
''Ayu.''panggil Irna.
''Hmmm.'' Gumam Ayu sedang fokus melihat tv.
''Gimana, ceritanya kok ayah sama ibu tahu. Kalo, Lo hamil?''Tanya Irna. Ayu menggelengkan kepalanya.
''Nggak tahu.''Jawab Ayu.
''Kok bisa lo, nggak tahu?'' Tanya Irna.
''Gue sendiri belum tahu, kalo gue hamil. Gue, baru bangun dari pingsan ayah langsung marah-marah dan ngusir gue. Awalnya gue, bingung. Ayah bilang kalo gue hamil, sebenernya gue bingung. Ayah tahu darimana? Gue sendiri aja belum tahu.''Jawab Ayu.
''Lo, udah tes kehamilan apa kerumah sakit belum?'' Tanya Irna.
''Belum. Tapi, gue udah telat satu bulan.'' Jawab Ayu.
''Gimana, kalo Lo kedokter aja.''Ucap Irna.
''Kalo, ditanya sumainya mana. Bu? Gimana?.''Ucap Ayu.
''Ya udah, kalo beli testpack gimana?''Tanya Irna.
''Belinya gimana? Gue malu.'' Jawab Ayu.
''Gimana, kalo gue sama Zainal.''Ucap Irna.
''Nanti, kalian di kira macam-macam gimana?'' Tanya Ayu.
''Ya, nggak mungkin lah. Percaya sama gue.'' Ucap Irna meyakinkan sang sahabat. Ayu mengangguk. Irna membuka hp nya mencari aplikasi warna hijau.
Irna
(Sayang. Nanti, kekontrakan ya. Tak berapa lama hp Irna berbunyi tanda ada pesan masuk
Calon suami
(Ok😘)
(Jam berapa sayang?)
Irna
__ADS_1
(11.00)
Calon suami
(Ok!)
(Sekarang otw)
Irna
(Hati-hati ❤️)
''Zainal, udah otw. Gue, ganti baju dulu.''Ucap Irna berlalu masuk kamar.
Tak berapa lama, Irna keluar kamar dengan pakaian rapi dan sedikit memoles wajahnya.
''Mau nitip apa?''Tanya Irna.
''Hmmm, appel aja deh.'' Ucap Ayu.
''Itu aja? Nggak ada yang lain?''Tanya Irna.
''Itu mah, udah pasti.'' Ucap Irna.
''Nggak ada, apel aja.'' Ucap Ayu.
''Ya udah. Gue, jalan dulu. Itu Zainal, udah didepan.''Ucap Irna melangkah keluar rumah.
''Hati-hati.''Teriak Ayu.
''Iya.''Jawab Irna.
''Apa gue, chat Rifki aja ya? Siapa tahu, dia tahu Putra dimana. Pasti tahu, diakan temennya Putra. Iya deh.'' Ucap Ayu. Lalu, dia membuka aplikasi berwarna hijau.
Ayu
(Rif, bisa ke temu?)
Rifki
(Kapan? Kalo hari ini nggak bisa.)
__ADS_1
Ayu
(Besok.)
(Jam 9 pagi)
Rifki
(Dimana?)
Ayu
(Cafe deket kontrakan gue)
Rifki
(Ok!)
"Tapi, kalo Rifki nggak mau kasih tahu gimana ya? Ah, yang penting dicoba dulu. Kalo, Putra nggak mau tanggung jawab gimana? Apa gue samperin aja istrinya? Tapi, apa mungkin perempuan itu peduli? Tapi, dia juga pernah ngerasain kayak gue. Tapi, kalo gue malah di maki-maki gimana? Kalo, di viralin gimana? Tapi, gue kan nggak tahu kalo Putra udah punya istri. Tapi, gue kan nggak tahu alamatnya. Oh iya, Zainal kan saudaranya. Tanya Zainal aja.''Batin Ayu.
''Ini, semua emang salah gue. Kenapa? Gue, nggak bisa jaga diri. Dan sekarang gue buat ayah sama ibu kecewa, dan sekarang nggak tahu harus gimana? Ini perut nggak mungkin makin kecil, makin hari makin besar. Kalo, pak Ridwan tahu. Bisa bahaya! Bisa-bisa gue di pecat. Dan, kalo gue dipecat. Mau makan apa? Dan ini anak butuh susu, gue, cuma modal lulusan SMA. Ya Tuhan, gue harus gimana?'' Ucap Ayu dengan terisak.
''Gue, nggak boleh nangis. Gue kuat, harus kuat nggak boleh cengeng. Nggak boleh stress, kasian anak gue. Kalo, gue stres.'' Ucap Ayu dengan mengusap kasar air mata nya.
Ayu
(Ir,, beliin gue susu ibu hamil)
Irna
(Ok!)
(Anda mau apa lagi? Bumil)
Ayu
(Nggak ada, cuma itu aja)
"Maaffin bunda nak." Ucap Ayu dengan mengelus perutnya.
Bersambung.......
__ADS_1