Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Rifki, suka sama lu


__ADS_3

Blam! Irna dan Zainal, menutup pintu mobil. Ayu hendak membuka pintu mobil, tetapi Rifki mencegah nya.


"Ayu!"Cegah Rifki.


"Kenapa?"Tanya Ayu.


"Ini."Rifki memberikan sesuatu pada Ayu. Ayu menerima nya.


"Makasih."Ayu keluar dari mobil. Ayu melangkah menuju rumah.


"Masuk, Ir. Udah malem." Ucap Ayu masuk ke dalam rumah.


"Ya udah. Aku pulang dulu."Pamit Zainal.


"Iya. Hati-hati."Irna masuk ke dalam rumah.


Irna duduk di depan Ayu. Ayu terlihat sangat lelah, mungkin karena banyak fikiran.


"Yu, ini apa? Perasaan Lo tadi nggak beli apa-apa." Tanya Irna penasaran.


"Di kasih sama, Rifki. Coba buka aja."Jawab Ayu sambil memijat kaki nya. Irna membuka nya.


"Dres. Iniikan, yang dres tadi."


"Tadi, Rifki yang kasih." Ucap Ayu dengan melihat dres nya.


"Kenapa sih, Rifki. Sama lu baik banget."


"Apa mungkin, Rifki. Suka sama lu?" Ucap Irna.


"Nggak lah. Setahu gue, Rifki. Udah tunangan." Ayu berlalu masuk kamar.


"Kalo emang, Rifki. Ah. Bodo amat." Irna menyusul Ayu masuk ke kamar.


"Ir, Lo kan udah mau tunangan. Berarti lo udah ketemu sama keluarga nya, Zainal?" Tanya Ayu.


Irna mengangguk. "Iya. Ternyata, keluarga nya baik banget. Papa sama Mama nya, suka sama gue."Jawab Irna dengan tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kalo baik. Gimana, sama saudara nya? Baik juga kan?" Tanya Ayu.


Irna menggangguk. "Iya. Zainal cuma punya adek satu,perempuan." Jawab Irna.


"Beda banget, kalo sama keluarga nya, Irfan." Tambah Irna.


"Gue kan, udah bilang. Nggak semua orang sama, Irna." Ucap Ayu.


Irna mengangguk. "Oh iya. Putra gimana?" Tanya Irna.


"Lu kan, tahu sendiri. Waktu kemarin gimana." Jawab Ayu.


"Iya sih. Parah banget sih, Putra."Ucap Irna.


"Nggak pa-pa, kalo emang, Putra. Nggak mau nikahin gue. Gue bisa ngurus anak gue sendirian." Ucap Ayu.


"Gue yakin, lo perempuan yang kuat, kita besarin anak ini sama-sama. Inget, masih ada gue. Gue nggak akan pernah ninggalin lo sendirian!" Ucap Irna.


Ayu memeluk Irna. "Makasih ya, Ir."


Irna menggangguk. "Udah malem. Tidur sana."


"Kasihan, Ayu. Gue nggak bisa bayangin, kalo gue di posisi nya. Pasti berat banget jadi, Ayu. Semoga baby dalam kandungan nya baik-baik aja. Gue yakin, lo wanita yang kuat. " Irna menarik selimut nya dan tertidur.


\*\*\*


Hoam! Irna menguap. Irna melihat jam dinding sudah jam lima pagi. Lalu, dia bangkit berjalan gontai masuk kamar mandi. Sedangkan Ayu masih tertidur.


Drttt!


Hp Ayu bergetar. Ayu membuka matanya, lalu mencari hp nya di bawah bantal. Menekan tombol hijau. Tanpa melihat siapa yang menelepon nya pagi-pagi.


Halo, siapa?Tanya Ayu.


Rifki. "Jawab nya.


Kenapa? Tanya Ayu.

__ADS_1


Sore ini, lu sibuk nggak?" Tanya Rifki.


Nggak. Jawab Ayu.


Gue mau kenalin lo, sama seseorang. Ucap Rifki.


Perempuan apa laki-laki?Tanya Ayu.


"Perempuan.Jawab Rifki.


Iya. Tapi jam lima gue baru ada di rumah. Ucap Ayu.


Ok.


Tut tut tut .Ayu mematikan sambungan telepon nya. Ayu bangkit keluar kamar, menuju kamar mandi.


Ceklek! Irna keluar kamar mandi. Lalu, Ayu masuk ke dalam kamar mandi.


\*\*\*


"Yu. Lu mau naik apa ke toko?" Tanya Irna.


"Angkot." Jawab Ayu sambil memasukan hp nya ke dalam tas nya.


"Pesan taksi aja."Ucap Irna.


Ayu menggeleng. "Nggak bisa." Ucap Ayu.


"Kenapa mesti nggak bisa?"Tanya Irna.


"Gue harus banyak nabung, Ir."Jawab Ayu.


"Gue yang bayar."Ucap Irna.


"Nah, kalo begitu. Ayo kita berangkat." Ayu menarik tangan Irna keluar kamar.


"Pintu nya, belum di kunci."Ucap Irna.

__ADS_1


Ayu menepuk keningnya. "Lupa." Ayu dan Irna tertawa. Lalu mereka berjalan menuju mobil.


Bersambung.......


__ADS_2