Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Andaikan gue bisa jadi suami nya


__ADS_3

"Ternyata, Ayu. Asik ya orang nya." Arnold tersenyum.


"Hmmm. Tahu dari mana, lu?" tanya Putra.


"Gue tadi main ke kontrakan nya." jawab Arnold.


"Ngapain ke kontrakan, Ayu?" tanya Putra.


"Oh iya. Gue lupa nggak minta nomer WA nya." ucap Arnold.


"Ngapain lo ke kontrakan, Ayu?" tanya Putra sekali lagi.


"Ya, mau ngapain aja terserah, gue." jawab Arnold.


"Lagian, Ayu. Nggak punya suami atau pacar." Tambah laki-laki itu.


"Terserah, lu." ucap Putra.


"Ayu itu. Manis, cantik, dan asik banget. Andaikan gue bisa jadi suami nya." Ucap Arnold.


"Emang lu mau sama, Ayu? Cewek yang udah hamil tanpa suami. Dia itu murahan, Ar." ucap Putra. Arnold memandang Putra.


"Bukan nya, lu yang hamilin dia?" Arnold mengerutkan keningnya.


"Gue nggak perduli itu semua, Put. Dan gue tahu siapa yang hamilin, Ayu. Gue akan nggap anak nya, anak gue juga. Yang penting dia bisa nerima gue apa adanya. Gue nyesel dulu maki-maki dia." ucap Arnold.


"Lo baru kenal dia, Ar." ucap Putra.


"Emang kenapa kalo gue baru kenal dia?" tanya Arnold.


"Nanti, Lo nyesel." jawab Putra.


"Nggak akan. Apa lo masih cinta sama, Ayu?" Arnold memandang lekat mata Putra.


"Nggak lah. Gue hanya cinta sama, Jihan." jawab Putra.


"Put. Dalam dunia ini hanya ada tiga wanita yang gue cinta. Gue nggak mau kehilangan mereka." ucap Arnold.


"Tiga. Yang pertama nyokap, lu. Yang dua siapa?" Putra mengerutkan keningnya.


"Ayu." jawab Arnold.


"Yang satu lagi siapa?" tanya Putra.


"Lo nggak perlu tahu, Put." jawab Arnold.


"Yang pasti. Gue udah lama, berhubungan sama perempuan itu." Arnold menepuk pundak Putra.


"Terserah lu, Ar." ucap Putra.


"Nanti juga lu tahu orang nya." Arnold tersenyum.


"Terus, gimana sama, Ayu?" tanya Putra.


"Gue pasti bisa dapetin, Ayu." jawab Arnold.


"Masa lo nikahin dua-dua nya." ucap Putra.


"Hahaha. Kalo bisa, kenapa nggak." Arnold tertawa.


"Jangan macem-macem, Ar." ucap Putra.

__ADS_1


"Lu, hati-hati sama, Jihan." ucap Arnold.


"Kenapa?" tanya Putra.


"Gue yakin. kalo, Jihan. Masih berhubungan sama selingkuhannya dulu." ucap Arnold.


"Tahu dari mana, lu?" tanya Putra.


"Gue balik dulu, di suruh mami." Arnold berdiri. Lalu melangkah keluar.


"Sih, Arnold. Tumben banget, pulang nya cepet, Put.?" tanya salah satu teman Putra.


"Kalian nggak berantem kan?" tambah laki-laki itu.


Putra menggeleng. "Di suruh mami nya, pulang cepet." ucap Putra.


"Sabar, Bro." Temannya menepuk pelan pundak Putra. Putra menatap bingung ke arah temannya.


...***...


Hoam! Irna menguap sambil merenggangkan otot tangan. Matahari sudah meninggi. Irna melihat jam di dinding sudah jam sembilan pagi. Irna berjalan gontai keluar kamar sambil memejamkan mata nya.


"Buka dulu matanya, Irna." ucap Ayu.


"Hmmmm." Irna masuk kamar mandi.


"Ayu. Tolong ambilin handuk." Teriak Irna dari dalam kamar mandi.


Tok tok tok. Ayu mengetuk pintu kamar mandi.


"Ir. Ini handuk nya."


"Mana?" Ayu memberikan pada Irna.


"Terima kasih, Ayu." ucap Ayu.


Tak berapa lama, Irna keluar dari kamar mandi. Irna membuka tutup saji kosong.


"Lu belum masak, Yu?" tanya Irna.


"Hehehe. Belum. Tapi, gue udah buat susu dan ini ada roti." jawab Ayu.


"Kenapa nggak masak?" tanya Irna.


"Udah ada roti, Ir. Banyak loh rotinya." jawab Ayu.


"Gue nggak bisa sarapan roti, Yu." ucap Irna.


"Oh iya. lupa gue. Nanti gue beliin di tempat, mbk Jum." ucap Ayu.


"Emang ada?" tanya Irna.


"Ada." jawab Ayu.


"Udah sana, ganti baju." perintah Ayu pada Irna.


"Iya." Irna masuk kamar.


"Ir. Gue beli nasi uduk dulu, ya." ucap Ayu.


"Iya. Jangan lama-lama, ya." ucap Irna.

__ADS_1


"Iya." Ayu membuka pintu. Lalu melangkah menuju rumah mbk Jum.


"Hay. Ayu." Sapa seorang lelaki.


"Siapa?" Ayu mengerutkan keningnya. Laki-laki itu membuka helm nya.


"Arnold. Mau kemana?" tanya Ayu


"Mau main ke kontrakan, lu." jawab Arnold.


"Oh. Tapi, gue ke depan sebentar, ya." ucap Ayu.


"Mau ngapain?" tanya Arnold.


"Mau beli nasi." jawab Ayu.


"Mmmm. Gue ikut, boleh nggak?" tanya Arnold.


Ayu mengangguk. "Boleh." jawab Ayu. Arnold turun dari motor nya. Lalu, mereka jalan beriringan.


"Selalu beli nasi, kalo pagi begini?" tanya Arnold.


"Nggak. Biasanya, Irna yang masak." jawab Ayu.


"Kalian nggak kerja?" tanya Arnold.


"Nggak. Libur untuk beberapa hari ini." jawab Ayu.


"Boleh dong. Kalo kita jalan-jalan sebentar?" tanya Arnold.


"Boleh aja." Ayu tersenyum.


"Mbk Jum. Nasi nya tiga, sama ayam bakar nya tiga, ya." ucap Ayu.


"Siap, Neng." ucap mbk Jum.


"Duduk sini, Ar." Ayu memberikan kursi pada Arnold.


"Makasih." ucap Arnold.


"Gue ke dalem dulu, ya." pamit Ayu. Arnold mengangguk.


"Tumben sepi. Biasanya rame, mbk?"tanya Ayu.


"Iya. Neng, itu pacarnya, ya?" tanya mbk Jum.


"Bukan. Temen saya." jawab Ayu.


"Masa sih, Neng?"


"Iya. Beneran deh." ucap Ayu.


"Ini, Neng." Mbk Jum memberikan pesanan Ayu.


"Makasih, mbk." Ayu menerima nya.


"Sama-sama." jawab mbk Jum.


"Ar. ayo, pulang." Ucap Ayu. Lalu, mereka pulang ke kontrakan.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2