Aku Bukanlah Master Sungguhan

Aku Bukanlah Master Sungguhan
Chapter 33 : Hari Pendaftaran


__ADS_3

Pada pagi yang cerah, pendaftaran untuk lomba master pil dibuka. Setelah kejadian kemarin, Liu Huan diam-diam menyelinap masuk ke penginapan dan tidur seperti biasa.


Namun, entah kenapa, ketika mereka sedang menyantap sarapan di warung, Lin Xiu menatap tajam ke arah Liu Huan dengan wajah curiga.


"Jieeee....."


Liu Huan yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Lin Xiu mencoba untuk meneruskan makannya.


"Jiee......."


Karena tidak tahan lagi, Liu Huan menghentikan makannya dan berkata, "Ayolah, aku sedang makan. Apa yang kamu lakukan?"


"Hmm.... Kemana kau kemarin malam?"


"Apa yang kau maksud? Bukankah aku tidur di sampingmu?"


"Benarkah?"


"Dari pada membahas itu, mending kita makan. Lihatlah, hidangan utama datang!"


Mencium aroma harum dari masakan yang dibawa oleh pelayan membuat Lin Xiu lupa dengan niatnya. Ia dengan lahap menyantap hidangan itu tanpa menyisakan bagian untuk Liu Huan.


"Astaga, makan sih makan. Tapi sisa-sisakan juga dong."


"Hehe... Maaf."


Setelah sarapan pagi, Liu Huan dan Lin Xiu beranjak keluar dari warung sembari berjalan di kota.


"Liu Huan, kemana kita akan pergi?" tanya Lin Xiu sambil memegang setumpuk bakpao yang baru dimasak.


"Kita akan pergi ke sana," ujar Liu Huan menunjuk ke keramaian yang berada di depan mereka.


"Apa itu?"


"Pendaftaran lomba master pil."


Mendengar hal itu, Lin Xiu teringat dengan bahan-bahan yang pernah dibeli oleh Liu Huan sebelumnya.


"Ngomong-ngomong, bahan yang kamu beli sebelumnya di mana?"


"Oh, kalau itu, ini dia."


Liu Huan mengambil sesuatu dari saku celananya dan memberikannya kepada Lin Xiu.

__ADS_1


"Hmm... Apakah ini bisa dimakan?"


"Tentu saja, ini kan hanya pil biasa. Namun, harus ku ingatkan kamu, jangan..."


"Maaf, sudah ku makan."


Seketika, Liu Huan panik.


"Keluar, bodoh! Keluarkan pil itu dari mulutmu!"


"Mana bisa begitu? Maafkan aku."


Karena ketidaksengajaan Lin Xiu, ia malah memakan pil yang diberikan oleh Liu Huan. Setelah beberapa menit berselang, karena takut dengan efek samping yang masih belum diketahui, Liu Huan selalu menatap Lin Xiu dengan seksama.


"Sistem ini akan baik-baik saja, kan?" gumam Liu Huan.


[Tenang saja, tuan. Pil yang anda buat tidak akan memiliki efek samping. Oleh karena itu, tuan bisa tenang sekarang]


Mendengar penjelasan dari sistem, Liu Huan merasa lega. Ia kembali melanjutkan langkahnya dan menyuruh Lin Xiu untuk menunggunya di sebuah bangku yang berada di dekat sana.


Lin Xiu, yang tengah asik memakan bakpao-nya, mengikuti arahan Liu Huan dan duduk di bangku yang disebutkan. Sementara itu, Liu Huan pergi menuju keramaian dan mengantri.


Ketika ia mengantri, Liu Huan mendengar beberapa gosip dari peserta yang juga berbaris.


"Hei, kalian tahu kan. Yan Fei, salah satu master obat yang berbakat, telah mati tadi malam."


"Tapi, bukankah ini aneh? Di sana ditemukan bekas pertarungan dari sekelompok orang."


"Tidak tahu lah, yang penting peserta hebat kali ini bisa berkurang satu orang."


"Benar juga."


"Hahaha."


Liu Huan yang berada di belakang mereka merasa sedikit canggung dengan hal itu. Di satu sisi, ia merasa kasihan karena para calon master obat tidak memiliki rasa simpati kepada yang lain, namun di sisi lain ia juga merasa senang karena bisa membunuh Yan Fei yang mungkin telah berbuat jahat kepada orang lain.


Setelah cukup lama menunggu, dengan terik matahari yang mulai memanas, akhirnya giliran Liu Huan datang.


Ketika sampai di barisan paling depan, ia melihat ada tiga orang yang menjadi panitia pendaftaran.


"Selanjutnya, siapa nama mu dan berikan salah satu syarat yang telah diberitahu sebelumnya?" tanya salah satu panitia.


"Namaku Liu Huan, apakah dengan lencana ini bisa?" tanya Liu Huan sambil menyodorkan lencana Yan Fei yang telah ia ambil tadi malam.

__ADS_1


Para panitia mulai memeriksa lencana itu, dari wajah mereka terlihat ekspresi bingung dan ragu dengan lencana yang diberikan oleh Liu Huan.


"Hmm... Seperti nya aku pernah melihat lencana ini. Hei, apakah kau tahu?" tanya salah satu panitia kepada yang lain.


"Iya, ini adalah lencana dari sekte itu kan," jawab yang lain.


"Liu Huan, apakah kau mencuri lencana ini atau lolos dari seleksi mereka?" ujar salah satu panitia dengan wajah serius.


Dengan ekspresi yang santai, Liu Huan mencoba untuk tetap terlihat tenang dan tidak panik.


"Apa yang kalian bicarakan? Saya lolos dengan baik. Mana mungkin saya mencuri lencana ini?" jawab Liu Huan dengan argumen yang cukup jelas.


Walaupun dengan argumen yang cukup jelas, para panitia masih menaruh kecurigaan terhadap Liu Huan.


Merasa tidak ada jalan lain, Liu Huan mengeluarkan sedikit aura intimidasi nya.


Ketika Liu Huan mengeluarkan sedikit aura intimidasi, suasana di sekitarnya seketika berubah. Udara terasa lebih berat dan tekanan spiritual yang tak terlihat terasa menyelimuti para panitia pendaftaran lomba. Wajah mereka berubah menjadi serius dan takut, terlihat dari tatapan mereka yang tidak berani menatap mata Liu Huan.


Aura intimidasi yang dipancarkan oleh Liu Huan memancarkan kekuatan yang luar biasa, membuat para panitia merasa seperti dihadapkan pada kekuatan yang tidak bisa mereka lawan. Dalam sekejap, ketakutan yang mereka rasakan berganti menjadi kepercayaan penuh pada Liu Huan.


Liu Huan sendiri masih terlihat tenang dan santai, meskipun ia tahu bahwa kekuatan kultivasi yang dimilikinya sudah cukup untuk membuat para panitia percaya kepadanya. Ia membiarkan aura intimidasi nya tetap terpancar sejenak, sampai akhirnya para panitia menyerahkan lencana kepadanya dengan hormat dan mempersilahkan Liu Huan untuk mengikuti lomba master pil tersebut.


Setelah namanya ditulis oleh panitia, Liu Huan menghilangkan aura intimidasi nya dan memberi salam perpisahan kepada para panitia.


"Baiklah, sampai jumpa lagi," ujarnya dengan tenang sambil menyimpan lencana pesertanya ke dalam saku celananya.


Para panitia yang melihat Liu Huan pergi merasa lega karena bisa keluar dari aura intimidasi yang mengerikan tadi.


"Astaga, aura anak itu benar-benar luar biasa," ucap salah satu panitia.


"Lomba kali ini pasti akan menjadi lebih menarik," sambung yang lain.


Namun, ada yang mempertanyakan apakah tetua perlu diberitahu tentang insiden tersebut. "Mungkin tidak usah. Biarkan saja seperti ini. Aku penasaran dengan Rekasi, orang tua itu," kata salah satu panitia.


Sementara itu, Lin Xiu yang telah menghabiskan bakpaonya melihat Liu Huan mendekat.


"Sudah selesai mendaftar?" tanya Lin Xiu.


"Tentu saja, walaupun tadi ada sedikit masalah," jawab Liu Huan.


"Hmm... Begitukah. Mau beli cemilan?" ajak Lin Xiu.


"Astaga, kau memang selalu makan saja ya," keluh Liu Huan.

__ADS_1


"Hehe, ayo pergi," seru Lin Xiu sambil menarik tangan Liu Huan.


Liu Huan hanya bisa menghela nafas dan mengikuti temannya yang doyan makan itu.


__ADS_2