
Sementara Liu Huan menyusup ke dalam pemukiman para bandit, Ling Er terbangun dari tidurnya. Ketika itu, ia tidak melihat Liu Huan di dalam ruangan. Ling Er bangkit dari tempat tidur, keluar dari kamarnya, dan mencari Liu Huan.
“Kakak!”
“Kakak, di mana kamu?!”
Ling Er mencari di sekitar rumah, karena tidak menemukan keberadaan Liu Huan, Ling Er pergi ke luar rumah untuk mencari Liu Huan.
“Kakak! Apakah kamu sedang berjalan-jalan di sekitar sini?”
Lagi dan lagi, Ling Er mencoba memanggil Liu Huan sambil mengelilingi desa, tapi hanya keheningan dan langkah kakinya yang terdengar. Karena Liu Huan tidak menjawab teriakan Ling Er, ia berpikir bahwa Liu Huan pergi dari desa dan meninggalkannya sendirian. Dengan perasaan sedih dan anggapan yang ambigu, Ling Er kembali ke rumah. Di sana, ia duduk di ruang makan yang biasa digunakan oleh mereka untuk bercerita dan bercanda.
“Kakak, kenapa kamu meninggalkan Ling Er sendirian?”
“Apakah Ling Er tidak menjadi anak yang baik?”
Di dalam larutan kesedihan, Ling Er terus beranggapan bahwa Liu Huan tidak membutuhkannya lagi. Ketika itu, sebuah suara terdengar dari luar. Ling Er yang pada saat itu sedang larut dalam kesedihannya beranggapan bahwa yang datang itu adalah Liu Huan. Dengan cepat, ia berlari dari rumah menuju ke arah suara itu berasal.
“Kakak, kakak dari mana saja….”
Seketika harapan yang ia punya hancur. Ketika ia sampai di sana, bukan Liu Huan yang ia lihat melainkan para bandit yang sedang bergerombol.
“Hei, lihat ada anak kecil di sini,” ujar salah satu dari mereka.
“Bagus-bagus, kalian bawa anak kecil ini bersama kita!”
Melihat mereka yang turun dari kuda membuat Ling Er ketakutan. Dengan segala tenaga yang ia punya, Ling Er berlari menjauh dari mereka. Karena langkah kakinya yang kecil membuat Ling Er dengan mudah dicegat oleh salah satu bandit yang memiliki badan dan langkah yang lebih besar dari padanya.
“Haha….. mau kemana kau?”
“Lepaskan aku!” teriak Ling Er.
“Jangan harap, sekarang kau ikut dengan kami.”
Salah satu orang yang berhasil menangkap Ling Er itu mengikat tangannya menggunakan tali dan menggabungkannya dengan para orang yang mereka tahan. Setelah semuanya selesai, bandit itu kembali ke kudanya, dan gerombolan tersebut melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
“Mari kita jalan”
Disisi lain, Liu Huan yang berada di pemukiman para bandit sedang terlihat berlatih bersama dengan Yin dan Yang.
“Ayo, kak. Apakah itu saja kemampuanmu?” tanya Yin yang menjadi teman latihannya.
Liu Huan hanya tersenyum, “Hehe, bukankah aku sudah bilang bahwa aku hanya berada di inti dasar tahap pertengahan?”
“Jangan merendah, kak. Kami tahu kamu berada di ranah yang lebih tinggi dari itu,” timpal Yang.
Dua pedang bersentuhan dan berdesis. Liu Huan berusaha bertahan dari serangan Yin dan Yang tanpa menggunakan semua kemampuannya. Dia belum sepenuhnya percaya pada mereka, terutama karena tujuan utamanya adalah menghancurkan pemukiman para bandit dan membebaskan para tawanan yang tidak bersalah.
Di saat mereka sedang berhadapan, Yin dan Yang mulai berpikir.
‘Hmm… sepertinya dia tidak berbohong, ternyata dia hanya berada di ranah inti dasar tahap pertengahan. Kakak mari kita akhiri sampai disini’
‘iya dek, kakak juga merasa seperti itu’
Dengan saling berkontak mata, mereka memahami maksud dari satu sama lain, dengan cepat Yin dan Yang memberikan serangan kepada Liu Huan dan membuat pedangnya terbang ke belakang.
“Sepertinya kalian menang,” kata Liu Huan yang tersungkur ke tanah.
“Oh ya, aku ada sesuatu yang harus diselesaikan. Kalau begitu aku duluan,” ujar Yang sebelum pergi.
[Tuan rumah, sepertinya saya merasakan ada Ling Er di sekitar sini]
Ketika Liu Huan bangkit, ia teringat bahwa ia lupa menuliskan surat untuk Ling Er sebelum pergi. Mendengar pesan dari sistem, ia merasa cemas. “Seriuskah? Apakah kamu merasakan Ling Er di sini?”
[Lebih baik tuan rumah rasakan sendiri. Memberikan teknik peminjaman dari sistem : Indra Ke enam]
Pada saat itu, dari tempatnya berdiri Liu Huan melihat ke arah gerbang masuk. Menggunakan [Teknik peminjaman dari sistem : Indra Ke enam] yang memungkinkan Liu Huan untuk melihat tembus pandang aura dan bayangan dari seseorang yang berada di sekitarnya.
Di gerbang depan, Liu Huan melihat sekelompok bandit membawa beberapa orang seperti sebelumnya. Di barisan belakang, ia melihat ada aura tubuh dari seorang anak kecil.
“Kakak!”
__ADS_1
“Kakak, apakah kau baik-baik saja?” tanya Yin dengan penasaran.
“Eh, Yin. Aku baik-baik saja,” jawab Liu Huan cepat, membatalkan tekniknya sebelum Yin curiga.
“Kakak kenapa beberapa kali kita bertemu, sepertinya kakak sering melamun sendiri?” tanya Yin dengan tatapan serius.
Liu Huan mencari alasan untuk mengelabuinya, “Sejujurnya, saya sedang mengalami penyakit meriang. Makanya sering seperti ini.”
Yin tampak ragu, tetapi akhirnya mengalah, “Hmm…. Yaudahlah, aku juga tidak tahu apa itu. Semoga kakak baik-baik saja.”
Ketika mereka sedang mengobrol, gerbang masuk terbuka. Yin mengajak Liu Huan untuk pergi ke sana.
“Jadi, apakah kau sudah mengetahui sesuatu tentang dirinya?”
“Mohon maaf tuan, dari pengamatan kami dia hanyalah seorang sampah yang berada di ranah inti dasar tahap pertengahan”
Di dalam tenda Dao Fan, terjadi percakapan antara Dao Fan dan Yang.
“Hmm….Untuk sekarang coba kalian pantau saja dia, jika kalian merasa tidak berguna maka bawalah ke dalam hutan dan eksekusi dia”
“Baik tuan”
Setelah percakapan berakhir, Yang memberikan penghormatan dan pergi dari tenda itu dengan senyuman jahat tergambar di wajahnya.
“Mari kita lihat sampai kapan dia bisa berakting seperti itu,” gumam Dao Fan yang duduk di tendanya.
Di gerbang depan, Liu Huan yang dibawa oleh Yin terlihat cukup kelelahan setelah melakukan latihan berpedang. Ketika Liu Huan mendongkrakkan pandangannya ke atas, ia melihat kelompok itu sedang bergerak maju memasuki pemukiman.
“Wah sepertinya ada orang baru nih”
“Haha…. Akhirnya aku mendapatkan mainan baru”
“Hmm….mari kita lihat, apakah ada yang berguna kali ini”
Terjadi perdebatan di antara orang-orang yang berada di dekat Yin dan Liu Huan
__ADS_1
Disana, pada barisan belakang terlihat orang-orang yang di ikat menggunakan tali ke sebuah kereta kuda yang dibawa oleh dua orang bandit. Pada awalnya Liu Huan merasa tenang, karena di sana tidak ada orang yang di kenalinya. Namun, ketika ia menghembuskan nafas lega di barisan terakhir terlihat seorang anak kecil dengan beberapa luka yang dialaminya. Anak itu adalah Ling Er. Liu Huan merasa marah dan ingin membunuh para bandit itu.
“Sialan, akan kubunuh kalian!” pikir Liu Huan, namun ia menahan amarahnya agar tidak diketahui oleh Yin dan orang sekitarnya.