Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Kemarahan Jihan


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Putra tanpa merasa bersalah sama sekali pada wanita itu.


"Ada apa katamu?" bentak wanita itu. Putra mengangguk.


''Tentu saja aku ingin menghajar pelakor, ini!" lanjut wanita itu sambil menunjuk wajah Ayu.


''Sudahlah, Jihan. Jangan teriak-teriak disini, membuat ku malu saja.'' sahut Putra. Putra mendekat ke arah istri nya itu. Lalu, menarik tangan nya. Jihan menghempaskan tangan Putra, mendekat ke arah Ayu.


''Hey, kau pelakor, wanita murahan, wanita s*n*a*. Beraninya kau merayu suamiku! Aku sangat bersyukur, karna anak mu itu sudah tidak ada di bumi ini lagi. Itu karma karna kau selalu saja merayu suami orang!" ucap Jihan penuh emosi. Ayu menatap tajam wajah Jihan.


Plak! Putra menampar pipi istri nya itu. Jihan menatap Putra tidak percaya. Ayu terkejut melihat Putra menampar pipi Jihan.


''Kau menampar ku, Put?" tanya Jihan sambil memegangi pipinya yang memerah.


''Berani-berani nya kau bersyukur atas kematian anak ku! Anak ku berarti juga anak mu, Jihan!'' Putra menatap tajam Jihan.


''Cih. Dia bukan anak ku. Bukankah kau dulu bahagia, ketika anak ku tidak ada? Lalu, kenapa kau sangat merasa terpukul sekarang? Hah?''


''Setop!'' Ayu berteriak. ''Selesaikan masalah kalian di rumah kalian sendiri, jangan disini. Aku ingin istirahat.''lanjut Ayu sudah berderai air mata.


Jihan menarik rambut panjang Ayu. Sampai kepala Ayu mendongak ke atas.


''Ini semua gara-gara kau, sialan.'' teriak Jihan. Putra mencoba menghentikan Jihan. Tetapi, dia kuwalahan menghadapi Jihan yang sedang emosi.


Plak! Plak! Irna tiba-tiba menampar ke dua pipi Jihan sampai tertoleh ke samping. Kontan Jihan melepaskan jambakannya. Ayu menangis tersedu-sedu.


''Berani lo, nampar gur?'' lirih Jihan sambil memegangi pipinya yang memerah.


''Kenapa? Jangan coba-coba lu, nyentuh sahabat gue.'' sahut Irna. Jihan menoleh ke arah Zainal yang berdiri tak jauh dari Irna. Zainal menatap Jihan dengan tatapan tajam.


''Nal, kenapa kamu diam saja? Aku di tampar oleh kekasih mu.''

__ADS_1


''Aku tidak bisa membela mu, Han. Karna kamu memang salah.'' sahut Zainal menatap Jihan penuh kekecewaan. Saudara sepupunya yang di anggap sebagai adik nya sendiri. Ketika dia ada masalah Zainal selalu membela nya, pasang badan untuk saudaranya itu. Tetapi kali ini tidak.


''Aku yang salah kata mu?'' tanya Irna sambil menunjuk dadanya sendiri. Zainal mengangguk.


''Dia, wanita murahan, yang ingin merebut suami ku, Nal. Kau membelanya?'' Jihan menunjuk ke arah Ayu tepat di wajah nya. Irna menepis tangan Jihan dengan kasar.


''Tentu saja aku membelanya. Karna dia memang tidak salah dalam hal ini.'' sahut Zainal dingin. Putra menarik tangan Jihan. Tetapi Jihan menghentakkan tangannya.


.''Hey, pelakor. Awas saja kau, j*l*n*!'' ucap Jihan menatap tajam Ayu yang menangis tersedu-sedu. Lalu, Jihan keluar begitu saja, Putra menyusul Jihan keluar dari ruangan tersebut.


Irna mendekat ke arah Ayu, lalu menarik Ayu kedalam pelukannya. Ayu menangis sejadi-jadinya di pelukan Irna.


''Kenapa hidup ku semenderita ini, Ir? Aku pergi jauh dari dunia ini, Ir.'' ucap Ayu di sela tangisnya. Irna mengelus pelan pundak Ayu yang bergetar karna menangis. Agar Ayu merasa sedikit tenang.


''Shut. Jangan bicara seperti itu, Yu. Aku, Ayah, Ibu, Putri, Zainal, dan masih banyak lagi yang menyayangi mu,'' ucap Irna lembut.


''Aku ingin pergi saja dari dunia ini. Ambil saja nyawaku, Tuhan.'' Ayu menarik-narik rambut nya frustasi. Zainal memegangi tangan Ayu agar tidak menyakiti tubuhnya sendiri. Irna menangkup pipi Ayu yang sudah di banjiri air mata.


''Ayah sama Ibu kemari?'' tanya Ayu sambil tersenyum bahagia.


Irna mengangguk. ''Iya. Sekarang sedang di jemput oleh, Rifki.'' jawab Irna.


''Apa, Ayah sama Ibu sudah memaafkan ku?''


''Beliau akan memaafkan mu.'' jawab Irna.


''Kapan bisa pulang ke kontrakan?'' tanya Ayu.


''Besok sudah bisa pulang.'' jawab Irna. Ayu mengangguk. Lalu, menoleh ke arah Zainal.


''Terima kasih sudah menjenguk ku,'' ucap Ayu sambil tersenyum. Zainal mengelus rambut Ayu.

__ADS_1


''Jangan berlebihan begitu. Aku 'kan teman mu,'' Zainal tersenyum.


...****************...


Blam! Putra membanting pintu kamar nya. Putra mendorong tubuh Jihan hingga tersungkur di kasur king size nya.


''Apa maksud mu memaki dan mengahajar Ayu di rumah sakit, hah?'' teriak Putra.


''Kau sadar atau tidak, perbuatan mu itu membuat aku malu! Kau selalu saja membuat ku malu, Jihan.'' lanjut Putra. ''Memalukan.'' ucap Putra sinis. Jihan bangkit dari atas ranjang. Lalu mendekat ke arah Putra.


Plak! Plak! Jihan menampar ke dua pipi Putra dengan keras.


''Apa katamu tadi? Aku membuat mu malu. Bukankah perbuatan mu dan Ayu yang membuat malu, Put? Bukanlah kau dulu tidak mengakui anak yang di kandung, Ayu? Bahkan kau mempermalukan dia di depan teman-teman mu! Lalu, kenapa sekarang kau mengakuinya? Jawab aku, PUTRA PANGESTU yang terhormat.'' teriak Jihan. ''Oh, aku tahu. Apakah wanita itu memberikan tubuhnya ke pada mu? Apakah kau tidak puas hanya dengan ku saja, Put?''


''Setop, Jihan! Ayu bukan wanita seperti itu!''


Jihan terkekeh. ''Lalu, wanita seperti apa dia? Coba jelaskan pada ku. Akui saja jika memang kau berselingkuh dengan nya, 'kan?''


''Kenapa kau menuduhku selingkuh dengan, Ayu. Bukankah, kau yang selingkuh? Hah!''


''Mana buktinya jika aku selingkuh, brengsek!'' Jihan menatap Putra penuh amarah.


Putra melangkah menuju pintu. Tetapi Jihan menarik baju Putra. Putra menghentikan langkahnya di depan pintu.


''Mau kemana kau, brengsek? Masalah kita belum selesai!'' teriak Jihan sangat kencang, hingga Putra menutup telinganya. Untung saja ke dua orang tua Putra tidak ada di rumah. Kalau tidak, pasti mereka mendengar keributan antara anak dan menantunya itu.


''Kau tahu, kau itu laki-laki brengsek yang pernah aku temui. Sialan kau, Putra. Kau yang selingkuh, tetapi malah menuduhku selingkuh.'' ucap Jihan emosi sambil memukuli punggung Putra. Jihan menangis sejadi-jadinya untuk menghilangkan kekesalan nya. Putra membalik tubuhnya menghadap Jihan. Putra menarik Jihan kedalam pelukannya. Putra memeluk erat Jihan.


''Maaf 'kan aku, sayang.'' ucap Putra sambil mencium pucuk kepala Jihan. ''Jangan menangis seperti ini, aku tidak tega melihat kau seperti,ini. Aku sangat mencintaimu, Jihan. Tidak ada satu wanita pun yang ku cintai selain dirimu! Termasuk mama ku sendiri, Jihan. Jadi, jangan berfikir aku selingkuh dengan, Ayu. Melihat mu menangis seperti ini, hati ku sakit. Jangan seperti ini, sayang.'' ucap Putra menangis sambil memeluk erat istrinya.


Jangan lupa, like, komen, dan beri vote, ya bestie❤️😘

__ADS_1


__ADS_2