Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Doa in ya


__ADS_3

"Yu. Lo ke acara pernikahannya, Putra?" tanya Irna.


"Iya. Gue juga di undang kok, Ir." jawab Ayu.


"Lo, yakin mau dateng, Yu?" tanya Irna.


"Iya. Kenapa nggak yakin." jawab Ayu.


"Mmmm. Lo udah siapin kadonya belum?" tanya Irna.


"Belum. Kira-kira apa, ya?"


"Ini. Gue tadi beli dua, buat lo satu." ucap Irna.


"Makasih ya, Ir." ucap Ayu.


"Sama-sama." Irna tersenyum.


"Yu!" panggil Irna.


"Hmmm."


"Terus, gimana sama anak yang lo kandung, Yu?" Tanya Irna. Ayu memandang Irna. Lalu memegang erat tangan Irna.


"Ir. Lo percaya sama gue. Gue bisa besarin anak gue sendiri. Gue nggak butuh orang kaya, Putra. Dia udah permaluin gue, Ir. Dan gue nggak pernah bisa maafin dia!" ucap Ayu sendu.


"Tapi, kalo anak ini udah besar dia pasti tanya bapaknya dimana, Yu. Gue bisa bantu lo gagalin pernikahan, Putra sama Jihan." ucap Irna.


"Irna. Gimana kalo keluarga, Zainal tahu. Lo itu nggak mikirin kedepannya gimana, Ir. Gue nggak mau, karna gue hubungan lo sama, Zainal. Jadi hancur. Kalo anak gue, tanya tentang bapak nya, gue bisa alesan bapak nya mati kek apa gimana." ucap Ayu.


"Tapi....."


"Ir. Sebenernya gue masih cinta sama, Putra. Sebenernya gue pengen banget dia mau nikah sama gue. Tapi, Putra udah hina gue didepan temen-temen nya, Ir. Lo nggak tahu malu nya gue kek gimana? Walaupun sampai kapanpun gue nggak akan pernah maafin, Putra. Sesakit-sakit nya lo lihat gue begini, masih sakit gue, Ir." Ayu terisak.


"Asal lo tahu, Ir. Berkali-kali Jihan ngancem gue, baju bayi itu dari siapa kalo bukan dari perempuan itu. Sih, Putra. Permaluin gue di depan banyak orang. Sampek sekarang gue kalo ketemu temen-temen nya malu. Sih, Arnold. Menghina gue." Ayu semakin terisak.


"Maaf. Gue nggak tahu, Yu." Irna memeluk Ayu.


"Biarin mereka dapet balasan nya sendiri, Ir. Biar gue cari kehidupan baru, Ir. Walaupun punya anak tanpa suami. Walaupun gue dibuang sama orang tua gue. Walaupun gue hidup sendiri."


"Yu. Lo nggak pernah sendirian, ada gue yang selalu ada buat, lo." Ucap Irna.


\*\*\*


"Ar. Lo besok ke acara, Putra sama siapa?" tanya teman Arnold.


"Kepo, lu." ucap Arnold.


"Sih, Arnold. Udah pasti sendirian, kan dia jomblo dari dulu." teman-teman Arnold tertawa.


"Berisik lo pada." Arnold membuka hp nya. Dia memandang fotonya dan Ayu.


"Cantik, manis, imut. Gue pasti bisa dapetin lo. Gue yakin sih, Putra sama Jihan. Bakal kebakaran kalo besok gue dateng sama, Ayu." Arnold tersenyum.

__ADS_1


\*\*\*


"Ayu. Gue duluan, ya." ucap Irna. Ayu mengangguk.


"Oh iya. Lo sama siapa?" tanya Irna.


"Sama, Arnold." jawab Ayu.


"Oh. Gue berangkat dulu, ya." pamit Irna.


"Ini masih pagi banget loh, Ir. Baru jam 06.30." Ayu melihat jam di hp nya.


"Iya. Gue disuruh pagi-pagi sama, calon mertua gue." ucap Irna.


"Emang akad nikahnya kapan sih?" tanya Ayu.


"Jam sembilan. Lo harus tepat waktu, ya." ucap Irna.


"Iya. Tapi......"


"Udah. Zainal udah nunggu didepan." Irna melangkah keluar kamar.


"Irna. Gue pakek baju apa?" teriak Ayu.


"Terserah lo. Tapi pakek jilbab, ya." jawab Irna.


"Haduh. Pakek baju apa, ya?" Ayu membuka lemari.


"Mmmmm. Mandi dulu, ahh." Ayu keluar menuju kamar mandi. Tak berapa lama, Ayu keluar dari kamar mandi. Ayu membuka tutup saji.


Tok tok tok.


"Haduh. Ganggu aja, siapa sih."


"Sebentar." Teriak Irna.


Ceklek! Ayu membuka pintu.


"Hay. Kok belum siap?" Arnold tersenyum.


"Ehh iya. Aku masih makan." jawab Ayu.


"Lo cantik pakek daster ini." puji Arnold.


"Kaya ibu-ibu, ya?" Ayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nggak. Tambah manis." ucap Arnold.


"Oh iya. Masuk dulu, Ar." ucap Ayu. Lalu Arnold masuk kedalam rumah.


"Lo duduk aja dulu, gue siap-siap dulu, ya." Ayu masuk kamar. Lalu keluar lagi.


"Kenapa?" Arnold mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Mau makan nggak?" tanya Ayu. Arnold menggeleng. Ayu masuk lagi ke kamar.


Sudah satu jam lamanya Ayu didalam kamar.


"Mana ini, Ayu. Lama banget sih. Udah jam delapan loh." Gumam Arnold. Tak berapa lama, Ayu keluar.


"Lama, ya nunggu nya?" tanya Ayu.


"Nggak." jawab Arnold.


"Ya udah. Ayo." ucap Arnold.


"Bentar ya, gue ambil kado nya dulu." ucap Ayu.


"Begini nih, cewek emang lama banget." Batin Arnold kesal.


"Udah. Ayo." Mereka berdua keluar dari rumah. Menuju mobil sport warna hitam milik Arnold.


"Ehhh. Gue ambil hp dulu, ya." Ayu masuk dalam rumah kembali.


Blam! Arnold membanting pintu mobil.


"Entah nanti apa lagi yang ketinggalan." ucap Arnold kesal.


Blam! Ayu menutup pintu mobil.


"Maaf. Lama ya nunggu nya, Ar." ucap Ayu.


"Iya. Nggak pa-pa kok." Arnold tersenyum terpaksa.


"Senyuman, lo." Ayu terkekeh.


"Kenapa, manis ya?" tanya Arnold.


"Bukan. Kaya terpaksa banget." Ucap Ayu.


"Hehehe. Lo nggak sakit hati liat, Putra. Nikah sama orang lain? Sedangkan lo hamil anak nya dia.''ucap Arnold.


"Ayo, buruan jalan. Nanti telat loh, Ar." ucap Ayu. Arnold melajukan mobilnya.


"Gue yakin, Ayu. Pasti masih cinta sama, Putra." batin Arnold.


"Sebenernya gue sakit hati. Sakit banget. Tapi gue nggak ada hak buat sakit hati." Batin Ayu.


"Lo itu cantikan pakek jilbab tahu, Yu." ucap Arnold.


"Masa sih?" tanya Ayu.


"Iya. Kenapa nggak pakek jilbab terus?" tanya Arnold.


"Doa in, ya." ucap Ayu.


"Gimana mau doa in lo. Gue aja ngga pernah solat." ucap Arnold. Ayu menepuk keningnya lalu tertawa.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2