Aku Bukan Perawan

Aku Bukan Perawan
Dua puluh dua


__ADS_3

"Assalamualaikum." Ayu membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Irna dari arah dapur.


"Masuk, Ar," ucap Ayu. Lalu Arnold masuk ke dalam rumah.


"Irna. Piring nya tiga, ya." ucap Ayu. Tak berapa lama, Irna keluar membawa piring.


"Ada tamu. Baru dateng, ya?" tanya Irna.


"Udah dari tadi." Jawab Arnold.


"Tapi gue kok nggak tahu, kalo lo kesini?" Irna mengerutkan keningnya.


"Tadi, Arnold. Ikut gue ke warung." jawab Ayu. Irna mengangguk.


"Ya udah. Ayo, makan," Ayu memberikan piring pada Arnold. Lalu mereka makan.


...***...


Tok tok tok


Tak berapa lama, ada seorang wanita paruh baya membukakan pintu.


"Cari, Arnold. Ya?" Tanya wanita paruh baya itu.


"Iya. Arnold nya ada, tante?" Tanya Putra.


"Nggak. Udah keluar dari tadi pagi, Put." jawab mami Arnold.


"Kemana? Apa ada jam kuliah pagi ini?" tanya Putra.


"Halah sih, Arnold. Masa ke kampus. Tapi nggak tahu juga sih, Put." jawab mami Arnold.


"Kemana, ya." Ucap Putra.


"Siapa, Mi?" Tanya seorang laki-laki keluar.


"Ini, Putra. Cari adek kamu." jawab mami Arnold.


"Oh. Setahu gue tadi dia bilang mau main ke tempat cewek. Tapi, nggak tahu bener apa nggak nya." Ucap abang nya Arnold.


"Cewek?" Putra mengerutkan keningnya.


"Ya udah. Kalo gitu saya pamit dulu, Tante." Putra mencium tangan mami Arnold.


"Hati-hati, Nak." Ucap mami Arnold.

__ADS_1


"Iya."


Blam! Putra menutup pintu mobil.


"Pasti ke kontrakan, Ayu. Dasar bocah." Putra melajukan mobilnya.


...***...


Arnold, Ayu, dan Irna. Saling diam. Sibuk dengan hp nya masing-masing. Tidak ada yang memulai bicara. Arnold memperhatikan Ayu.


"Mmmm. Jadi nggak, Yu?" Tanya Arnold.


"Apa nya yang jadi?" Ayu mengerutkan keningnya.


"Jalan." jawab Arnold.


"Jam sebelas." Ayu melihat jam di hp nya.


"Kalo nanti jam dua bisa?" tanya Ayu.


"Nggak. Aku ada jam kuliah nanti." jawab Arnold.


"Masih kuliah?" Tanya Irna.


"Iya." jawab Arnold.


"Dua puluh dua." jawab Arnold.


"Hah!" Irna terkejut. Ayu tersenyum.


"Ya udah. Gue siap-siap dulu, ya." ucap Ayu.


"Iya."


"Tapi, Irna. Gimana?" tanya Ayu.


"Nggak pa-pa. Nanti juga, Zainal kesini." jawab Irna.


"Ya udah." Ayu masuk ke kamar.


"Lo, serius? Umur lo baru dua puluh dua tahun?" tanya Irna.


"Iya. Kenapa emangnya? Bukan nya gue ganteng dan imut, ya?" Ucap Arnold.


"Dari muka lu, emang masih imut-imut gitu, sih." ucap Irna.


"Emang umur, lu berapa?" tanya Arnold.

__ADS_1


"Gue, dua puluh empat." jawab Irna.


"Kalo, Ayu?" tanya Arnold.


"Dua puluh tiga. Bulan depan dia, dua puluh empat." jawab Irna.


"Kata, Ayu. Lo temennya, Putra. Ya?" tanya Irna.


"Iya. Gue kenal sama, Putra. Udah lama banget. Dari gue masih SMA." Jawab Arnold.


"Tapi, beneran deh. Gue kira lu itu seumuran sama kita. Nggak nyangka kalo lu ternyata masih bocil." ucap Irna.


"Apa gue keliatan tua, Kak?" tanya Arnold.


"Nggak sih." jawab Irna.


"Tapi gue ganteng kan?" Arnold menaik turun kan alisnya.


"Pede lu. Masih muda banget, ya. Bocil suka sama orang dewasa." ucap Irna.


"Umur boleh muda. Tapi pikiran harus dewasa." ucap Arnold.


"Dewasa apa nya. Kalo dewasa tuh nggak kek begini. Lihat, tingkah lo. Persis anak bayi." ucap Irna.


"Dewasa ya gue." ucap Arnold.


"Sering gonta ganti cewek kan, lu." ucap Irna.


"Nggak, ya." Arnold cemberut.


"Lu, pasti suka nongkrong-nongkrong nggak jelas kan? Sama kek, Putra." ucap Irna.


"Nih, gue tuh paling nggak suka sama orang dewasa. Hidup nya terlalu serius." ucap Arnold.


"Halah. Lu nya aja yang nggak jelas." ucap Irna.


"Jelas lah." Ucap Arnold.


"Lo sering nongkrong sama, Putra?" Tanya Irna .


"Iya. Dia baik orang nya. Cuma gue yang nggak baik sama, Putra." jawab Arnold.


Ayu keluar dari kamar. "Ayo" Ucap Ayu. Lalu, Arnold berdiri.


"Gue duluan, ya." ucap Ayu. Irna mengangguk. Lalu, Ayu dan Arnold pergi.


Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2