Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Miskin dari dulu


__ADS_3

"Jangan main kasar di sini, Put."Ucap seorang laki laki tampan yang menghalangi Putra.


"Dan Lo, kalau mau minta tanggung jawab jangan disini!"Ucap laki-laki itu menatap tajam Ayu.


"Silahkan keluar, Apa Lo mau jadi pemuas n*f*u kita!"Ucap laki-laki itu dengan menetep jijik Ayu. Ayu mendongakkan wajahnya menatap laki-laki itu, dengan tatapan marah.


Semua teman teman Putra tertawa dan menatap Ayu sinis.


Bugh! Bugh! Bugh!


Rifki memukul wajah laki-laki itu bertubi tubi.


Putra mendorong tubuh Rifki.


"Rifki. Apa-apaan sih lu."Bentak Putra membantu laki-laki itu berdiri.


"Jangan kurang ajar Lo, Arnold."Ucap Rifki.


"Dengar Arnold! Ayu bukan perempuan nggak bener, bukan murahan, temen lu yang salah. Awas lu kalau ganggu Ayu lagi."Ucap Rifki. Lalu dia menarik tangan Ayu keluar dari tempat itu.


"Gue kan udah bilang, kalo mau ke sini sama gue."Ucap Rifki.


"Maaf."Ucap Ayu dengan menangis. Rifki memeluk Ayu. Ayu semakin terisak di pelukan Rifki.


"Udah. Ayo kita pulang."Ucap Rifki melepaskan pelukannya. Ayu mengangguk. Lalu, mereka berdua menunju mobil Rifki.


Blam!.


Ayu menutup pintu mobil.


"Kalo sih, Arnold. Ganggu Lo kasih tahu gue."Ucap Rifki. Ayu mengangguk.


"Kalo ada apa-apa cerita sama gue. Lo itu udah gue anggap adik gue sendiri, Lo begini juga kan, karna gue."Tambah Rifki.

__ADS_1


"Ini bukan salah Lo, Rif."Ucap Ayu. Rifki tersenyum dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


...***...


Tok tok tok


Tak berapa lama, Irna membukakan pintu.


"Siapa....."Ucap Irna. Dia melihat sahabatnya menangis. Ayu langsung memeluk Irna, Irna menatap tajam Rifki.


"Lu apain sahabat gue?"Tanya Irna pada Rifki.


"Bukan gue." Jawab Rifki dengan mengangkat jarinya berbentuk v.


"Bukan salah, Rifki."Ucap Ayu melepaskan pelukannya.


"Terus, kenapa Lo nangis?"Tanya Irna.


"Nanti, gue cerita."Ucap Ayu.


"Makasih. Gue mau langsung ke kantor, banyak kerjaan soalnya."Ucap Rifki.


"Oh. Hati-hati, Rif."Ucap Ayu. Rifki mengangguk.


"Makasih ya."Ucap Ayu.


"Sama-sama."Jawab Rifki. Lalu, Rifki melangkah menuju mobilnya.


"Ya udah, ayo masuk."Ucap Irna. Ayu mengangguk.


"Lo itu sebenarnya kenapa, yu?"Tanya Irna.


"Gue tadi, nyamperin Putra."Jawab Ayu.

__ADS_1


"Terus, gimana?"Tanya Irna. Ayu menceritakan semuanya pada Irna.


"Kurang ajar! Awas aja lo, Putra!"Ucap Irna mengepalkan tangannya.


"Sekarang gue tahu, kalo Putra emang nggak mau nikahin gue. Gue sekarang nanggung malu sendiri, Ir."Ucap Ayu.


"Sabar ya, yu."Ucap Irna.


"Gue harus gimana, Ir. Gimana kalo anak ini, tanya ayahnya dimana? Gue harus jawab apa?"Ucap Ayu.


"Sabar ya, kita cari solusi sama-sama."Ucap Irna memeluk Ayu.


"Nanti, gue tanya ke, Zainal. Siapa tahu dia bisa bantu."Tambah Irna.


"Iya. Makasih, Ir."Ucap Ayu. Irna mengangguk.


"Ya udah, sekarang lo istirahat di kamar."Ucap Irna. Ayu berdiri lalu melangkah menuju kamar. Ayu menaruh tas selempang nya di meja, dan menjatuhkan tubuhnya di kasur menutup wajahnya dengan bantal.


"Ayu. Udah makan belum?"Tanya Irna.


"Belum."Jawab Ayu.


"Mau makan apa?"Tanya Irna.


"Sop enak kali, Ir."Jawab Ayu.


"Ya udah, gue masak dulu ya."Ucap Irna.


"Ir, sop nya nggak usah di kasih daging."Ucap Ayu.


"Emang kita nggak punya daging."Ucap Irna.


"Oh iya. Lupa kalo kita miskin."Ucap Ayu dengan tertawa.

__ADS_1


"Hahaha. Ada-ada aja lu, yu. Miskin dari dulu kok lupa."Ucap Irna berlalu kedapur.


Bersambung...........


__ADS_2