
Setelah Qi Zuyan menceritakan kisahnya, Liu Huan memberitahukan niatnya kepada mereka yang tidak berubah. Mereka yang melihat Liu Huan tetap teguh dengan pendiriannya akhirnya pasrah.
Sebelum memulai perjalanannya, Liu Huan merapikan barang-barang dan menyiapkan kebutuhan yang diperlukan untuk pergi ke tempat itu.
"Jadi dengan ini semuanya selesai," gumamnya sambil menyeka keringat di wajahnya dengan tangan kanannya.
Ngiitt !
Desis pintu terdengar, Liu Huan memalingkan pandangannya.
"Liu Huan, bagaimana persiapannya?" tanya Ling Xiu saat masuk ke kamar Liu Huan.
"Ya, seperti yang kau lihat, semua hal yang ingin kubawa sudah ku selesaikan," jawab Liu Huan.
"Begitukah, jadi besok kita akan berpisah?"
Entah mengapa melihat Liu Huan akan melanjutkan perjalanannya membuat Ling Xiu sedih, matanya mulai sayu dengan alis yang memelas.
Melihat sahabatnya berekspresi seperti itu, Liu Huan berjalan mendekat dan merangkulnya.
"Hei, janganlah begitu. Jika urusanku sudah selesai di sana, aku akan segera kembali menemui mu," ujar Liu Huan.
"Aku tahu, tapi melihatmu pergi entah kenapa aku merasa hari-hariku selanjutnya akan sepi," keluh Ling Xiu.
"Ayo, kau seorang pria. Jangan terlalu bersedih karena kita hanya akan berpisah sementara waktu saja"
"Memangnya kenapa jika seorang pria bersedih karena sahabatnya akan pergi jauh dan tidak tahu kapan akan bisa bertemu kembali dengannya? Apakah itu adalah hal yang harus di permalukan?"
Liu Huan terdiam, menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Ling Xiu benar. Di kehidupan nya yang dulu, ia hanyalah seorang introvert yang tidak memiliki teman. Jadi wajar baginya jika tidak memahami perasaan yang dirasakan oleh Ling Xiu.
"Maafkan aku," ujar Liu Huan sambil memeluk Ling Xiu, mencoba menenangkannya. Mungkin bagi orang lain yang melihat hal itu, mereka akan salah paham dengan situasinya.
Namun, mengingat waktu yang mereka habiskan bersama, mulai dari pertama kali bertemu, keseharian di desa, berpetualang ke negeri matahari terbit, dan keseharian di sana membuat hubungan mereka berdua seperti saudara kandung.
"Jadi, setelah aku pergi, apakah kamu memiliki rencana lain?" tanya Liu Huan melepaskan pelukan.
"Aku tidak tahu, mungkin aku akan memilih kembali ke desa dan menunggumu di sana," jawab Ling Xiu.
"Begitu ya, semoga kamu selamat sampai di tujuan. Dan sampai kan salam ku kepada mereka semua"
Ling Xiu mengangguk paham.
"Baiklah, pasti akan aku sampaikan"
Malam berlalu, sang fajar naik sejengkal menandakan waktu sudah subuh. Ketika Liu Huan ingin keluar dari kamarnya, Li Wei sudah menunggunya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Liu Huan.
__ADS_1
Li Wei berbalik menghadap Liu Huan. Dengan masih menggunakan baju tidur, Li Wei memeluk Liu Huan.
"Uwah! Li Wei kau tidak sedang sakit kan" Liu Huan terkejut melihat Li Wei yang tiba-tiba memeluk nya.
"Apakah aku tidak boleh memberikan salam perpisahan?" balas Li Wei, melepaskan pelukan.
"Boleh sih, tapi apa-apaan dengan baju itu?"
Li Wei heran dan memiringkan kepalanya sedikit ke kanan. "Bukankah ini baju tidur"
"Hadeh"
Liu Huan menepuk pelan wajahnya dengan tangan karena kesulitan memahami sifat asli Li Wei.
"Jadi, kamu datang kemari tidak hanya untuk mengatakan hal seperti itu kan?" tanya Liu Huan.
"Tidak, aku datang kemari memang hanya untuk mengatakan hal itu," jawab Li Wei.
"Astaga, apakah karakternya memang seperti ini. Kadang-kadang tenang dan dingin, kadang-kadang konyol dan susah di tebak. Apalagi kalau sudah di paketkan dengan Ling Xiu, lengkap sudah itu," gumam Liu Huan dalam hatinya.
"Baiklah, kalau tidak ada hal yang lain aku pergi dulu," kata Liu Huan ketika ia melewati Li Wei. Namun, tiba-tiba Li Wei menahan tangan Liu Huan.
"Tunggu dulu," katanya.
"Astaga, ada apa lagi sekarang?" Gerutu Liu Huan dalam hatinya.
Sebuah ucapan dari Li Wei, merubah Liu Huan. Ia yang tadi kesal setengah mati, akhirnya mengerti apa yang dimaksud oleh Li Wei.
Liu Huan membalikkan badannya dan menarik Li Wei ke pelukannya.
"Baiklah, aku mengerti"
Li Wei yang berada di dalam pelukan liu huan sempat memberontak untuk beberapa saat karena malu, tapi akhirnya pasrah dan hanyut dalam pelukannya.
"Berjanjilah untuk menemui kami ketika sudah menyelesaikan urusanmu."
"Aku berjanji, jadi jangan khawatir."
"Iya."
Li Wei membenamkan wajahnya ke dada Liu Huan, membalas pelukannya dengan erat. Entah mengapa, ketika berada di dekat Liu Huan ia merasa nyaman dan tenang. Sejak dulu Li Wei tidak pernah kalah oleh siapapun, tapi ketika acara master pil ia akhirnya belajar bagaimana rasa dari kekalahan.
Tidak hanya itu, ketika pertama kali bertemu dengan Liu Huan, ia merasakan sebuah gejolak dari hatinya yang tidak dapat ia mengerti. Ketika Shiori masih bersama mereka, Li Wei sempat menanyakan hal itu. Dengan wajah tersenyum, Shiori memberitahu bahwa yang dirasakan oleh Li Wei adalah gejolak cinta.
Saat itu Li Wei masih belum tahu tentang cinta. Ketika ia sudah menghabiskan waktu bersama Liu Huan, ia akhirnya paham dengan ucapan dari Shiori. Perasaan yang ingin selalu bersama dengannya, keinginan egois untuk selalu di lihat dan di manja, semua perasaan itu akhirnya keluar di saat ia memberikan salam perpisahan.
"Hei, apakah aku sudah boleh pergi sekarang?" Tanya Liu Huan sambil mengelus rambut Li Wei yang berantakan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, biarkan aku seperti ini."
"Baiklah."
Setelah beberapa saat, Li Wei keluar dari pelukan Liu Huan. Dengan suara yang lembut, Li Wei berkata, "Liu Huan, untuk terakhir kalinya sebelum berpisah, aku mau sedikit egois."
"Apa itu-"
Dengan cepat Li Wei langsung mencium Liu Huan. Perasaan yang tidak ia ketahui bercampur aduk di dalam hatinya. Lidah mereka yang saling bersentuhan membuat jantungnya berdegup kencang.
Puah!
"Ha... ha.... ha...."
Nafas mereka berdua tersengal-sengal, seolah-olah habis melakukan ciuman yang intens. Liu Huan yang merasa diberi sinyal hijau oleh Li Wei tidak peduli lagi dengan sifatnya. Ia memeluk Li Wei dengan erat dan berkata, "Jangan salahkan aku, mulai sekarang, kau adalah milikku."
Li Wei yang berada di pelukannya tertekun, matanya membulat berbinar-binar. Perasaan senang bercampur sedih menyatu di dalam hatinya.
"Iya, aku tidak akan menyesalinya."
Setelah cukup lama, akhirnya mereka mengakhiri salam perpisahan.Liu Huan beranjak pergi meninggalkan kediaman Qi Zuyan.
"Liu Huan, kamu yang mengalahkan monster Hydra terlihat sangat keren!" teriak Li Wei dengan segenap tenaganya.
Liu Huan yang sudah berada cukup jauh masih dapat mendengar ucapannya.
"Terima Kasih!" balasnya dengan teriakan yang menggelegar.
Setelah sampai di luar kota, semua penduduk dan Qi Zuyan sudah menunggu di sana.
"Sudah dua orang menahanku, apakah kamu juga ingin menahan saya pergi? Lagipula, sejak kapan aku memberitahu mereka bahwa aku akan pergi?"
"Haha... jangan begitu, jika pahlawan kota pergi, sudah sewajarnya para penduduk memberikan ucapan perpisahan."
Dengan senyum kecil dari wajahnya Liu Huan mulai memaklumi nya. Ia berjalan menuju mereka dengan tangan terbuka.
"dasar, mau bagaimana lagi"
Tap Tap Tap!
Suara langkah kaki seseorang terdengar seperti sedang melewati jalan bebatu. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia berjalan dengan segenap tenaga yang ia punya.
Tap!
"jadi disini dia lokasi yang dimaksud oleh Qi Zuyan kemarin"
Dengan Gunung yang menjulang tinggi di depannya Liu Huan berdiri di atas batu setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
__ADS_1
Arc 3 : Negeri Matahari Terbit~ END