
Chapter 20 : Sarang Bandit
Dalam sekejap, Liu Huan melancarkan serangan layaknya seorang ahli pedang. Sambil menyerang musuh yang lebih banyak, ia juga berhasil menghindari serangan mereka.
"Hehe... Apakah ini saja kemampuan kalian?"
Liu Huan dengan sigap menyerang titik vital mereka, sehingga para bandit itu terhempas ke tanah. Melihat anak buahnya terjatuh, ketua bandit tersebut marah dan memberikan perintah tambahan, "Sialan, kalian yang di belakang bantulah mereka untuk menghabisi bocah itu!"
"Serius, berapa banyak lagi yang harus ku hadapi?" Liu Huan yang sedang bertarung merasa terganggu oleh kedatangan bala bantuan tersebut.
"Teknik Pedang Tahap Awal: Pemecah Awan!"
Tanpa ragu, Liu Huan mengeluarkan teknik berpedangnya. Aliran qi berkumpul di pedangnya dan ia melancarkan serangan yang membuat bala bantuan itu terhempas tak berdaya.
Setelah menggunakan teknik yang cukup menguras tenaganya, Liu Huan menancapkan pedangnya ke tanah dan bersandar di sana. Sambil menggendong Ling Er, ia merasa bahwa pertarungan itu membutuhkan lebih banyak tenaga daripada yang ia perkirakan.
Melihat Liu Huan yang sedang kelelahan, ketua bandit tersenyum jahat. Ia berpikir bahwa Liu Huan sudah kehabisan tenaga karena bertarung melawan anak buahnya. Dalam sekejap, ia mengambil pedangnya dan berlari ke arah Liu Huan sambil melancarkan kekuatannya.
"Haha... Sepertinya tenagamu sudah habis. Rasakan ini, Teknik Pedang: Serangan Kematian!"
"Sial, mengapa dia menyerang sekarang? Apakah dia tidak melihat bahwa aku sedang lelah?" gumam Liu Huan saat melihat kepala bandit berlari ke arahnya.
"Jika kau ingin bertarung, maka aku siap!"
Dalam sekejap sebelum serangan kepala bandit itu mencapainya, Liu Huan dengan cepat menarik pedangnya dari tanah dan bergerak mundur sambil membentuk sebuah sikap.
"Teknik Pedang Tahap Awal: Pemotong Awan Variasi!"
Serangan mereka berdua bertemu, menciptakan sebuah ledakan yang menghancurkan area sekitarnya.
"Sial, bagaimana mungkin kau masih bisa membalas serangan cepatku ini?"
“Hei ayolah, bukan karena tidak bisa tapi karena aku lebih cepat dari mu,” balas liu huan menyeringai.
Melihat ketua bandit yang semakin lelah karena menahan serangan mereka yang saling beradu, Liu Huan tersenyum kecil dan menambahkan sedikit kekuatannya. Kekuatan Liu Huan yang semakin kuat membuat ketua bandit tidak dapat menahan serangannya dan kalah dalam duel tersebut, sehingga ia terpental cukup jauh.
Ketika ketua bandit mencoba untuk bangkit, ia melihat Liu Huan yang sudah berdiri di depannya sambil menyodorkan bilah pedang tepat di atas kepalanya.
__ADS_1
"Aku menang, sekarang beritahu aku di mana lokasi markasmu," ucap Liu Huan dengan suara tegas.
"Akan kubilang, tolong ampuni aku. Markas kami terletak di atas gunung itu. Kamu akan melihat sebuah pemukiman kecil dari kejauhan jika sudah berada disana," jawab ketua bandit dengan wajah ketakutan.
Liu Huan menarik pedangnya dan memasukkannya kembali ke dalam sarung. Ia meninggalkan para bandit itu sambil memberikan ancaman, "Jika kalian berani mengganggu desa ini lagi, kalian tidak akan diberi kesempatan kedua."
Ketua bandit dan pasukannya melarikan diri dengan wajah yang penuh ketakutan. Liu Huan yang menggendong Ling Er berjalan kembali ke dalam desa dan menurunkannya.
"Ling Er, sekarang bukalah matamu," ucap Liu Huan dengan ramah.
Ling Er membuka matanya dan melihat Liu Huan di depannya dengan senyum lembut tergambar jelas di wajahnya.
"Kakak, apakah kakak baik-baik saja?" tanyanya dengan cemas.
"Tidak apa-apa, kakak kan kuat," jawab Liu Huan sambil tersenyum.
[Misi Sampingan: Kalahkan bos bandit dan perbaiki desa ini. Hadiah: Buku Teknik Berpedang Nomor 4.]
Sebuah Layar muncul di depan Liu Huan, menampilkan misi terbaru dari sistem. Liu Huan yang melihat hal itu tersenyum senang karena sudah beberapa hari sistem tidak memberikan misi kepadanya.
"Iya kakak, sedikit," jawab Ling Er.
"Baiklah, ayo kita makan. Aku akan masakkan makanan yang enak untukmu," ucap Liu Huan.
Mereka berdua kembali ke rumah yang mereka tempati di desa kosong itu, di dapur rumah tersebut liu huan membuat masakan sederhana dari bahan-bahan yang tersedia di dalam rumah. Setelah masakan itu jadi, sebuah pemberitahuan muncul di depannya
[Selamat kepada tuan rumah, kemampuan memasak Anda telah meningkat menjadi tahap menengah.]
“Masak doang bisa naik tingkat, astaga siapa yang membuat sistem seperti ini,” gumam Liu Huan terkejut
Dengan perasaan senang, Liu Huan membawa dua piring masakan buatannya ke ruang makan.
“Ini, Ling Er, makanlah dulu,” ucap Liu Huan sambil menghidangkan dua mangkuk berisi masakan yang harum ke atas meja.
Pada saat itu Ling Er mencium aroma masakan yang lezat dan segera mengambil sendok untuk mencicipi. Matanya membulat ketika merasakan kelezatan kaldu dan daging yang meleleh di mulutnya.
“Kakak, ini enak banget,” kata Ling Er dengan gembira.
__ADS_1
Melihat Ling Er yang makan dengan rakus, Liu Huan merasa bahagia. Karena penasaran juga dengan rasanya, Liu Huan mulai mencicipi masakannya. Tetapi, ketika suapan pertama masuk ke dalam mulutnya, wajah Liu Huan langsung berubah masam.
“Hmm….Gagal”
Karena masih bimbang, ia mencoba suapan kedua. Seketika air matanya jatuh membasahi wajahnya. “Sialan, kenapa aku tidak bisa membuat rasa seperti di dunia sebelumnya”
Setelah selesai makan Liu Huan mengangkat mangkuk makanan mereka dan membersihkannya di dapur. Ketika Liu Huan kembali ke ruang makan, ia melihat Ling Er yang sudah tertidur pulas. Dengan perasaan aman Ling Er tertidur di kursi yang ia duduki, Liu Huan berjalan ke arahnya dan mengangkatnya ke kamar.
“Tidur yang nyenyak,” ucap Liu Huan sambil membaringkan Ling Er dan pergi menutup pintu kamar.
Ketika Liu Huan kembali ke ruang tamu, ia melihat pemberitahuan di depannya.
[Tuan rumah, sepertinya ini waktu yang pas untuk kita melihat markas dari para bandit itu]
“Iya kamu benar, aku juga sudah berencana untuk melakukan itu kok,” jawab Liu Huan.
Ia mengambil pedangnya dan keluar dari rumah. Setelah melihat ke arah gunung yang dimaksud, Liu Huan pergi menuju kaki gunung dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan kelincahan yang maksimal, ia melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya dengan santai.
“Sistem berapa lama, kita akan sampai ke puncak gunung ini?” tanyanya pada sistem.
[Menurut data yang di analisis, tuan rumah akan sampai dalam 5 menit lagi]
Mendengar informasi tersebut, Liu Huan tersenyum kecil dan membuka inventori untuk mengambil topengnya. Setelah ia mengenakan topeng, ia mengeluarkan pedangnya dan menggunakan tekniknya.
“Terlalu lama. Teknik berpedang tahap awal: Tangga Awan,” ucap Liu Huan.
Tiba-tiba sebuah pancaran kekuatan keluar dari pedangnya, Liu Huan menacapkan pedang itu ke pohon dan terjadi sebuah ledakan yang membuatnya terbang ke atas langit.. Dengan teknik yang sama, ia terbang mendekati puncak gunung dalam waktu 30 detik.
“Akhirnya sampai,” ucap Liu Huan dengan lega. “Sekarang, mari kita lihat apa yang ada di sini.”
Tidak cukup jauh ia berjalan dari lokasi pendaratan, Liu Huan melihat sebuah pemukiman keci disana. ia melihat sebuah gerbang yang di jaga oleh beberapa orang. Karena penasaran Liu Huan menggunakan kemampuannya untuk melihat informasi dari semua orang yang ada di desa.
“Hmm…. Sepertinya mereka hanya berada di ranah inti dasar.”
Tapi, ketika liu huan melihat lebih jauh. Di dalam desa terdapat seseorang yang sedang duduk di sebuah tempat. Ketika Liu Huan ingin melihat informasi dari orang itu, kekuatannya malah terpental.
“Sial, sepertinya ini tidak akan mudah,” gumamnya sambil membatalkan kemampuannya.
__ADS_1