Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Menikahlah denganku!


__ADS_3

Irna dan Putra menunggu dengan gelisah. Putra selalu berdoa dalam hati agar janin yang ada di kandungan Ayu selamat.


"Irna!" panggil Zainal. Irna dan Putra menoleh. Zainal mendekat ke arah Irna dan Putra.


"Gimana sama, Ayu?" tanya Zainal khawatir.


"Nggak tahu. Dokternya belum keluar." jawab Irna dengan suara serak. Zainal meraih tangan Irna lalu menggenggam nya dengan erat.


"Kok bisa, Ayu jatuh di kamar mandi?" tanya Zainal.


"Aku juga nggak tahu. Ayu tiba-tiba teriak minta tolong, habis itu aku langsung buka pintu kamar mandi, dia sudah duduk di lantai kamar mandi. Dan aku juga lihat celana Ayu ada banyak bercak darah. Aku nelfon kamu, tapi nggak di angkat." jawab Irna.


"Maaf, tadi aku lagi meeting." ucap Zainal.


"Aku takut, kalo ada apa-apa sama, Ayu. Gimana?" ucap Irna dengan terisak.


"Kita berdoa saja, semoga semuanya baik-baik saja." sahut Zainal lembut.


Putra dari tadi tidak bisa duduk dengan tenang. Duduk lalu berdiri lagi, lalu jalan mondar mandir, lalu duduk lagi. Zainal memandang Putra heran.


'Put, bisa diam nggak? kalo mau duduk, duduk aja. Kalo mau berdiri,berdiri aja." ucap Zainal. Putra menoleh. Lalu menatap tajam Zainal.


"Gue khawatir be*o. Yang didalam ruangan itu bukan hanya, Ayu. Tapi anak gue juga!" Bentak Putra. Irna hendak membuka suara, tetapi di larang oleh Zainal. Zainal menggelengkan kepalanya. "Sudah, biarkan saja. Dia mungkin khawatir." ucap Zainal. Irna mengangguk.


Dokter yang menangani Ayu keluar dari ruangan nya. Irna dan Zainal langsung berdiri.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan, Ayu dan bayi nya?" tanya Putra cemas.


"Maaf. Janinnya tidak bisa di selamatkan. Dia mengalami keguguran." jawab dokter itu nampak prihatin. Putra terduduk lemas di kursinya. Sedangkan Irna sudah menangis.


"Sabar, Put." ucap Zainal sambil menepuk pundak Putra.


"Sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang perawatan. Anda bisa menjenguknya.'' ucap Dokter itu.


"Baik, dok. Terima kasih." Zainal berjabat tangan. Lalu melepasnya. Dokter itu mengangguk lalu pergi. Putra bangkit. Lalu masuk kedalam ruangan dimana Ayu ditempatkan. Irna hendak menyusul Putra tetapi di tarik oleh Zainal.


"Mau kemana?" tanya Zainal.


"Mau lihat, Ayu. Dia pasti merasa terpukul sekali." jawab Irna.


"Sudah, disini saja dulu. Biarlah Putra dan Ayu berbicara." ucap Zainal.


"Mau bagaimana pun, Putra ayah dari janin itu. Kita kasih waktu mereka berdua untuk ngobrol." ucap Zainal. Irna mengalah. Dia kembali duduk di kursinya.


Ceklek! Putra membuka pintu ruangan dimana Ayu di rawat. Ayu menoleh, lalu membuang muka. Putra mendekat.


"Kenapa cowok b*r*n*s*k ini, kesini." gerutu Ayu dalam hati.


"Sakit, ya?" tanya Putra. Ayu diam saja tidak menjawab. Putra meraih tangan Ayu lalu menempelkan nya ke pipi. Sesekali dia mencium nya dengan lembut.


"Maaf. Aku tahu, kamu pasti merasa sangat terpukul. Aku juga merasa sangat terpukul, Yu." ucap Putra dengan suara bergetar menahan tangis.

__ADS_1


"Bukankah, kamu tidak mengakui keberadaannya? Seharusnya, kamu senang, bukan? Sudah tidak ada lagi yang meminta pertanggung jawaban. Kamu bisa hidup bahagia bersama, Jihan. Dan aku ingatkan, dia bukan anak mu, tetapi dia anak ku!" ucap Ayu datar sambil menarik tangan nya yang di genggam erat oleh Putra.


"Dia juga anak ku, Yu. Mau ku akui atau tidak, di tubuhnya tetap mengalir darah ku." Ayu terkekeh sinis. Ayu menatap Putra tajam. "Kenapa baru sekarang kau mengakuinya? Kenapa setelah dia sudah tidak ada, baru kau mengakuinya?"


"Maaf." ucap Putra menunduk sambil menangis.


"Aku tidak butuh kata maaf sampah mu itu. Pergilah!" usir Ayu dengan nada dingin.


"Menikahlah denganku!"


"Jangan bercanda. Pergilah dari sini, aku muak melihat wajahmu." sahut Ayu dengan dingin. Putra bergeming.


"Tidak akan ada yang akan menikahi mu, kecuali aku. Tidak ada seorang pria yang mau menikah dengan wanita yang sudah hamil di luar nikah." Ayu menatap Putra bengis.


"Lebih baik aku tidak menikah seumur hidup! Dari pada harus menikah dengan pria bejat seperti mu!" ucap Ayu sambil menunjuk wajah Putra. Putra meraih jemari Ayu. Lalu, menggenggamnya.


"Aku sungguh mencintaimu, aku menyesal memilih Jihan dari pada dirimu."


"Pergilah. Jangan membuat aku semakin menderita!" Bentak Ayu sambil menangis.


"Tenanglah. Jangan menangis seperti ini." ucap Putra sambil memeluk Ayu Dewi erat.


Ceklek! Seseorang membuka pintu.


"Hey, kau. Berani sekali kau menyentuh nya!" bentak seseorang itu dengan murka. Putra melepaskan pelukannya dan memandang orang itu dengan malas.

__ADS_1


Maaf ya, up nya lama🙏.


Bersambung.........


__ADS_2