia menghampiri sang Mama.


"Duduk." Putra menurut.


"Nak. Nggak baik banting pintu begitu, Kalau ada masalah selesaikan baik-baik, Nak. Ingat Putra! Wanita itu tidak suka dikasar, kamu harus memperlakukan istri kamu lemah lembut. Jangan sampai kamu memukul istri mu, Nak. Kalian ini 'kan baru saja rujuk. Memang kalian ini ada masalah apa, sih?" ucap Mama Putra lembut.


"Ada masalah sedikit, Ma." jawab Putra.


"Selesaikan baik-baik. Kalau Jihan marah-marah, kamu cukup diam, jangan membantah apalagi membentaknya, karna wanita tidak suka di bantah apalagi di bentak. Bukan karna dia egois, tetapi begitulah wanita. Susah untuk dimengerti." ucap Mama Putra.


"Iya, Ma."


"Ya udah. Mama masuk kamar dulu, ya." Putra mengangguk. Lalu mamanya masuk kedalam kamar. Putra memijat pelipisnya pelan.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2