
"Oh, jadi begitu ceritanya.'' ucap Ana. Ayu mengangguk.
''Kenapa hp kamu tidak bisa di hubungi?" tanya Ana.
''Lowbet.'' jawab Ayu.
''Oh. Aku kira kamu diculik, kok nggak pulang-pulang.'' ucap Ana.
''Aku kerumah teman ku,'' sahut Ayu.
''Alhamdulilah kamu nggak kenapa-kenapa.'' Ana tersenyum.
''Ana, Ayu. Mari kita sarapan.'' teriak Irna dari luar kamar.
''Ayu? Bukannya dia tidak ada?'' Zainal mengernyit.
''Ayu sudah pulang semalam.'' jawab Irna.
Tak berapa lama, Ayu dan Ana keluar dari kamar. "Ini dia, orang yang sudah buat kita semua pusing kemarin.'' ucap Zainal.
''Dari mana saja, lo?'' tanya Rifki menatap Ayu. Ayu mengusap tengkuknya.
''Hehehe. Dari rumah teman.'' jawab Ayu.
''Kenapa hp nya tidak bisa di hubungi?'' tanya Arnold lembut. Zainal menatap Arnold sinis. ''Sok manis.'' gumam Zainal.
''Lowbet.'' jawab Ayu singkat.
''Kalau emang lo kerumah temen, lo. Kenapa nggak izin dulu sama, Arnold? Jadi kita semua nggak khawatir, kesana kemari nyariin, lo.'' ucap Rifki datar.
''Maaf, gue fikir nggak usah izin, karna acaranya pun sudah selesai.'' Ayu menunduk. Dia merasa bersalah.
''Kita semua itu khawatir, Yu. Dan bukannya acaranya belum selesai?'' Rifki menatap Ayu lurus.
''Rumah teman lo itu dimana sih?'' tanya Zainal.
''Dan, bukannya kita semua larang lo, datang ke acaranya, Putra.'' ucap Rifki. Irna memandang Ayu iba.
''Maaf, sudah buat kalian semua khawatir.'' ucap Ayu lirih.
__ADS_1
''Sudah. Yang penting Ayu tidak kenapa-kenapa, selamat dan baik-baik saja.'' ucap Ana memandang Ayu iba.
''Mari, kita sarapan dulu, Bukannya kalian juga mau kekantor?'' ucap Irna. Lalu mereka semua makan dengan tenang.
...***...
Setelah mereka semua selesai makan, mereka semua pamit pulang. Tinggallah, Ayu dan Irna. Setelah Irna mengantarkan Zainal sampai di depan, Irna masuk kedalam. Lalu dia menutup pintu. Ayu menonton tv sambil tiduran.
''Yu,'' panggil Irna. Ayu menoleh. ''Kenapa, Ir?'' tanya Ayu.
''Gue tahu, lo bohongkan? Gue tahu banget, kalau lo itu nggak ke rumah temen, lo.'' ucap Irna. Ayu mengubah posisi yang awalnya tiduran menjadi duduk menghadap lurus Irna. Lalu dia menunduk tidak berani menatap wajah Irna.
''Iya. Gue bohong sama, Rifki dan Zainal. Gue kemarin ke jembatan untuk nenangin diri gue, Ir. Gue sakit hati, gue kecewa, gue marah. Laki-laki yang gue cinta, nikah sama orang lain. Bukan itu yang buat gue kecewa. Tapi, karna dia laki-laki yang udah ngehamilin gue, nikah sama orang lain. Dan bukannya tanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat. Dia malah seneng-seneng sama perempuan lain. Sedangkan disini gue yang nanggung semuanya. Nanggung malu, nanggung sakit.'' ucap Ayu terisak. Air mata yang dia tahan dari tadi lolos begitu saja. ''Dan nggak akan ada laki-laki yang mau sama gue lagi.'' Irna menangis mendengar keluhan Ayu.
Ayu mendongakkan kepalanya, menatap Irna. ''Wanita mana yang nggak sakit hati, nggak kecewa, kalau lihat kekasihnya di pelaminan dengan wanita lain, bukan dirinya. Apalagi dalam keadaan hamil anak laki-laki itu. Rasanya gue pengen mati aja, Ir. Biar nggak ada beban yang gue tanggung.'' Ayu semakin terisak. ''Sebenernya gue bisa bunuh diri, tapi gue mikirin anak yang ada dikandungan gue, dia juga pengen hidup di dunia, dan dia nggak salah dalam masalah ini. Walaupun nanti suatu saat, dia di ejek-ejek sama temen-temennya kalau nggak punya ayah.'' Irna memeluk Ayu.
''Lo harus tahu, Yu! Gue akan selalu dia samping, lo. Gue akan selalu ada buat lo, dan anak lo. Dia bukan hanya anak lo, tapi anak gue juga.'' Irna melepaskan pelukannya. Dia menangkup kedua pipi Ayu yang sudah di banjiri air mata. ''Gue bisa lakuin apa aja buat, lo. Kalau lo takut anak lo nggak punya ayah, Zainal bisa jadi ayahnya! Biar dia nikah sama, lo. Gue ikhlas, Yu. Gue nggak tega lihat lo kaya begini, Yu. Kita jalanin ini semua sama-sama, Yu.'' ucap Irna menangis.
Ayu menggeleng. ''Teima kasih, udah baik sama gue, Ir. Tapi gue nggak segila itu, Ir. Mau nikah sama calon suami sahabat gue sendiri! Demi kesalahan orang lain. Gue nggak mau ngorbanin lo, Ir. Lo sakit gue sakit. Gue udah bersyukur banget, karna lo sama Zainal. Udah selalu ada buat gue. Gue nggak mau lo ngomong begitu lagi, Ir.'' ucap Ayu. Irna mengangguk.
...***...
''Hay, Bro. Pengantin baru udah disini aja,'' Arnold menepuk pelan pundak Putra. Putra menoleh ke arah Arnold.
''Ke kamar aja, yuk. Gue mau mandi dulu.'' Putra mengangguk. Lalu mereka melangkah menuju kamar Arnold.
Ceklek! Arnold membuka pintu kamar, lalu menutup nya kembali setelah mereka masuk kedalam. Putra menjatuhkan tubuhnya di sofa, menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memijat pelipisnya. Arnold duduk disebelah Putra.
''Gue tahu, kalau lo lagi ada masalah. Makanya gue ajak lo kekamar aja, biar enak curhatnya, bapak satu ini.'' ucap Arnold. Putra menoleh sekilas.
''Kayaknya Jihan masih berhubungan sama laki-laki itu.'' ucap Putra.
''Lo tahu dari mana?'' tanya Arnold.
''Tadi, gue pergokin dia lagi telfonan dikamar, katanya sih temannya. Tapi, kalau sama temannya kok sayang-sayangan, sih. Kis jauh juga, Ar.'' jawab Putra. Arnold menghela nafas berat.
''Gue 'kan udah bilang, masalah itu, Put. Emang lo udah mastiin itu laki atau perempuan?'' tanya Arnold. Putra menggeleng. ''Sudahlah, ikhlasin aja kenapa sih, dia sama laki-laki itu. Lo sama Ayu, Jihan sama laki-laki yang dia inginkan. Mungkin Jihan nggak cinta sama lo!'' Putra menatap Arnold.
''Gini loh, Ar. Kalau emang dia udah nggak cinta sama gue, kenapa dia mau rujuk sama gue? Gue nggak maksa dia buat rujuk sama gue, bahkan waktu itu, kalau Jihan nolak gue, gue mau nikah sama, Ayu.''
__ADS_1
''Sebenarnya disini tuh, lo yang terlalu bodoh, Put. Udah ada perempuan yang nerima lo apa adanya, malah milih yang ada apanya. Jihan itu cuma cinta sama duit, lo. Sekarang lo udah jadi direktur, perusahaan Papa lo berkembang pesat. Itu yang buat dia mau rujuk sama lo lagi.'' ucap Arnold berusaha tidak terbawa emosi karna Putra terlalu bodoh.
''Apa mungkin selingkuhan, Jihan bukan orang kaya?'' ucap Putra sambil memandang plafon kamar Arnold. ''Miskin maksud, lo?'' tanya Arnold. Putra mengangguk.
''Ya, nggkalah, Put. Mungkin aja selingkuhan Jihan itu masih kuliah sama kaya Jihan.'' ucap Arnold.
''Entahlah. Gue nggak bisa hidup tanpa Jihan, Ar. Gue akui kalau cantikan Ayu dari pada, Jihan. Tapi, gue lebih cinta sama Jihan dari pada, Ayu.'' sahut Putra.
''Ya udah. Berarti lo harus bisa lihat dia selingkuh.'' ucap Arnold.
''Gue tetap mempertahankan, Ar. Selagi gue nggak lihat dia tidur sama laki-laki lain.'' sahut Putra. Arnold tersenyum sinis. ''Lo aja yang nggak tahu, Put.'' gumam Arnold.
''Terserah, kalau emang itu udah jadi keputusan, lo.'' ucap Arnold. Putra hanya diam.
''Oh iya. Kemarin setelah acara lo, Ayu hilang entah kemana. Makanya gue baru pulang pagi ini.'' ucap Arnold memberi tahu Putra.
''Sekarang gimana? Udah ketemu apa belum? Apa dia diculik penjahat? Bukannya dia sama lo, ya? Kok bisa sampai hilang? Gimana ceritanya?'' tanya Putra beruntun.
''Satu-satu pertanyaan nya. Kenapa khawatir?'' tanya Arnold. Putra berdiri. ''Ayo, gue bantu nyari, Ayu. Atau lapor polisi aja.'' Putra memegang pergelangan tangan Arnold. Arnold memandang Putra tersenyum.
''Kenpa senyum-senyum? Ayo, gue tahu dimana biasanya tempat ayu kalau lagi kalut pikirannya.'' ucap Putra. Arnold tetap di tempat tidak bergerak, hanya tersenyum melihat tingkah Putra. ''Khawatir kan, lo?''
''Lama lo, Ar.'' Putra melangkah menuju pintu keluar.
''Mau kemana lo, Put?'' tanya Arnold. Putra berhenti melangkah, berbalik badan menghadap Arnold. ''Mau nyari, Ayu.'' jawab Putra. Arnold terkekeh.
''Nggak usah. Dia sudah pulang semalam.'' ucap Arnold. Putra melangkah menuju ke arah sofa kembali, duduk di tempat yang tadi dia tempati.
''Gimana keadaan nya? Ada yang luka nggak? Apa dia baik-baik saja?'' tanya Putra beruntun. Arnold menggeleng. Putra memukul pelan kepala Arnold.
''Serius, Ar. Jangan cuma geleng-geleng aja.'' ucap Putra geram.
''Dia baik-baik saja, bapak. Dari ujung kuku sampai rambut dan kepala.'' jawab Arnold.
''Syukurlah. Tapi dia hilang kemana?'' tanya Putra.
''Katanya ke rumah temannya,'' jawab Arnold.
Putra mengernyit heran. ''Bukan nya dia nggak punya temen, selain sih, Irna?'' Arnold mengedikkan bahunya. ''Mungkin dia sudah punya teman baru.'' sahut Arnold.
__ADS_1
''Ya sudah. Gue pulang dulu,'' Arnold mengangguk. Putra berdiri lalu melangkah keluar kamar.
Bersambung......