
Dengan cepat Liu Huan mengangkat kuas catnya dan menghiasi rumah-rumah yang baru saja dibangun dengan begitu indah. Gradasi antara warna terlihat sangat luar biasa dengan pemilihan warna yang membuat mata nyaman.
Para warga desa yang berada di sana takjub dengan mahakarya Liu Huan.
"Hehe, dulu aku juga seorang desainer," ujar Liu Huan.
Setelah beberapa saat, semua rumah dan bangunan lainnya telah selesai dihiasinya. Bangunan yang sebelumnya hanya polos dengan papan kayu yang berserat kini menjadi indah dengan warna-warna yang menghiasi setiap dinding bangunan.
Melihat usaha yang dilakukan oleh Liu Huan, para warga menjadi semakin semangat hingga beberapa hari pun berlalu.
Setelah penantian yang lama, desa mereka akhirnya menjadi seperti semula, bahkan lebih baik berkali-kali lipat dari sebelumnya.
Dengan bantuan Liu Huan, warga desa membuat beberapa hal yang sebelumnya tidak ada di desa mereka. Mulai dari saringan irigasi untuk tanaman, jalanan yang menggunakan semen, pondasi rumah yang lebih baik, dan beragam bentuk bangunan yang lebih baik.
"Akhirnya selesai juga," ujar Liu Huan yang bersandar di sebuah pohon di tengah kota.
"Kamu benar, setelah dua bulan lebih, kita dapat membuat desa menjadi lebih baik," balas Ling Xiu yang berdiri di sampingnya.
"Haha... aku hanya membantu sedikit," kata Liu Huan.
"Tidak, karena berkat bantuanmu, kita dapat membuat desa ini menjadi sangat baik. Bahkan, jika ada turis asing lewat, mungkin ia akan berpikir bahwa ini adalah sebuah kota," kata Ling Xiu.
Di bawah pohon yang rindang, Liu Huan dan Ling Xiu bercanda gurau sambil melihat hasil jerih payah mereka. Setelah merasa cukup lama berdiri di sana, Liu Huan mulai beranjak pergi.
"Mau kemana?" tanya Ling Xiu.
"Apakah kamu sudah lupa bahwa sekarang adalah hari terakhirku di sini?"
"Ah, iya benar. Jadi apakah kau akan pergi ke balai desa menemui kepala desa?"
Liu Huan menganggukkan kepalanya, "iya."
__ADS_1
"Kalau begitu, aku juga ikut. Kebetulan Ling Er sekarang sedang bersama warga yang lain."
Mereka berdua pergi meninggalkan lokasi mereka menuju ke balai desa. Sepanjang jalan, mereka melihat anak-anak kecil yang berlari riang dan bermain bersama. Di samping kiri dan kanan, terlihat toko-toko baru yang mulai buka menyambut hari ini. Di setiap mereka berjalan, semua orang di desa selalu menyapa mereka dengan senyum ramah.
"By the way, Liu Huan, mau ngapain kau ke negeri Matahari Terbit?" tanya Ling Xiu.
"Hmm... Aku pun tidak tahu, mungkin aku akan mencari hal-hal baru di sana."
"Begitukah."
Saat mereka sampai di balai kota, Liu Huan melihat kepala desa keluar dari bangunan.
"Ah, Nak Liu Huan," sapa kepala desa melihat mereka datang.
"Hallo pak," balas Liu Huan berjalan ke arahnya.
"Mari masuk dulu."
"Baik pak," balas mereka berdua mengikuti dari belakang.
"Maaf menunggu lama," Ucap Kepala Desa beserta beberapa orang pengikutnya datang dari belakang.
"Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih banyak karena telah menyelamatkan kami dari para bandit. Tidak hanya itu, kamu juga telah membantu kami membangun kembali desa menjadi lebih baik," ujar Kepala Desa.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya tidak senang saja saat ada seorang anak kecil diperlakukan seperti itu oleh sekelompok manusia," balas Liu Huan.
"Jangan terlalu merendah, Nak Liu Huan. Kamu bawa itu kemari"
Salah satu dari mereka berjalan ke depan dan membuka sebuah peti yang telah ia bawa sebelumnya. Kepala Desa yang duduk di kursinya berdiri dan mengambil isi yang berada di dalam peti tersebut.
"Mungkin hanya segini yang kami punya. Selain karena ulah para bandit, kami juga pernah mengalami sebuah wabah," lanjut Kepala Desa.
__ADS_1
Melihat koin yang begitu banyak membuat Liu Huan merasa canggung. "Ti-Tidak usah, Pak," ujarnya.
"Tidak apa-apa, terimalah. Jika kamu tidak menerima ini, mau diletakkan di mana wajah kami," paksa Kepala Desa.
Akhirnya, karena paksaan yang semakin kuat dari Kepala Desa, Liu Huan mengambil beberapa keping koin emas. Setelah diskusi yang cukup panjang, akhirnya mereka berdua bersalaman dan pergi menuju ke luar bangunan.
Pada saat itu, ketika Liu Huan bersama yang lainnya keluar, terlihat seluruh warga desa berkumpul di tengah alun-alun sambil membentangkan sebuah gulungan yang berisi tulisan ucapan terima kasih kepada Liu Huan. Melihat hal itu, Liu Huan yang berdiri teguh meneteskan sedikit air matanya karena terharu oleh usaha mereka semua. Ia mengambil beberapa langkah, menarik nafasnya, dan menghembuskannya.
"Saya ucapkan terima kasih banyak atas kebaikan kalian selama ini. Mungkin pada hari ini saya akan pergi dari desa ini. Tetapi saya harap hubungan yang telah kita buat tidak terputus sampai kapanpun," ucap Liu Huan sambil memberikan hormat dan mengenang ingatannya selama beberapa bulan di sana.
Mendengar ucapan Liu Huan, semua warga desa juga menjadi sangat terharu. Mereka bergegas ke arah Liu Huan lalu mengerumuninya. Mereka memberikan pelukan dan ciuman pada kedua pipi Liu Huan, menunjukkan betapa mereka merindukan keberadaannya.
"Kami akan merindukanmu, kak Liu Huan. Semoga kamu selalu diberkahi dalam perjalananmu ke negeri matahari terbit," ujar Ling Er yang ikut memeluk Liu Huan dengan suara tergugah.
Liu Huan tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, aku juga akan merindukan kalian semua."
Setelah beberapa saat berpelukan, Liu Huan akhirnya harus melepaskan diri dari mereka dan melanjutkan perjalanan. Ia berjalan perlahan-lahan, sesekali menoleh ke belakang dan melambaikan tangan pada warga desa yang berdiri di belakangnya.
Ling Xiu yang ikut menemaninya juga melambaikan tangan pada mereka sambil tersenyum.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya melangkahkan kaki keluar dari gerbang desa itu. "Sekarang, apakah kau siap untuk petualangan baru?" tanya Ling Xiu bersemangat.
"Tentu saja, apapun yang akan terjadi, maka terjadilah," jawab Liu Huan dengan penuh keyakinan.
Dengan langkah yang percaya diri, mereka berdua memulai perjalanan menuju ke negeri matahari terbit. Sementara itu, di kediaman keluarga Lin. "Ayah, aku akan pergi dari rumah ini!"
"Kenapa, Shiori? Apakah ada sesuatu yang mengganjal mu?"
"Tidak, ayah. Aku hanya ingin mencari Liu Huan, suamiku."
"Sudah berapa kali ayah katakan, kamu tidak memiliki suami. Lagian, siapa dia?"
__ADS_1
Di dalam altar keluarga, Shiori dan ayahnya sedang berdebat. Karena ayahnya yang keras kepala, Shiori keluar dari ruangan itu dengan wajah kesal. Larangan yang diberikan oleh ayahnya tidak membuat langkah kakinya berhenti. Ia mengambil beberapa perlengkapan dan pergi dengan kuda meninggalkan keluarga Lin.
"Liu Huan, semoga kau tidak mati sebelum memberikan penjelasan kepada ku!" ucapnya dalam hati.