Aku Bukanlah Master Sungguhan

Aku Bukanlah Master Sungguhan
Chapter 29 : Tujuan Selanjutnya


__ADS_3

"Liu Huan," seru Ling Xiu yang berjalan di sampingnya.


"Apa?" tanya Liu Huan.


"Aku tahu kita ingin pergi ke negeri matahari terbit. Tapi kenapa jadi seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Liu Huan.


Di perjalanan, terjadi perdebatan di antara mereka berdua. Sudah beberapa hari mereka meninggalkan desa dan selama beberapa hari ini, Liu Huan dan Ling Xiu telah mengalami cukup banyak masalah, mulai dari hujan, monster di hutan, menuruni bukit, dan lain sebagainya. Walaupun begitu, entah mengapa mereka belum juga sampai di negeri matahari terbit.


"Sistem apakah maps yang kau berikan ini palsu? Sudah beberapa hari kami mengikuti maps ini tapi kenapa masih belum sampai juga?" gerutu Liu Huan dalam hati.


[Petunjuk yang saya berikan benar, negeri matahari terbit berjarak sangat jauh dari desa yang telah tuan rumah singgahi]


"Sial, berapa lama lagi kami harus berjalan kaki," gerutu Liu Huan.


Di bawah terik panasnya matahari, mereka berdua menyusuri jalan setapak melewati hutan yang cukup lebat. Ketika mereka keluar dari hutan, Liu Huan melihat ada seorang kakek tua yang membawa sebuah kereta kuda sedang dirampok oleh beberapa orang.


"Ling Xiu, tunggu di sini," ucap Liu Huan sambil mengambil pedangnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Ling Xiu.


"Membereskan hama. Teknik berpedang tahap awal: Pemotong awan."


Dengan cepat, Liu Huan menerjang para perampok dan mengalahkan mereka dengan seketika.


"Dasar jenius sialan, tiada hari tanpa pamer kekuatan," ujar Ling Xiu ketika sampai di tempat mereka.


"Kakek, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Liu Huan sambil menyarungkan pedangnya kembali.


"Saya tidak apa-apa. Terima kasih, anak muda," balas kakek itu.


Ling Xiu yang sudah sampai ke tempat mereka melihat hasil perbuatan yang telah dilakukan oleh Liu Huan.


"Bukankah kau semakin tidak berperasaan dengan waktu yang berlalu?" sindir Ling Xiu sambil menatap mayat perampok.


"Bukankah mereka yang salah?" balas Liu Huan. "Iya sih, tapi bukankah kau bisa membuat mereka pingsan saja?" sela Ling Xiu.


"Benar juga ya, hehe," jawab Liu Huan.


Saat mereka tengah asyik mengobrol, Liu Huan teringat untuk menanyakan tujuan kakek mereka. "Oh iya, kakek. Jika boleh tahu, kemana kakek pergi dengan kereta ini?" tanya Liu Huan penasaran.

__ADS_1


"Saya sedang menuju ke negeri matahari terbit. Ada apa?" balas sang kakek.


Mendengar ucapan kakek, mereka berdua langsung memohon untuk ikut serta.


"Bolehkah kami ikut dengan kakek ke sana?" tanya mereka.


Melihat mereka memohon dengan sangat, sang kakek tidak tega dan mengizinkan mereka untuk naik ke kereta dan melanjutkan perjalanan bersama.


"Sudah beberapa hari kami berjalan kaki, rasanya menyenangkan bisa duduk di atas kereta kuda seperti ini," ujar Liu Huan.


"Iya, tapi jangan terlalu bersantai. Kita masih harus berjaga-jaga," ingatkan Ling Xiu.


"Jika boleh tahu, Kakek mau ngapain disana?" Tanya Liu Huan penasaran.


"Apakah kalian tidak tahu? Disana setiap empat kali setahun bakalan ada acara master pil"


"Master pil?" Tanya mereka berdua heran


"Haha... Jika kalian tidak tahu mari saya jelaskan. Acara Master pil itu adalah sebuah acara yang dibuat untuk mencari master dari pembuat pil selanjutnya. Jika kalian berhasil memenangkan acara itu, semua hal yang kalian inginkan akan dikabulkan"


Mereka berdua terus menikmati perjalanan dan berbincang-bincang dengan kakek yang baik hati itu. Kakek itu menceritakan tentang keindahan negeri matahari terbit dan kebudayaannya.


Mereka disambut dengan ramah oleh penduduk desa. Mereka menikmati hidangan lezat dan istirahat di sebuah penginapan sederhana.


Esok paginya, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Liu Huan, Ling Xiu, dan sang kakek tua memasuki wilayah yang semakin terbuka dan luas. Di sebelah kanan dan kiri mereka, terhampar ladang-ladang hijau yang subur dan berjejeran pohon-pohon rindang. Pemandangan yang memukau ini terlihat semakin lama semakin indah ketika matahari mulai terbenam. Langit terlihat memerah dan awan-awan yang berada di sana terlihat seperti mengalir dengan lembut.


Setelah itu, mereka melewati sebuah lembah yang begitu dalam dan menakjubkan. Di sana, terdapat sungai yang mengalir deras dan bebatuan besar yang menghiasi pinggiran sungai. Di sekeliling lembah terdapat tebing-tebing curam yang menjulang tinggi, membuat suasana semakin terasa sepi dan sunyi.


Kemudian, mereka melewati hutan yang lebat dengan pohon-pohon besar dan daun-daun yang lebat. Suara burung-burung berkicau dan suara binatang-binatang hutan yang tidak dikenal terdengar di kejauhan. Mereka harus berjalan hati-hati agar tidak tersesat atau bertemu dengan monster-monster yang berbahaya.


Setelah melewati hutan, mereka sampai pada sebuah dataran tinggi yang menghadap ke samudra yang luas. Di sana, mereka bisa melihat jarak yang jauh, dan pemandangan yang begitu memukau membuat mereka terpana. Pada waktu malam, suasana semakin indah dengan cahaya bintang-bintang yang bersinar terang di langit.


"Anak-anak bangun lah, selamat datang di negeri matahari terbit" ujar sang kakek membangunkan mereka yang tertidur


Pada saat itu ketika mereka melihat ke depan sebuah negeri yang begitu luas dan indah menyambut mereka.


"Akhirnya Negeri matahari terbit" ujar Liu Huan.


[Selamat kepada tuan rumah, progres misi menjadi 20%. Misi selanjutnya menyelinap lah menjadi salah satu peserta dari acara yang sedang berlangsung. Hadiah : pil penambahan umur]


Akhirnya, mereka tiba di negeri matahari terbit. Di sana, terdapat pegunungan hijau yang menjulang tinggi, sungai-sungai yang mengalir tenang, dan pemandangan yang begitu mempesona. Semua perjalanan yang sulit dan melelahkan itu terbayar dengan keindahan dan kesenangan yang mereka rasakan ketika tiba di negeri matahari terbit.

__ADS_1


Sementara itu, di tempat lain, Shiori yang telah kabur dari rumahnya mencari keberadaan Liu Huan sudah cukup jauh dari kotanya. Ketika ia hampir kehilangan harapan, Shiori melihat sebuah desa yang terlihat sangat aneh.


"Apa itu? Dari apa mereka membangun rumah-rumah dan pintu masuknya?" pikir Shiori, penuh dengan rasa penasaran.


Karena penasaran Ia memutuskan untuk mendekati desa tersebut. Setibanya di sana, ia disambut oleh para penduduk yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka.


Shiori turun dari kudanya dan memilih untuk berjalan, dengan niat menghargai penduduk di sekitarnya.


"Permisi, kakak. Apakah kamu mencari sesuatu?" tanya seorang penduduk yang melihat Shiori sedang bingung.


Seketika, Shiori membalikkan badannya. Ia melihat seorang anak kecil yang sangat imut membawa beberapa sayuran.


"Maaf, adik kecil. Jika boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Shiori.


"Nama saya Ling Er. Jadi, ada apa, kakak?" balas Ling Er dengan ramah.


"Kakak sedang mencari suami kakak," ucap Shiori kepada anak itu.


"Kalau boleh tahu, nama suaminya siapa?" tanya Ling Er.


Karena Shiori hampir kehilangan harapan, ia hendak bercanda dengan Ling Er.


"Namanya Liu Huan. Dia hanyalah seorang manusia biasa yang payah dan tidak berguna," kata Shiori.


Namun, tanpa ia sadari, ucapan tersebut membuat Ling Er marah.


"Jangan hina kakak Liu Huan!" protes Ling Er sambil menggembungkan pipinya.


Mendengar hal itu, Shiori terdiam. Ia mencoba memastikan apa yang dimaksud oleh Ling Er.


"Apa? Apakah kamu pernah bertemu dengannya? Di mana dia berada sekarang? Apakah sama dengan gambar ini?" tanya Shiori sambil menunjukkan gambar Liu Huan pada Ling Er.


"Iya, sama kok," jawab Ling Er.


"Ling Er, di mana dia berada sekarang?" tanya Shiori.


"Hmm... Kalau tidak salah, kakak Liu Huan bilang dia ingin pergi ke negeri matahari terbit," jawab Ling Er.


Setelah mendapat informasi itu, Shiori segera meninggalkan desa tersebut.


"Eh, kakak?" panggil Ling Er yang tidak melihat Shiori di depannya.

__ADS_1


__ADS_2