
"Ayu. Yang ini bagus deh kalo, Lo yang pakek."Ucap Irna menunjukkan dres warna hitam.
"Lo kan, suka warna hitam."Tambah Irna.
"Masa sih?"Ucap Ayu.
"Iya. Beneran deh, lo coba aja dulu."Ucap Irna.
"Nggak ah."Ucap Ayu.
"Nyesel nanti, lo."Ucap Irna.
"Rifki, dres ini bagus kan?"Tanya Irna pada Rifki.
"Iya. Bagus."Jawab Rifki.
"Tuh kan, udah ambil aja, yu."Ucap Irna.
"Dres nya emang bagus. Tapi, duit gue yang nggak bagus."Ucap Ayu.
"Pakek duit gue dulu."Ucap Irna.
"Nggak lah, Ir."Ucap Ayu.
"Ya udah lah. Jangan nangis nanti, kalo di rumah."Ucap Irna.
"Mana ada gue nangis."Ucap Ayu.
Irna meninggalkan Ayu dan Rifki, dia memilih-milih baju yang lain. Ayu hanya melihat-lihat saja, tidak berniat membelinya. Karna uang nya di tabung untuk nanti jika dia melahirkan dan kebutuhan lainnya.
"Lama banget sih,. Irna."Ucap Ayu kesal.
"Sayang. Ayo cepetan!"Ucap Zainal. Zainal bosan menunggu Irna.
"Iya. Sebentar lagi."Jawab Irna.
"Capek tau."Ucap Zainal dengan nada kesal.
"Iya. Bawel banget sih."Ucap Irna.
"Aku ke mobil duluan, ya?"Ucap Zainal.
"Iya. Ajak Ayu juga, ya."Ucap Irna.
"Kasihan dia."Tambah Irna. Zainal mengangguk. Lalu, dia menghampiri Ayu.
__ADS_1
"Ke mobil aja, yok."Ucap Zainal pada Ayu.
"Irna, gimana?"Tanya Ayu.
"Dia udah bilang, suruh duluan aja."Jawab Zainal. Ayu mengangguk. Lalu mereka keluar dari toko, menuju mobil milik Zainal.
Blam! Ayu menutup pintu mobil.
"Loh. Rifki mana, yu?"Tanya Zainal.
"Nggak tahu."Jawab Ayu.
"Gue kira di mobil tadi."Ucap Zainal.
Blam! Rifki menutup pintu mobil.
"Dari mana, lo?"Tanya Zainal.
"Beli minuman."Jawab Rifki.
"Oh."Ucap Zainal. Rifki memberikan minuman pada Zainal.
"Ini, yu."Rifki memberikan minuman pada Ayu.
"Makasih."Ayu menerima nya. Rifki mengangguk. Ayu membuka minuman tersebut. Belum sempat Ayu minum, perut nya mual. Ayu keluar dari mobil.
Blam! Ayu menutup pintu mobil.
Zainal dan Rifki keluar dari mobil. Menghampiri Ayu. Lalu, Rifki. Memijat pelan tengkuk Ayu.
"Rif. Udah sana lo."Usir Ayu.
"Nggak pa-pa."Ucap Rifki.
"Jorok, Rif."Ucap Ayu.
"Nggak."Jawab Rifki.
"Ini, air mineral nya."Zainal memeberikan pada Ayu. Ayu menerima nya. Lalu, meminum nya sedikit.
"Udah enakan?"Tanya Rifki. Ayu mengaguk. Irna tiba-tiba muncul.
"Ayu kenapa?"Tanya Irna.
''Nggak tahu. Tiba-tiba muntah-muntah."Jawab Zainal.
__ADS_1
"Ya udah. Kita pulang."Ucap Irna. Lalu, mereka semua kembali ke mobil.
"Ini, minyak kayu putih."Irna memberikan pada Ayu. Ayu menerima nya.
"Maaf. Gue nggak tahu, kalo lo nggak suka minuman nya."Ucap Rifki.
"Nggak pa-pa. Biasa nya suka-suka aja, tapi nggak tahu, tumben."Ucap Ayu.
"Mungkin. Efek lo hamil, yu."Ucap Irna.
"Iya. Bawaan bayi, lu."Ucap Zainal.
"Ini, sampai kapan kita di sini?"Tanya Ayu.
"Oh iya. Sampek lupa."Ucap Zainal. Lalu, dia melajukan mobil nya dengan ke cepatan sedang.
"Lu, suka buah apa, yu?"Tanya Zainal.
"Biasanya mangga muda."Ucap Rifki.
"Lu mau, yu?"Tanya Zainal.
"Tapi, jangan yang muda, yang udah kuning aja."Tambah Zainal.
"Biasanya, kalo orang hamil suka yang masem-masem."Ucap Rifki.
"Nggak. Yang udah kuning."Ucap Zainal.
"Nggak. Yang masih muda."Ucap Rifki tak mau kalah.
"Yang kuning."Ucap Zainal dengan melotot ke arah Rifki.
"Yang masih muda. Waktu mama gue, hamil dulu. Suka yang masih muda."Ucap Rifki.
"Itu kan mama lo. Bukan, Ayu."Ucap Rifki. Irna dan Ayu saling pandang, heran dengan mereka berdua.
"Hey, yang hamil itu, Ayu. Bukan kalian."Ucap Irna.
"Ya udah. Biar adil, Ayu suka yang mana?"Tanya Rifki.
"Jawab, Yu!"Ucap Zainal. Ayu diam beberapa menit. Zainal dan Rifki mendengar kan dengan serius.
"Nggak dua-dua nya."Jawab Ayu. Irna tertawa.
"Hahaha."
__ADS_1
Bersambung........…