
Setelah pertarungan melawan monster Hydra, Liu Huan pingsan dan dirawat oleh Shiori di penginapan Qi Zuyan.
Beberapa hari telah berlalu, namun Liu Huan masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Li Wei yang berada di pintu masuk kamar, membuka pintu sambil bertanya, "Permisi, bagaimana kondisinya?"
Shiori menggelengkan kepalanya memberikan tanda bahwa kondisi Liu Huan masih sama seperti beberapa hari sebelumnya.
Melihat Shiori yang selalu berada di samping Liu Huan, membuat Li Wei cemas. Dari informasi yang diperolehnya, Shiori belum makan sejak Liu Huan pingsan.
Walaupun mereka baru pertama kali bertemu, Li Wei merasa tidak tega melihat Shiori seperti itu. Ia tahu bahwa Liu Huan sangat berarti bagi Shiori, hal itu tergambar jelas dari tingkah lakunya selama beberapa hari terakhir.
Namun, membiarkan Shiori menyiksa dirinya juga bukanlah hal yang baik. Apalagi, jika suatu saat Liu Huan terbangun dan melihat Shiori yang pucat dan lemas, entah apa yang akan dilakukannya. Bisa saja ia akan marah dan menghancurkan tempat ini.
"Shiori, pergilah beristirahat. Apakah kamu ingin sakit saat Liu Huan terbangun?" ajak Li Wei.
"Tidak perlu, saya hanya ingin berada di sampingnya. Setelah cukup lama kami berpisah, saya menyadari bahwa kehidupan saya tanpa Liu Huan menjadi sangat sunyi," jawab Shiori.
Memahami maksud ucapan Shiori, Li Wei keluar dari kamar.
"Tunggu di sini, biar aku membawakan makanan untuk mengganjal perutmu."
Pintu kamar mulai tertutup perlahan, Li Wei pergi ke dapur untuk memeriksa bahan makanan yang tersedia.
Setelah membuat kekacauan di dapur, Li Wei berhasil mendapatkan beberapa bahan seperti kentang, wortel, dan beberapa bahan dapur lainnya.
"Bagus, sepertinya dengan ini aku bisa membuat bubur," pikir Li Wei.
Dia membersihkan kentang dan wortel, menghaluskannya, dan mencampurnya dengan beberapa bumbu dapur lainnya.
Setelah selesai memasak, Li Wei mencicipi hasil masakannya terlebih dahulu untuk memastikan apakah enak atau tidak.
"Hmm.... Sepertinya kurang garam," gumam Li Wei.
Dia mengambil kotak garam dan menambahkan sedikit garam ke dalam masakan nya.
"Hmm.... Sempurna," kata Li Wei dengan senyum puas.
Dengan mangkuk dan segelas air, ia pergi menuju ke tempat Shiori.
"Maaf mengganggu," kata Li Wei sambil membuka pintu kembali dan meletakkan hasil masakannya di atas meja.
__ADS_1
"Nih, makanlah dulu," ujarnya ramah.
"Terima kasih banyak," jawab Shiori dengan senyum lembut, menerima mangkuk yang disodorkan oleh Li Wei.
Dengan perlahan, Shiori mencoba masakan Li Wei. Mulutnya yang kecil terbuka untuk pertama kalinya setelah kejadian itu untuk menyantap makanan. Suara perut yang keroncongan seketika menghilang saat Shiori memakan masakan Li Wei.
Setelah menghabiskan makanannya, Li Wei menyodorkan air minum kepada Shiori.
"Maaf merepotkan mu, padahal kita baru bertemu beberapa hari yang lalu," ujar Shiori dengan nada lemah.
"Jangan terlalu dipikirkan, lagian jika bukan karena Liu Huan, mungkin kita tidak akan bisa bertahan hidup hari ini," kata Li Wei.
Di saat mereka sedang berbincang-bincang santai, pintu kamar kembali terbuka. Saat itu, Ling Xiu dan Qi Zuyan terlihat membawa sesuatu.
"Saudaraku Liu Huan, apa yang terjadi denganmu? Ini aku bawakan bakpao kesukaanku, jadi bangunlah," ucap Ling Xiu yang baru sampai, panik mengetahui sahabatnya masih belum bangun.
"Liu Huan, mau sampai kapan kamu tertidur? Bangunlah, saya sudah membawakan buku warisan leluhur sebagai ucapan terima kasih," seru Qi Zuyan.
Melihat mereka berdua yang begitu berisik, Li Wei kesal dan mencubit telinga mereka.
"Kalian berdua sudah berhenti. Yang satu sudah tua tapi kelakuannya masih kayak anak-anak, yang satu lagi sudah dewasa tapi masih berisik seperti anak bayi."
"Aduh, aduh," serentak Ling Xiu dan Qi Zuyan merintih kesakitan.
"Liu Huan, bangunlah, lihatlah itu. Orang-orang yang kamu kenal sangat khawatir denganmu."
Mengetahui tidak ada balasan dari Liu Huan, Shiori tidak sanggup lagi menahan air matanya. Ia memeluk Liu Huan dengan erat sambil menangis.
Mereka bertiga yang sedang bertengkar seketika terdiam ketika Shiori menangis. Melihat hal itu, mereka bertiga yang sudah berusaha terlihat tegas juga ikut meneteskan air mata.
Bagi Ling Xiu, Liu Huan adalah penyelematan sekaligus sahabatnya yang paling berarti. Sementara bagi Qi Zuyan dan Li Wei, Liu Huan adalah seseorang yang sangat berjasa dalam kejadian besar itu dan salah satu orang yang mereka hormati.
[Selamat, misi utama telah berhasil dilaksanakan. Hadiah anda sudah berada di dalam inventori.]
[Misi selanjutnya akan diberikan setelah tuan rumah pulih.]
Saat mereka meneteskan air mata, Liu Huan yang terbaring perlahan-lahan mulai membuka matanya.
Shiori yang merasakan ada pergerakan dari Liu Huan terkejut. Ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Liu Huan. Seketika dari wajahnya tergambar sebuah kebahagiaan yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Pada saat itu, Shiori melihat Liu Huan yang perlahan-lahan membuka matanya.
__ADS_1
"Liu Huan."
Ketika Liu Huan terbangun dari pingsannya, suasana menjadi hening dan tegang. Teman-temannya yang sebelumnya sedang bertengkar dan bercanda, kini terdiam. Mereka langsung bergegas mendekati Liu Huan. Ketika Liu Huan membuka matanya, pantulan cahaya menerpa dirinya.
Pandangannya yang semula kabur perlahan-lahan menjadi jelas. Saat itu, ia melihat teman-temannya berdiri di sekitarnya dengan wajah yang sedih.
"Umm... Ada apa dengan kalian?" ucap Liu Huan dengan suara lemah.
Suasana seketika menjadi rusuh.
"Liu Huan, akhirnya kau bangun, sobat!" seru Ling Xiu memeluk erat Liu Huan.
"Akhirnya, kenapa kau harus tertidur sangat lama?" ucap Li Wei dengan nada sedikit judes.
"Selamat, anak muda. Akhirnya kamu terbangun dari pingsan. Saya ucapkan terima kasih karena telah membantu saya untuk menembus ranah master realm tahap akhir," ucap Qi Zuyan dengan hormat.
Melihat teman-temannya dan orang yang ia kenal berkerumun di sekitarnya, membuat Liu Huan merasa senang. Walaupun ia tidak tahu apa yang terjadi, baru kali ini Liu Huan merasakan ada orang yang mengkhawatirkannya.
Setelah cukup lama berbicara dan mengetahui kondisi dari Liu Huan, mereka semua izin pamit untuk melanjutkan urusan mereka.
Seketika suasana yang begitu berisik dan ramai tadi berubah menjadi sunyi. Di dalam ruangan, hanya tinggal Liu Huan bersama dengan Shiori yang dari tadi diam membisu.
Melihat Shiori seperti menahan diri, Liu Huan berkata.
"Mau berapa lama lagi kamu bersikap seperti itu?"
Tanpa banyak basa-basi, Shiori langsung mengambil alih suasana. Pada saat itu, Liu Huan sangat terkejut. Shiori yang ia kenal sangat berwibawa dan tidak mudah untuk disentuh, pada saat itu malah dengan niatnya sendiri memeluk erat Liu Huan dan menciumnya.
"Ha... Ha... Shiori, apakah kamu yakin?"
Shiori tidak menjawab pertanyaan Liu Huan. Namun, ia malah mencium Liu Huan kembali dengan lebih intens, Liu Huan merasa dirinya tersentak dan terpancing untuk membalas ciuman tersebut.
Liu Huan memeluk Shiori erat dan menciumnya dengan penuh semangat. Mereka saling berpegangan, merasakan kehangatan satu sama lain. Liu Huan merasakan detak jantungnya semakin cepat, dan Shiori meresponnya dengan memeluknya lebih erat lagi.
Ciuman mereka semakin intens, hingga keduanya merasa sulit untuk melepaskan diri. Terkadang mereka ******* bibir satu sama lain, terkadang mereka mengecup dengan lembut. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya suara nafas mereka yang terdengar semakin cepat.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya melepaskan ciuman mereka. Liu Huan menatap Shiori dengan tatapan lembut, sementara Shiori merasakan hatinya berdebar kencang.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menahan diri lagi. Ketika aku mengetahui kau menghilang, hati ku menjadi sangat hancur dan sakit," ucap Shiori dengan suara lembut.
__ADS_1
Liu Huan hanya tersenyum dan memeluk Shiori erat. Mereka berdua merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, dan merasa seperti tidak ingin melepaskan satu sama lain.
"Aku tidak apa-apa, bahkan aku sangat senang," jawab Liu Huan dengan suara yang penuh dengan kehangatan.