
Negeri Matahari Terbit adalah sebuah kota yang menjadi titik pusat dari aktivitas yang ada di benua. Di sana sering kali diadakan acara-acara besar dan tempat bertemunya para ahli kultivasi.
Pada saat ini, di sana sedang diadakan acara untuk pencarian master muda di bidang pembuatan pil yang bertujuan untuk membuat sebuah inovasi baru untuk mencari cara melakukan terobosan ke ranah master realm yang begitu sulit.
Ling Xiu dan Liu Huan yang sudah satu hari di sana, terlihat masih sangat santai menikmati keindahan kota dan juga suasana kota yang ramai.
"Liu Huan, apakah kamu tidak merasakan ada seseorang yang mengikuti kita sejak kemarin?" tanya Ling Xiu yang gelisah.
"Hmm, memangnya kenapa?" balas Liu Huan.
"Aku tidak tahu, tapi entah kenapa perasaanku tidak enak saja," jawab Ling Xiu.
Mendengar itu, Liu Huan mengamati sekitar mereka dengan kemampuan yang diberikan oleh sistem sehingga ia dapat dengan jelas melihat menembus bangunan-bangunan yang menjadi penghalang.
"Ternyata ada dua orang yang mengikuti kita," gumam Liu Huan melihat dua orang yang bersembunyi di atas bangunan.
Setelah mengkonfirmasi hal tersebut, Liu Huan membalikkan pandangannya ke arah Ling Xiu.
"Mungkin hanya perasaanmu saja," ujar Liu Huan.
"Hmm, iya juga ya."
"Ling Xiu, bagaimana jika kita pergi ke sana? Sepertinya ada sesuatu yang enak di sana," bujuk Liu Huan sambil menunjuk ke sebuah warung. Melihat warung tersebut yang cukup ramai, Liu Xiu menjadi penasaran. Ketika mereka mendekati warung itu, tercium aroma harum dari dalam.
"Ayo, Liu Huan, kita masuk," ujar Ling Xiu.
"Kamu duluan saja, aku harus pergi ke kamar mandi," balas Liu Huan.
"Baiklah, jangan lama-lama. Aku akan mengamankan tempat untuk kita duduk."
Setelah Ling Xiu memasuki warung, Liu Huan beranjak dari tempatnya menuju ke arah yang berlawanan. Sambil melangkah, Liu Huan terus mengamati dua orang yang mengikutinya.
"Bagus, sepertinya mereka terpancing."
Tidak lumayan jauh dari lokasi warung itu, Liu Huan pergi berbelok ke arah kanan memasuki sebuah gang. Di dalam gang itu, Liu Huan menemukan jalan buntu yang dihadang oleh sebuah bangunan.
Ketika ia membalikkan pandangannya, kedua orang tersebut keluar dan menodongkan pedang ke arah Liu Huan.
"Cukup sampai di sini. Sudah satu hari penuh kami mengikuti mu akhirnya kami dapat kesempatan seperti ini untuk menangkap mu."
__ADS_1
"Sekarang cepat ikuti kami, atau jangan harap bisa keluar hidup hidup dari sini"
Di dalam situasi tersebut dengan kondisi terpojok, Liu Huan merasa tidak takut dengan ancaman kedua orang itu.
"Apa yang kalian bicarakan, mengalah kan ku? Apakah kalian bisa melakukannya?" tanya Liu Huan.
Mendengar ucapan Liu Huan mereka berdua merasa di hina. Dengan geram mereka berdua langsung melancarkan serangan spontan kepada Liu Huan.
"Rasakan ini, teknik berpedang : pembunuh"
Dengan serangan yang begitu cepat, Liu Huan dapat menghindari hal itu dan melakukan serangan balasan.
"Masih terlalu lambat"
Dengan kedua tangannya, Liu Huan menepis serangan mereka dan memukul mundur mereka.
"Apakah cuma segini kemampuan kalian" ucap Liu Huan dengan angkuh
"Jangan remehkan kami"
Dua orang tersebut kembali melancarkan serangan, tetapi kali ini mereka berdua menyerang dengan lebih hati-hati dan koordinatif. Mereka saling melindungi satu sama lain dan serangan mereka lebih sulit untuk dihindari.
Sang lawan terdorong mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya yang sakit, sementara Liu Huan mengalihkan perhatiannya pada lawan yang masih berdiri. Ia mengamati serangan mereka dan dengan cepat memutar tubuhnya untuk menghindari serangan tersebut.
Setelah berhasil menghindari serangan, Liu Huan kembali menyerang dengan tinju. Kali ini, serangannya sangat cepat sehingga lawannya tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Tinjunya menghantam wajah lawannya, dan ia terdorong mundur beberapa langkah sambil jatuh ke tanah.
Dengan cepat, Liu Huan melompat dan menyerang lawan yang masih berdiri dengan beberapa pukulan berturut-turut. Lawannya berusaha melawan kembali, tetapi ia tidak dapat mengikuti kecepatan serangan Liu Huan. Akhirnya, Liu Huan mengambil keuntungan dari celah yang terbuka dan melakukan pukulan terakhir yang menghantam dagu lawannya dengan keras.
Lawannya terlempar beberapa meter jauh dan jatuh ke tanah dengan berat.
"Sialan, dia tidak memberikan informasi jika target kali ini sangat kuat," geram salah satu dari mereka.
"Sudah cukup, sekarang cepat beritahu. Siapa yang menyuruh kalian berdua?" tanya Liu Huan dengan penuh arogansi, menatap mereka dengan pandangan yang tajam. Mereka yang ditetapkan oleh Liu Huan dari atas membuat mereka merasa seperti sampah di mata Liu Huan.
"Baiklah, akan saya beritahu. Jadi, mohon ampuni kami," ucap salah satu dari mereka, gemetar ketakutan.
"Akan saya beri kalian satu kesempatan. Jika saya mencium adanya kebohongan, maka hari ini akan menjadi hari kematian kalian," ancam Liu Huan, mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Melihat Liu Huan yang tidak main-main, mereka berdua dengan cepat mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Baiklah, yang menyuruh kami adalah Yan Fei," ungkap mereka.
"Siapa dia?" tanya Liu Huan.
"Kami tidak tahu. Kami hanya disuruh untuk membawa mu dalam keadaan pingsan," jawab mereka.
Karena merasa masih ada yang ditutup-tutupi, Liu Huan menghunuskan pedangnya dan menghancurkan tanah di samping mereka.
"Kali ini saya meleset, tapi lain kali tidak lagi," ujar Liu Huan.
Melihat kekuatan yang luar biasa, akhirnya mereka berdua mengucapkan semuanya.
"Hikk.... Ampuni kami tuan," mereka memohon.
"Yan Fei adalah salah satu master yang akan mengikuti acara pembuatan pil. Karena merasakan ada lawan yang begitu kuat, ia berencana untuk menyabotase anda agar bisa menjadi pemenang acara dengan mudah," terang mereka.
"Di mana dia sekarang?" tanya Liu Huan.
"Dia ada di kediamannya yang berada di pinggiran kota. Ketika anda sampai di sana, anda akan bisa melihat sebuah bangunan megah yang terbuat dari kayu jati dengan cahaya yang begitu terang," jawab mereka.
Setelah mengetahui semuanya, Liu Huan mulai berpikir.
"Sistem, apakah kau ada ide untuk menyelesaikan hal ini?" tanya Liu Huan.
[Kenapa anda tidak menangkap saja?] tanya sistem.
"Lah kok gitu?" bingung Liu Huan.
[Jadi begini, tuan...]
Setelah perdebatan yang cukup lama, akhirnya Liu Huan setuju. Ketika ia kembali fokus ke mereka berdua, Liu Huan masih melihat mereka terkapar tidak berani bergerak sedikit pun.
"Baiklah, jika kalian ingin diampuni, maka ikuti rencana saya," ujar Liu Huan.
"Dengan senang hati, tuan," ucap mereka.
Sementara itu, di dalam warung Lin Xiu, yang sudah dari tadi menunggu Liu Huan, sedang berusaha menahan hawa nafsunya untuk menyantap makanan yang telah ia pesan. Karena terlalu lama, akhirnya Lin Xiu kebablasan dan memakan makanannya.
"Kemana dia, astaga jangan salah kan aku jika kau tidak kebagian makanan"
__ADS_1