
Blam! Irna menutup pintu mobil.
''Dari mana aja kalian?'' tanya Rifki.
''Dari nyari, Ayu.'' jawab Zainal.
''Loh. Emang sih, Ayu kemana?'' tanya Ana.
''Nggak tahu. Dari acara tadi, dia udah nggak ada.'' jawab Irna sendu.
''Jadi, Ayu hilang?'' Irna mengangguk.
''Bukannya dari tadi, dia sama, lo.'' tunjuk Putra pada Arnold.
''Iya. Katanya dia mau ke toilet. Tapi, nggak tahu kok nggak balik lagi.'' sahut Arnold.
''Lo, harus cari dia sampai ketemu!'' ucap Rifki emosi.
''Gue udah cari kemana-mana, tapi nggak ketemu.'' sahut Arnold pelan.
''Emang lo aja yang nggak punya tanggung jawab!'' Rifki hendak memukul wajah Arnold.
''Rifki!'' Zainal menarik tangan Rifki menjauh.
''Udah lah. Dari tadi sih, Arnold. Nyariin Ayu kemana-mana sama gue. Dengan lo kaya begini, nggak akan bisa nyelesain masalah, Rif. Lagian lo itu udah dewasa, Rif.'' ucap Irna.
''Gue tahu lo khawatir, sama kita juga. Tapi nggak begini caranya.'' ucap Zainal.
''Ir. Buka pintunya. Kita semua masuk aja, nggak enak di lihat orang.'' ucap Zainal. Irna membuka pintu. Lalu mereka masuk kedalam rumah.
''Kalian udah cari kemana aja?'' tanya Ana.
''Udah ke taman, ke cafe-cafe.'' jawab Irna.
''Semua taman dan cafe kita datengin. Tapi nggak ada.'' tambah Irna.
''Kalian dari siang cari, Ayu?'' tanya Ana.
Irna mengangguk. ''Dari pagi sampai sore.''
''Gimana kalo kita cari lagi ke tempat yang lain?'' tanya Rifki.
''Nanti, habis magrib sekalian. Kita udah capek banget, Rif.'' jawab Zainal.
''Iya. Sekarang udah jam 05.30.'' Rifki melihat jam di tangannya.
''Iya.'' Zainal memijat pelan pelipisnya.
__ADS_1
''Ar. Lo tiduran dulu, aja.'' ucap Irna. Arnold mengangguk.
''Emang masalahnya apa sih?'' tanya Rifki.
''Iya. Kok bisa sampai, Ayu. Hilang begini?'' tanya Ana.
''Nggak ada. Kalian tahukan, waktu dia mau ke toilet. Nah, dari itu dia nggak balik-balik.'' jawab Arnold.
''Udah di telfon?'' tanya Ana.
''Udah. Bahkan sampai dua puluh kali, Arnold. Nelfon dia, tapi nomornya nggak aktif.'' jawab Irna.
''Apa mungkin dia ke rumah orang tuanya?'' ucap Ana.
''Nggak mungkin.'' jawab Irna.
''Kenapa nggak mungkin, Kak?'' Arnold mengerutkan keningnya.
''Ayu. Kalo lagi ada masalah, nggak pernah tempat orang tuanya.'' ucap Zainal beralasan.
''Tapi, kita belum coba kesana, Kak.'' ucap Arnold.
''Gue sahabatnya. Jadi gue tahu dia kaya gimana!'' ucap Irna dingin.
''Udahlah. Kita makan dulu, kalian belum pada makan kan?'' Irna menyiapkan makanan.
''Iya. Habis ini kita semua cari, Ayu.'' ucap Zainal. Lalu mereka makan. Tak berapa lama, Ana sudah selesai makan.
''Boleh. Tapi gue nggak punya baju gamis kaya lo begini. Adanya kulot sama baju panjang.'' ucap Irna tak enak hati.
''Gue bawa baju ganti kok.'' Ana tersenyum.
''Oh. Maaf, jangan tersinggung, ya.'' ucap Irna tak enak hati.
Ana mengangguk. ''Iya. Nggak pa-pa.''
...***...
Hiks hiks hiks
''Kenapa hidup gue jadi begini.'' Ayu meratapi nasibnya.
''Karna kamu yang terlalu begitu.'' jawab seseorang. Ayu terkejut. Lalu dia memejamkan matanya.
''Siapa itu? Apa itu hantu. Apa bener kata tukang ojek tadi? Kalau tempat ini angker.'' batin Ayu.
''Ini udah magrib. Kenapa masih disini?'' ucap orang itu.
__ADS_1
''Dari suaranya laki-laki. Apa dia pocong?'' batin Ayu bertanya-tanya.
''Kok diem aja, Mbak?'' tanya laki-laki itu..
''Mbak.'' dia menepuk pundak Ayu menggunakan hp nya. Ayu melirik.
''Masa hantu punya hp. Apa hantu zaman now?'' gumam Ayu.
''Saya denger loh, Mbak.'' ucap laki-laki itu.
''Haduh. Ini manusia apa hantu sih.'' batin Ayu. Ayu memutar tubuhnya pelan-pelan.
''Buka matanya, Mbak.'' perintah orang itu. Ayu manut. Dia membuka perlahan matanya.
''Aaaaaaaa. Hantu tolong.'' Ayu teriak.
''Mbak. Saya manusia bukan hantu!'' ucap laki-laki itu panik. Ayu memperhatikan dari kaki samapai rambut.
''Beneran manusia ternyata.'' Ayu bernafas lega.
''Iya. Saya manusia, Mbak.'' laki-laki itu tersenyum.
''Saya kira hantu, Mas.'' ucap Ayu.
''Mbak ngapain disini?'' tanya laki-laki itu.
''Nggak pa-pa. Lagi ada masalah aja, Mas.'' jawab Ayu.
''Oh. Kalau lagi ada masalah itu solat, Mbak. Bukan di jembatan kaya begini. Ini bukan nyelesain masalah malah buat masalah.'' ucap laki-laki itu.
''Hehehe. Iya.'' Ayu tersenyum canggung.
''Ayo, ikut saya ke rumah saya. Nanti saya antar pulang.'' ucap laki-laki itu dengan lembut.
''Saya bisa pulang sendiri.'' sahut Ayu pelan.
''Ini udah gerimis, sebentar lagi hujan turun. Saya nggak akan macam-macam, Mbak.'' ucap laki-laki itu.
''Rumah saya dekat dari sini. Ada istri saya juga di rumah.'' tambah laki-laki itu.
''Apa istrinya nggak marah, Mas?'' tanya Ayu.
Laki-laki itu tersenyum. ''In Syaa ALLAH, nggak marah. Istri saya itu baik kok, Mbak.''
''Ya udah. Saya mau deh.'' ucap Ayu.
''Mobil saya disana, Mbak.'' ucap laki-laki itu. Menunjuk mobil warna hitam yang agak jauh dari tempat mereka berdua.
__ADS_1
''Oh. Iya.'' Lalu mereka berjalan menuju mobil.
Bersambung........