
"Ayu. Lo baru dateng?" tanya Irna.
"Iya. Biasalah." jawab Ayu.
"Belum mulaikan acaranya?" tanya Ayu.
"Belum. Sebentar lagi mungkin." jawab Irna.
"Putra udah dateng?" tanya Ayu.
"Belum." jawab Irna.
"Ya Allah, kuatkan hati ku." Batin Ayu.
"Mana sih bocil?" tanya Irna.
"Bocil siapa?" Ayu mengerutkan keningnya.
"Arnold." jawab Irna.
"Oh. Dia nggak tahu tadi kemana." ucap Ayu.
"Irna. Ayo, ikut mama." ucap wanita paruh baya.
"Hehehe. Iya, Ma." ucap Irna.
"Ini siapa?" tanya wanita paruh baya itu.
"Ini, Ayu. Sahabat Irna, Ma." jawab Irna.
"Ayu. Tante." Ayu mengulurkan tangannya.
"Cantik. Tante Irma." Tante Irma menerima uluran tangan Ayu.
"Ya udah. Ayo, Irna." Tante Irma menarik tangan Irna.
"Gue kesana dulu, ya." ucap Irna. Ayu mengangguk.
"Maaf. Gue tadi ada urusan sebentar." ucap Arnold.
"Iya. Nggak pa-pa." Ayu tersenyum.
"Jangan senyum terus kenapa." ucap Arnold.
"Emang nya kenapa?" tanya Ayu.
"Gue bisa kena diabetes. Karna senyuman lo terlalu manis." ucap Arnold.
"Hahaha. Bisa aja sih, bocil." Ayu tertawa.
"Ayu!" Panggil seseorang. Ayu sedikit membalikan badannya.
"Ana, sama siapa?" tanya Ayu.
__ADS_1
"Sama Rifki." jawab Ana.
"Mana dia?" tanya Ayu melihat sekeliling.
"Nggak tahu kemana tadi." jawab Ana.
"Sama siapa, Yu?" tanya Ana.
"Sama Arnold." jawab Ayu.
"Gimana, sehatkan?" tanya Ana.
"Alhamdulillah. Lo gimana? Udah lama nggak ketemu." tanya Ayu.
"Alhamdulillah baik. Aku sama Rifki, lagi sibuk akhir-akhir ini." jawab Ana.
"Kapan-kapan main lah ke kontrakan." ucap Ayu.
" Iya. Kalo nggak sibuk." ucap Ana.
"Kangen tahu." Ayu memeluk Ana. Ana membalas nya.
"Nggak pernah ke klinik lagi, ya?" tanya Ana
"Belum sih." jawab Ayu.
"Kapan nih, kalian nyusul, Putra?" tanya Ayu.
"Masih lama." jawab Ana.
"Nggak tahu. Tadi sama mamanya, Zainal." jawab Ayu.
"Mana sih, Rifki?" Ayu melihat kanan kiri.
"Disini. Kenapa nyariin gue, kangen pasti." ucap Rifki.
"Nggak. Kok tiba-tiba ada dibelakang gue. Kaya jalangkung datang tak di jemput pulang tak di antar." ucap Ayu.
"Enak aja, ngatain gue jalangkung." Rifki menjitak pelan kepala Ayu.
"Aduhh. Sakit tahu." Ayu mengerucutkan bibirnya.
"Sama siapa? Pasti sendirian, kan jomblo?" ucap Rifki.
"Nggak lah. Gue sama, Arnold." ucap Ayu.
"Hay, Rif. Udah lama nggak ketemu." Arnold tersenyum tipis.
"Iya. Gue bersyukur kalo nggak ketemu, lo." ucap Rifki dingin.
"Sayang." Ana memukul pelan lengan Rifki.
"Oh iya. Ini kapan sih akad nya?" tanya Ayu.
__ADS_1
"Sebentar lagi. Putra belum dateng." jawab Rifki.
"Katanya mulainya jam sembilan. Ini udah jam sembilan lebih loh." Ana melihat jam ditangan nya.
"Nggak pa-pa. Biar batal sekalian pernikahannya." ucap Rifki tanpa dosa.
"Husss. Rifki." Ayu menatap tajam Rifki.
"Itu bukannya, Putra." ucap Ana.
"Mana?" tanya Ayu.
"Ituloh."
"Oh iya. Sebentar lagi dimulai ini." ucap Ayu.
"Ar. Gue ke toilet bentar, ya." pamit Ayu. Arnold mengangguk. Ayu melangkah menuju toilet.
Bruk! Ayu tak sengaja menabrak seseorang.
"Aduh. Lo nggak punya mata, ya?" Ayu melotot.
"Lo yang nabrak. Kenapa gue yang dimarahin? Dasar cewek gila." ucap laki-laki itu.
"Enak aja cewek gila. Gue waras ya, lu itu yang gila." ucap Ayu.
"Minggir. Alergi gue bersentuhan sama, lo" ucap Ayu. Laki-laki itu sedikit menggeser tubuhnya. Ayu melewati nya.
"Dasar cewek gila." ucap laki-laki itu.
\*\*\*
"Lu kuat, Yu. Jangan nangis. Bukannya lo sendiri yang bilang kalo nggak akan nangis." Ayu mencoba menguatkan hatinya. Tetapi air matanya tetap menetes.
Ayu menarik nafas. "Bismillah." Ayu keluar dari toilet.
"Bismillahirrahmanirrahim. Putra Pangestu Bin Fadhel Pangestu. Aku nikahkan engkau dengan putri ku. Jihan binti Utsman dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Jihan binti Usman dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.
Sah
Sah
Sah
Ayu berhenti melangkah. Dia menahan air matanya. Ayu melangkah keluar.
"Gue nggak sekuat itu." Batin Ayu.
"Bang. Anter saya ke alamat ini, ya." ucap Ayu dengan suara serak.
"Iya, Neng." Lalu abang tukang ojek melajukan motornya.
__ADS_1
Bersambung....
Maaf ya banyak typo🙏