
Setelah sampai di negeri matahari terbit, Liu Huan dan Ling Xiu berpisah dengan sang kakek yang terlihat langsung tergesa-gesa untuk pergi ke suatu tempat di sana. Karena masih belum tahu apa yang akan dilakukan, Liu Huan memutuskan untuk pergi sarapan pagi bersama Ling Xiu di sebuah warung makan yang terlihat sangat ramai.
Ketika sampai di sana, mereka berdua memesan makanan dan berbincang sejenak menunggu makanan mereka datang.
"Jadi selanjutnya apa yang akan kita lakukan, Liu Huan?" tanya Ling Xiu.
"Aku tidak tahu, ini pertama kalinya aku ke sini," jawab Liu Huan dengan polos.
Ling Xiu menepuk jidatnya melihat ekspresi Liu Huan yang polos berkata seperti itu.
"Lalu untuk apa kita jauh-jauh datang ke sini?" tanya Ling Xiu lagi.
"Hmm... Mungkin kita bisa menemukan jawabannya ketika berkeliling nanti," jawab Liu Huan.
Ketika mereka sedang berbincang santai, masuk sebuah kelompok yang terlihat seperti ahli pembuat pil. Mereka duduk di seberang meja Liu Huan sambil berdecak kesal. Karena penasaran, Liu Huan sedikit mengalihkan pandangannya ke arah mereka. Namun tiba-tiba,
BRAK!
Salah satu dari mereka menepuk meja karena saking kesalnya dengan masalah yang ia hadapi.
"Apa-apaan si sialan itu, apakah dia tidak bisa melihat master pembuat pil sedang berada di depannya?" ucap salah satu dari mereka.
"Aku tidak tahu, mungkin dia adalah orang baru yang mengurus kompetisi itu," ucap yang lain. "Tidak mungkin, setiap tahunnya orang yang menjadi pengurus dari kompetisi itu pasti sama. Jika ada masalah atau perubahan pasti akan diumumkan," ucap yang lain lagi.
Karena kekesalan yang melanda mereka, pada saat minuman mereka datang, salah satu dari mereka langsung meneguk minuman di cangkir yang cukup besar.
Melihat hal itu membuat Liu Huan berpikir.
"Mungkin aku bisa memanfaatkan mereka," ujar Liu Huan dalam hati.
Ling Xiu yang merasakan niat Liu Huan langsung menjitak jidatnya.
Plak!
"Aduh sakit, apa yang kamu lakukan Ling Xiu?" ujar Liu Huan mengelus jidatnya.
"Kamu jangan berpikiran aneh," kata Ling Xiu tegas.
"Tidak kok, aku hanya penasaran dengan topik pembicaraan mereka," jawab Liu Huan.
__ADS_1
"Hmm... Aku juga. Kalau begitu mari kita tanya," ucap Ling Xiu sambil berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri mereka.
"Permisi tuan-tuan, jika tidak keberatan, bolehkah saya tanya apa yang kalian maksud dengan master pil?" tanya Ling Xiu sopan.
Dengan rambut yang panjangnya membuat mereka berpikir bahwa Ling Xiu adalah seorang master beladiri, seketika salah satu dari mereka langsung memberikan hormat dan membalas, "Maafkan kami, kami tidak menyadari jika master sedang beristirahat di sini."
"Lalu bagaimana denganku?!" gerutu Liu Huan dalam hati.
"Apakah master dari negeri lain? Jika iya, maka akan saya jelaskan. Di setiap tahun negeri ini akan mengadakan turnamen master pil yang bertujuan untuk mencari penerus dan pengembang pil dari generasi muda," jawab salah satu dari mereka.
"Menarik, apa saja syarat untuk bergabung ke sana?" tanya Ling Xiu dengan penasaran.
"Ada dua cara untuk bergabung ke dalam turnamen itu. Yang pertama dengan identitas Anda sebagai anggota dari sekte pembuat pil, dan cara yang kedua adalah dengan membuktikan bahwa Anda seorang master pil. Bisa berupa pil yang Anda buat maupun teknik kultivasi Anda," lanjut orang itu.
"Baiklah, terima kasih atas infonya," ucap Ling Xiu sambil kembali ke tempat duduknya.
"Bagaimana aktingku? Apakah terlihat seperti seorang master sungguhan?" tanya Ling Xiu pada Liu Huan.
"Siapa orang yang bilang jangan melakukan hal yang aneh tadi?" sindir Liu Huan dengan mata datar.
"Hehe, setidaknya kita sudah mendapatkan sedikit informasi," ucap Ling Xiu.
"Iya, betul," setuju Liu Huan.
Akhirnya, setelah cukup lama mereka menunggu, makanan yang telah dipesan datang. Liu Huan yang terlihat bete seketika menjadi ceria saat melihat makanan yang begitu banyak.
Ketika Liu Huan dan Ling Xiu menyantap makanan mereka, orang yang duduk di seberang mereka berdiri dan pergi dari sana.
Liu Huan yang melihat hal tersebut tidak peduli dan melanjutkan makanannya. Setelah beberapa saat, makanan mereka akhirnya habis. Setelah duduk beberapa saat lagi, mereka berdua berdiri, membayar makanan, dan pergi dari sana.
"Jadi, apakah kamu akan ikut ke acara itu?" tanya Ling Xiu.
"Mungkin, ya," jawab Liu Huan.
"Lalu, bagaimana caranya?"
Liu Huan menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya ke sebuah papan toko. "Dengan ini," ujarnya sambil menunjuk toko tersebut. "Toko bahan herbal?"
"Sudahlah, mari kita masuk dulu," ajak Liu Huan.
__ADS_1
"Sistem apa bahan yang diperlukan untuk membuat pil," gumam Liu Huan dalam hati.
Liu Huan dan temannya masuk ke dalam toko bahan herbal yang penuh dengan aroma rempah-rempah yang harum. Mereka melihat penjaga toko yang sedang membersihkan etalase dan mempersiapkan bahan-bahan untuk pelanggannya.
"Permisi, apakah kami bisa membeli beberapa bahan?" tanya Liu Huan dengan sopan.
"Ya, tentu saja," jawab penjaga toko dengan ramah. "Apa saja bahan yang kalian butuhkan?"
Liu Huan memberikan daftar bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat pil yang ia inginkan, dan penjaga toko membantu mengumpulkan bahan-bahan tersebut dari rak-rak toko yang dipenuhi dengan botol-botol dan kantong-kantong kecil berisi bahan-bahan herbal.
"Sudah lengkap," kata penjaga toko sambil menunjukkan keranjang berisi bahan-bahan tersebut. "Apakah ada lagi yang bisa saya bantu?"
Liu Huan mengangguk mengucapkan terima kasih dan membayar bahan-bahan tersebut.
Sesampainya di luar, Ling Xiu melihat Liu Huan yang tidak pernah membuat pil dan menjadi penasaran.
"Apakah kamu pernah membuat pil?" tanya Ling Xiu.
"Begini ya, walaupun tampangku tidak cakep, tapi membuat pil itu hal yang mudah," jawab Liu Huan dengan wajah datar.
"Masa sih?" tanya Ling Xiu tidak percaya.
Melihat wajah tidak percaya dari Ling Xiu, membuat Liu Huan sedikit emosi. "Ada apa dengan wajahmu itu?" tanyanya.
"Tidak ada, cuma kurang yakin saja dengan apa yang akan terjadi nanti," jawab Ling Xiu mengamati Liu Huan.
"Sudah kubilang, aku bisa membuat pil!" tegas Liu Huan.
Di sepanjang jalan kota yang ramai, mereka berdua terlihat berdebat dan sedikit berantem karena perbedaan pendapat. Namun, dari kejauhan ada seseorang yang sedang mengawasi mereka.
"Apakah dia orang yang kau maksud?"
seseorang yang berpakaian seperti ninja mengamati mereka dari jauh.
"Iya, dia yang saya maksud," jawab seseorang yang berbicara dengan nya
"Tenang saja, semuanya akan beres. Tapi ingat, jangan lupa bayarannya," tambahnya.
"Tenang saja, jika kau bisa mengalahkan nya maka akan ku berikan semua yang kau minta"
__ADS_1
Mendengar ucapan kliennya orang yang berpakaian seperti ninja langsung bergerak cepat beranjak dari tempatnya.
"Hehe... Siapa sangka aku akan bertemu dengan seseorang master pil di tempat ini"