
"Selanjutnya, ibu Kinan."
"Mb duluan, ya?"Ucap Kinan.
"Iya, mb."Ayu tersenyum.
"Selanjutnya, ibu Ayu." Ayu berdiri.
"Silahkan masuk." Ayu mengangguk. Lalu masuk ke ruangan.
"Langsung baring, ya ibu." Lalu Ayu berbaring. Dan langsung di periksa.
***
"Put. Lo yakin, ninggalin tuh cewek?" Tanya Arnold.
"Cewek yang mana?" Putra bukannya menjawab, malah balik bertanya.
"Itu, yang kesini." Jawab Arnold.
"Oh. Ayu. Gue mah udah yakin banget." Ucap Putra sambil bermain hp nya.
"Gue kasihan sama, Ayu. Kayak lagi banyak masalah, Put." Ucap Arnold.
"Biasalah, orang miskin. Emang selalu banyak masalah." Ucap Putra acuh.
"Put. Apa lo nanti nggak nyesel, ninggalin, Ayu. Demi Jihan?" Tanya Arnold.
"Nggak lah. Gue tuh cinta banget sama, Jihan." Jawab Putra.
"Lo, nggak inget. Waktu Jihan selingkuh dulu?"Tanya Arnold.
"Kalo dia selingkuh lagi, gimana?" Tambah laki-laki itu.
"Nggak akan. Sekarang gue kan, udah kerja di kantor, papa. Jadi, gue bisa bahagiain Jihan." Jawab Putra.
"Putra. Dia itu cuma suka sama duit, lo! Bukan diri lo." Ucap Arnold.
__ADS_1
"Nggak mungkin. Kalo Ayu mungkin, tapi kalo Jihan nggak mungkin. Itu cuman perasaan, lo aja." Ucap Putra.
"Lu itu, harusnya cari istri yang bener-bener cinta sama, lu. Sama papa, mama. Bukan harta, lu!" Ucap Arnold.
"Lu tahu nggak sih, Lu itu berisik banget dari tadi." Putra menatap tajam Arnold.
"Put. Dia itu hamil anak, lu. Lu nggak kasian sama anak yang dia kandung. Mau gimana pun, dia tetep anak lu!" Ucap Arnold.
"Berisik." Putra bangkit meninggalkan Arnold. Tetapi Arnold tetap mengikuti Putra.
"Kasian Ayu. Gimana perasaan orang tua nya, kalo tahu anak nya hamil. Tapi, nggak ada yang tanggung jawab." Ucap Arnold. Putra tidak mendengarkan yang di katakan sahabatnya. Dia tetap melangkah keluar dari rumah Arnold. Menghampiri mobilnya.
"Put. Lo dengerin gue dong." Ucap Arnold.
"Apa yang harus gue denger, Apa? Masalah cewek murahan itu, Iya?" Bentak Putra.
"Gue, nggak nyangka kalo gue punya sahabat bejat kaya, lo!" Arnold menunjuk wajah Putra.
"Kita sama, nggak usah ngatain gue bejat." Ucap Putra emosi.
"Gue emang bejat, Put. Tapi, gue nggak pernah hamilin anak orang." Ucap Arnold.
"Lo, pasti nyesel, Put. Ninggalin Ayu!" Ucap Arnold.
***
Tok tok tok.
"Ir. ini gue, Ayu." Panggil Ayu. Tak berapa lama, Irna keluar.
"Dari mana aja?" Tanya Irna.
"Dari klinik."Jawab Ayu.
"Lo sakit?"Tanya Irna sambil memegang kening Ayu.
"Nggak. Gue cek kandungan." Jawab Ayu.
__ADS_1
"Gimana sih, baby?"Tanya Irna.
"Nggak gimana-gimana." Jawab Ayu.
"Lo capek, ya?"Tanya Irna.
"Iya. Semenjak gue hamil, badan gue jadi sering capek." Jawab Ayu.
"Ya udah. Masuk, yuk" Ucap Irna. Ayu masuk ke dalam rumah.
"Gue buatin susu, ya."Ucap Irna. Ayu mengangguk.
"Mandi dulu sana." Perintah Irna. Ayu mengangguk. Lalu masuk ke kamar mandi. Irna membuatkan Ayu susu. Dan menyiapkan makanan untuk Ayu.
Tak berapa lama, Ayu keluar dari kamar mandi sudah lengkap pula dengan pakaian nya.
"Udah mandi nya?"Tanya Irna.
"Udah."Jawab Ayu.
"Cepetan makan, ini susu nya." Ucap Irna. Ayu mengangguk.
"Ya udah. Gue ke kamar dulu, ya." Irna melangkah menuju kamar. Setelah selesai makan, Ayu masuk ke kamar.
"Udah. Sini gue pijitin." Ucap Irna. Ayu menjatuhkan tubuhnya di kasur.
"Mana yang capek?" Tanya Irna.
"Semuanya." Jawab Ayu. Irna memijat pelan kaki Ayu.
"Ir." Panggil Ayu.
"Hmmmm." Gumam Irna.
"Andai aja, kalo gue sama putra udah nikah. Pasti yang mijitin gue, Putra. Dan gue bisa manja-manja sama dia." Ucap Ayu.
"Halah. Gue kan ada. Kenapa harus, Putra? Udahlah, Yu. Lu itu harus belajar lupain, Putra. Laki-laki nggak berguna juga. Suatu saat nanti, lu pasti ketemu sama laki-laki, yang bener-bener cinta sama, lu. Dan anak lu." Jelas Irna.
__ADS_1
"Yu. Kok lu diem aja sih? Ayu." Irna menggoyangkan kaki Ayu. Tetapi tidak ada respon. Irna melihat Ayu, ternyata Ayu tertidur. Irna menarik selimut, lalu menyelimuti tubuh Ayu dan dirinya.
Bersambung.........