Aku Bukanlah Master Sungguhan

Aku Bukanlah Master Sungguhan
Chapter 10 : Kejadian di Lembah


__ADS_3

Aku Bukan Master Sungguhan


CH 10 : Kejadian di Lembah


Di tengah keriuhan persiapan melawan sekte Langit Biru, Liu Huan merenung dalam kesendirian di kamarnya.


[Konsentrasi sangatlah penting. Tanpa itu, usaha apapun akan sia-sia]


“Iya aku tahu” gumam Liu Huan dalam hati.


Sebelumnya, saat bertemu dengan keluarga Lin, Liu Huan merasa dirinya tidak mampu membantu, sehingga ia memilih untuk kembali ke kamarnya. Di situlah ia mendapat saran dari sistem untuk mengatur meridian, dantian, dan energi spiritualnya.


"Baiklah, mari kita fokus," ucap Liu Huan dengan serius.


Dengan penuh konsentrasi, aliran esensi kehidupan perlahan-lahan berkumpul dan memasuki tubuhnya. Ia merasakan ketenangan dan kedamaian ketika melakukan meditasi. Aliran meridian berjalan selaras dengan detak jantungnya, memudahkan Liu Huan untuk mengendalikan energi spiritualnya.


[Tetaplah fokus, rasakan energi yang berkumpul di dalam dirimu]


Beberapa saat kemudian, Liu Huan membuka matanya dan merasakan tenaga serta kekuatan spiritualnya menjadi lebih terkendali dan selaras.


[Selamat atas keberhasilanmu, Tuan Rumah. Sistem memberikan buku suci seni berpedang sebagai hadiah. Hadiah telah secara otomatis disimpan di dalam inventori]


"Terima kasih, Sistem. Kalau bisa, bolehkah saya mendapatkan jurus itu juga?" tanya Liu Huan.


[Terdeteksi otak mesum dari Tuan Rumah. Sistem akan melakukan penyadaran diri] jawab sistem.


Tiba-tiba, petir kecil muncul dan menyengat Liu Huan.


"ADUH!" teriak Liu Huan kesakitan.


"Aku hanya bercanda, santai saja," ucap Liu Huan sambil mengelus kepalanya yang tersengat. "Untung saja tidak jadi botak."


Liu Huan membuka inventori dan menemukan sebuah buku kuno di dalamnya. Ia menekan buku tersebut dan mempelajari informasi yang ada di dalamnya. Menurut informasi, buku tersebut adalah salah satu jurus berpedang tingkat tinggi yang ada di dunia ini. Siapa pun yang mempelajarinya akan dapat menggunakan pedang secara mahir.


"Bagus juga nih. Mari saya coba," ucap Liu Huan sembari menggunakan buku tersebut. "Tunggu saja, rasa sakit yang akan datang seperti biasanya."


Tak lama kemudian, informasi masuk ke dalam ingatannya dengan sangat cepat, menampilkan gerakan-gerakan yang ada di dalam buku tersebut.

__ADS_1


"Sialan, kenapa selalu begini ketika menggunakan hadiah?" keluh Liu Huan menahan rasa sakit.


Setelah beberapa saat, Liu Huan berhasil mempelajari buku tersebut. Karena penasaran, ia mengeluarkan topeng dari inventori dan pergi dari rumah dengan cepat. Setelah cukup jauh dari rumah keluarga Lin, Liu Huan berhenti di sebuah lembah yang terletak di antara dua gunung.


Liu Huan berdiri di tengah lembah yang sunyi, hanya terdengar suara angin yang bertiup lembut. Ia menggenggam pedangnya dengan erat, merasakan bobotnya yang pas di tangannya. Dalam keheningan, ia menghunus pedangnya dengan cekatan, menyilakan udara di depannya. Terlihat kilatan cahaya biru dari ujung pedang, menandakan kekuatan yang terkandung di dalamnya.


“Sepertinya ini berhasil” gumam Liu Huan melihat kilatan cahaya itu.


Dengan gerakan yang lincah, Liu Huan mulai melancarkan serangan-serangan yang mematikan. Ia mengayunkan pedangnya dengan penuh keahlian, menghasilkan suara teriakan yang merdu setiap kali pedangnya menghunjam ke tanah atau membelah udara. Pada saat yang sama, cahaya biru semakin memancar dari pedangnya, menambah kesan dramatis dari aksi-aksinya.


Sekali waktu, Liu Huan berhenti sejenak untuk mengatur napas dan kembali menyerang dengan gaya yang berbeda. Ia mengaplikasikan gerakan-gerakan baru yang ia pelajari dari buku berpedang tadi. Gerakan-gerakan itu membuat gerakan-gerakan pedangnya terlihat semakin elegan dan mematikan. Ada keindahan tersendiri dalam setiap gerakan yang dilakukan Liu Huan, seperti tarian yang membunuh.


Beberapa saat kemudian, ketika Liu Huan sudah puas melatih kemampuan barunya, ia menghunus pedangnya untuk terakhir kalinya dan kembali menyimpannya di dalam sarungnya. Ia mengambil nafas dalam-dalam, merasakan semangatnya yang membara. Seperti singa yang sedang mempertajam cakarnya sebelum memburu mangsanya, Liu Huan siap untuk menghadapi apa saja.


"Tolong! Siapapun tolong aku!" tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari dalam lembah.


"Mmm, ada apa ini?" ucap Liu Huan dengan nada datar, seraya menempatkan topengnya yang membuatnya seperti sosok misterius.


Tanpa ragu, Liu Huan segera bergegas menuju suara tersebut. Begitu sampai di sana, ia melihat seorang gadis yang lebih muda darinya sedang diserang oleh sekawanan hewan buas. Dengan sigap, Gadis itu melemparkan batu ke arah hewan tersebut, mengenai salah satu dari mereka.


Namun, seperti kucing yang merasa terancam oleh anjing, sekumpulan hewan itu marah dan mulai menerkam Gadis Itu. "Tidak!" serunya, berusaha untuk menghindari serangan hewan buas itu.


Melihat Liu Huan berdiri di depannya seperti pahlawan, membuat gadis itu menangis. "Hua…." ucapnya, sambil mencubit lengan Liu Huan.


"Eh, kok nangis?" kata Liu Huan dengan kebingungan.


"Saya mau pulang…. Huaaa……" ucap gadis itu sambil berlinang air mata.


"Tenang saja, biar kakak yang mengantarmu," kata Liu Huan sambil mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan.


Mendengar hal itu, gadis itu menghentikan tangisannya dan menggenggam tangan Liu Huan dengan erat. "Di mana rumahmu?" tanya Liu Huan dengan nada lembut.


"Rumahku berada di sana, biasanya orang lain memanggilnya dengan sebutan rumah keluarga Fang," balas gadis itu sambil menunjuk ke arah jalan yang berliku.


"Adik dia ternyata!" gumam Liu Huan dalam hati, pasrah.


"Yasudah, kalau begitu pegangan ya. Kakak akan bergerak dengan sangat cepat," ucap Liu Huan sambil menggendong gadis kecil itu dengan penuh perhatian.

__ADS_1


"Hum," balas gadis itu, membenamkan kepalanya ke dada Liu Huan.


Dengan cepat, Liu Huan berlari ke arah kediaman keluarga Fang seperti kuda poni yang sedang berpacu menghadapi badai. Liu Huan memeluk gadis kecil itu dengan erat dan mengawali perjalanan mereka menuju rumah keluarga Fang. Angin dingin bertiup lembut, membuat dedaunan berguguran di sekitar mereka. Di kejauhan, mereka dapat melihat pepohonan yang menjulang tinggi di sepanjang jalan.


“Kakak, terima kasih telah menyelamatkan saya tadi. Kau benar-benar pahlawan yang hebat,” kata gadis kecil itu sambil menatap wajah Liu Huan yang tertutup oleh topeng dengan penuh rasa kagum.


“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya melakukan tugas sebagai seorang ksatria. Tapi, aku senang bisa membantumu,” jawab Liu Huan sambil tersenyum dari dalam topeng.


Perjalanan mereka terus berlanjut. Kadang-kadang, mereka harus melewati beberapa masalah kecil untuk sampai ke rumah keluarga Fang. Namun, Liu Huan tidak merasa khawatir karena ia bisa memastikan keselamatan gadis kecil itu.


Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemerisik di semak-semak di sebelah jalan. Liu Huan dengan cepat meminta gadis kecil itu untuk bersembunyi di belakang pohon dan ia sendiri bersiap untuk menghadapi ancaman.


Tiba-tiba, seekor harimau melompat dari semak-semak dan menyerang Liu Huan dengan cepat. Liu Huan mengeluarkan pedangnya dengan refleks dan dengan gesekan yang keras, ia berhasil mengalahkan harimau itu. Gadis kecil itu menjerit ketakutan, namun Liu Huan menghiburnya dengan lembut.


“Tenanglah, semuanya baik-baik saja. Kita harus melanjutkan perjalanan kita,” kata Liu Huan.


Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke rumah keluarga Fang dengan hati-hati. Setelah beberapa menit berjalan, mereka akhirnya tiba di rumah keluarga Fang. Di depan halaman rumah, terlihat Sin yang sedang mencari-cari sesuatu seperti burung yang sedang mencari induknya.


“Kakak, aku pulang!” teriak gadis tersebut dengan suara lembut yang menggetarkan hati.


“Xiao Xue darimana saja kamu?” ucap Sin dengan wajah khawatir yang terlihat begitu jelas.


“Kakak maafkan aku, aku tadi berjalan-jalan di sekitar kota tapi malah tersasar ke dalam hutan,” ujar Xiao Xue dengan nada takut yang meluluhkan hati siapa saja yang mendengarnya.


“Bohong itu, Jauh amat oi kesasar-nya,” gumam Liu Huan dalam hati.


“Tidak apa-apa yang penting kamu selamat,” balas Sin mengelus rambut Xiao Xue dengan lembut.


Saat itu, Sin menyuruh adiknya untuk masuk duluan ke dalam rumah, gadis kecil itu berterima kasih pada Liu Huan dan berlari ke rumahnya dengan cepat. Saat Xiao Xue sudah berada di dalam rumah, Sin mengucapkan terima kasih kepada Liu Huan yang menggunakan topeng.


“Saya ucapkan terimakasih banyak kepada senior karena telah menolong adik saya,” ujarnya dengan hormat yang tulus dan menggugah hati.


“Tidak usah, kebetulan saja saya sedang berada di sana,” balas Liu Huan dengan santai seperti orang yang tidak mau menonjolkan diri.


Saat ia ingin beranjak pergi, tiba-tiba Sin menerjang dirinya menggunakan sebuah pedang. Pada saat itu, Liu Huan dengan mudah menghindari serangan dari Sin.


“Hei, bisakah kau jelaskan apa maksud dari semua ini,” ucap Liu Huan dengan aura intimidasinya yang menakutkan seperti naga yang mengamuk di lautan lepas.

__ADS_1


Saat itu, Sin yang merasakan aura yang begitu kuat tidak dapat melawan dan tertunduk dibawah tekanan yang begitu mengerikan. “Maafkan saya senior, saya hanya ingin menguji kekuatan dari penolong adik saya,” ujarnya dengan rasa sakit yang menusuk hatinya.


Karena sudah jujur, Liu Huan melepaskan auranya dan pergi dari sana dengan seketika seperti kilat yang melesat di langit. Saat Liu Huan telah pergi, Sin bangkit dari tempatnya dan merenungkan kejadian tersebut seolah-olah ia sedang memecahkan teka-teki. “Siapa orang itu, kenapa rasanya seperti berada di depan sebuah dinding yang begitu besar” gumam Sin sambil mengatur nafasnya


__ADS_2