
Chapter 18 : Desa Rusak
Setelah meninggalkan keluarga Lin, Liu Huan pergi berkelana menuju negara yang ditunjukkan oleh sistem.
[Memverifikasi jurus pinjaman, jurus pinjaman telah dihapuskan]
"Kenapa kau terlalu pelit sekali?" gumam Liu Huan dengan wajah cemberut setelah melihat notifikasi dari sistem.
"Oh iya, sistem tampilkan informasi tentang diriku."
Seketika, Liu Huan penasaran dengan status dirinya.
[Menampilkan informasi]
[Nama: Liu Huan]
[Umur: 24 tahun]
[Ras: Manusia]
[Kultivasi: Tidak diketahui]
[Keterampilan: Penyulingan Pil Tingkat Tinggi, Pengguna Pedang Tingkat Tinggi]
[Jurus: Peminjaman dari sistem, Pedang Penghancur Nirwana, Intimidasi Tingkat Tinggi]
"Hmm... Mengapa kultivasiku belum diketahui?" gumam Liu Huan sambil melihat layar yang mengambang di depannya.
[Tuan rumah bukanlah master sesungguhnya, Anda dapat berkultivasi karena dibantu oleh saya.]
"Begitu kah, mau bagaimana lagi."
Ketika Liu Huan sudah cukup jauh dari kota, dari kejauhan ia melihat sebuah desa kecil. Dari pandangan Liu Huan, ia melihat kondisi desa itu dengan samar-samar.
"Apa yang terjadi di sana?" ujarnya mengerutkan dahi karena tidak terlihat jelas.
Karena penasaran, ia menambah kecepatan dan akhirnya sampai di depan pintu masuk desa. Saat sampai di sana, Liu Huan cukup terkejut. Desa yang ia lihat dari jauh sekarang menjadi sangat jelas.
dia melihat kondisi yang sangat memprihatinkan. Bangunan di sekitar pintu masuk tampak sangat usang dan dinding-dindingnya sudah rusak parah. Halaman dan jalan-jalan di desa terlihat tidak terurus dan berlubang-lubang.
__ADS_1
Rumah-rumah warga sudah banyak yang roboh, dan yang masih berdiri juga dalam kondisi yang sangat buruk. Beberapa bangunan bahkan sudah terbakar, mungkin akibat dari perang atau serangan dari monster.
"Hmm... Sistem, apakah kamu tahu sesuatu tentang desa ini?" tanya Liu Huan sambil mengamati sekitarnya.
[Melakukan konfirmasi, memuat pengetahuan dasar. Konfirmasi pengetahuan berhasil.]
Menurut informasi yang diberikan oleh sistem, desa ini telah diserang oleh sekelompok bandit gunung selama beberapa bulan terakhir. Mereka meminta uang setiap tahun dengan dalih untuk keamanan. Jika desa tidak bisa memberikan uang yang mereka minta, maka penduduk desa akan dibawa ke markas bandit.
“Sial,” gerutu Liu Huan setelah mengetahui hal itu.
Ketika ia berjalan di alun-alun desa, tiba-tiba terdengar suara yang sangat parau, seolah-olah orang itu sudah meminta bantuan selama beberapa jam.
"Tolong!"
“Tolong aku!”
teriakan seorang anak kecil terdengar dari sebuah gubuk di sebelah kiri Liu Huan. Mendengar itu, Liu Huan segera berlari ke arah suara tersebut. Ketika sampai di sana, ia melihat seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun sedang dikepung oleh beberapa bandit.
“Bocah sialan! Kenapa kau berteriak? Tidak ada orang yang akan datang untuk membantumu.”
“Benar itu, Siapa juga yang mau datang ke desa rusak ini?”
“Hahaha!”
“Apakah kau kira akan ada seorang ksatria hitam yang jatuh dari langit untuk menyelamatkanmu?”
Ketika para bandit sedang mempermainkan bocah itu, emosi Liu Huan mencapai puncaknya. Ia mengeluarkan pedangnya dari sarung.
“Teknik berpedang tahap awal: Pemotong Awan.”
Dengan cepat, Liu Huan menyerang para bandit dan membelah mereka dengan satu ayunan pedang. Para bandit itu tidak bisa berbuat apa-apa dan tubuh mereka terbelah menjadi beberapa bagian, membuat darah mengucur seperti air mancur.
"Kau tidak apa-apa, adik kecil," ujar Liu Huan yang berdiri di depannya sambil sedikit membungkuk.
Melihat Liu Huan datang menolongnya, gadis kecil itu yang dari tadi merasakan ketakutan, mengeluarkan air matanya. Liu Huan yang melihat hal itu, merasa seperti bernostalgia ketika ia menolong seorang anak kecil di sebuah lembah.
Liu Huan mengangkat gadis itu dan pergi dari sana. Karena tidak ada siapa-siapa di desa itu, Liu Huan masuk ke sebuah rumah yang terlihat masih cukup kuat. Ia menurunkan gadis tersebut dan mencoba mencari air minum untuknya.
Ketika Liu Huan melihat ke dapur rumah, ia menemukan sebuah tungku air yang masih memiliki sedikit air yang tersisa. Ia menyulingkan sisa air itu ke dalam sebuah gelas lalu memberikannya ke gadis kecil tersebut.
__ADS_1
"Untuk sekarang, minumlah ini dulu."
"Hm..."
Gadis kecil itu menerima tawaran dari Liu Huan dan meminum air tersebut seperti seseorang yang kehausan. Setelah ia selesai, gadis kecil itu dengan ragu-ragu berbicara kepada Liu Huan.
"Te-terima kasih, Kakak."
Mendengar ucapan gadis kecil itu membuat Liu Huan tersenyum kecil, ia berjalan ke dekat gadis tersebut dan mengelus kepalanya.
"Tidak apa-apa, kebetulan kakak sedang berada di sekitar sini."
"Jika boleh tahu, nama mu siapa? Adik kecil?" Dengan wajah tersenyum ramah, Liu Huan mencoba membuka pembicaraan dengan gadis itu.
Dengan ekspresi yang masih ragu-ragu, gadis kecil tersebut memainkan jari-jarinya yang kecil dan menjawab,
"Nama ku Ning Er, aku berusia 10 tahun."
"Ooo... Jadi adik kecil ini bernama Ning Er. Kalau begitu, salam kenal Ning Er, nama kakak Liu Huan."
Balas Liu Huan dengan senyum ramah tergambar dari wajahnya ketika berbicara dengan Ning Er. Karena Liu Huan yang terlihat ramah kepadanya membuat Ning Er perlahan-lahan menjadi lebih rileks dan merasa aman.
"Jadi bolehkah, Kakak tahu apa yang terjadi di sini?" tanya Liu Huan mengubah topik pembicaraan mereka.
"Boleh," Ning Er dengan badan kecilnya dan wajah yang begitu imut mengangguk. Ia mendekat ke arah Liu Huan dan duduk di sampingnya lalu bercerita.
‘Satu tahun sebelumnya, desa tempat tinggal Ning Er sangat makmur dan penduduknya sangat ramah. Hasil alam yang berlimpah membuat penduduk hidup dengan sejahtera. Namun, suatu hari, sebuah kelompok yang berbadan besar datang ke desa tersebut. Karena desa mereka terkenal dengan keramahan, kelompok itu disambut baik oleh penduduk setempat. Namun, kelompok yang terlihat cukup berbahaya itu malah mengancam para penduduk setempat. Dengan kekuatan mereka, desa yang begitu asri dan indah berubah menjadi sebuah tempat yang mencekam. Setiap bulan, para penduduk desa harus memberikan uang dengan alasan keamanan.’
Liu Huan yang mendengar cerita Ning Er menjadi termenung dan terlihat kerutan di dahinya. "Ini sama dengan yang aku dengar dari sistem sebelumnya," gumamnya.
‘Suatu hari, sebuah wabah menyerang desa. Para penduduk mengalami kerugian yang cukup besar karena hasil panen mereka menurun. Ketika kelompok itu datang, kepala desa mencoba menjelaskan kepada mereka. Namun, mereka malah marah dan merusak bangunan-bangunan. Karena takut, para penduduk desa tidak berani melawan mereka.
Karena penduduk desa tidak dapat memberikan apa yang diminta, akhirnya kelompok itu membawa dua orang dari penduduk desa dan menaikkan jumlah uang yang harus dibayar.’
Begitulah akhirnya Ning Er mengakhiri ceritanya dengan tangan yang gemetaran seolah-olah teringat kembali dengan kenangan buruk yang ia alami. Melihat hal itu, Liu Huan mengelus lembut rambutnya dan berkata,
"Jangan khawatir, kakak akan membantu kamu untuk mengembalikan desa ini seperti dulu."
Saat itu, Ning Er yang mendengarkan ucapan Liu Huan mengeluarkan air matanya. Namun, air mata yang keluar bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata bahagia karena telah menemukan sebuah cara untuk keluar dari permasalahan yang dihadapinya.
__ADS_1
"Terima kasih, kakak," ucap Ning Er dengan tangisan bahagia yang tidak dapat dibendung.
"Tidak apa-apa, adik kecil. Mulai sekarang serahkan hal ini kepada kakak," kata Liu Huan dengan lembut.