
Aku Bukan Master Sungguhan
CH 11 : Ketahuan
[Tuan rumah, kenapa jika anda menggunakan topeng sifat anda malah menjadi terbalik dengan yang asli?]
“Masa itu aja nanya, jadi gini. Setiap orang pasti ingin menjadi sosok misterius di kisah mereka. Oleh karena itu, berhubung wajah ku ditutupi oleh topeng sekalian aja merubah sifat menjadi seperti orang yang misterius” ujar Liu Huan dengan bangga
[Oh, begitu]
“Lah gitu doang responnya” kata liu huan mendengar ucapan sistem “Dasar, kenapa tidak kagum sedikit pun”
Setelah menjawab pertanyaan sistem dengan bangga, Liu Huan kembali ke kediaman keluarga Lin. Ia melepaskan semua perlengkapannya dan memasukkannya ke dalam inventori. Dengan pakaian yang biasa ia pakai, Liu Huan masuk ke dalam rumah dan melihat Lin Yang sedang duduk di atas pohon. "Halo, kakak ipar, apa yang sedang kamu lakukan di sana?" sapanya.
Lin Yang turun dari pohon dan merangkul Liu Huan. "Hai, adik ipar. Dari mana saja kamu?" tanya Lin Yang.
"Habis berkeliling, kak," jawab Liu Huan. “Lalu kenapa kakak duduk diatas sana?”
“"Mereka terlalu membosankan," jawab Lin Yang.
Eh, membosankan gimana?” ucap Liu Huan heran.
"Gimana tidak membosankan, mereka hanya berlatih tanpa henti. Bukankah itu sangat membosankan?" keluh Lin Yang seraya menghela nafas.
Lin Yang adalah kakak tertua dari Shiori dan berasal dari keluarga Lin yang telah mencapai ranah inti besar tingkat akhir. Meski terlihat serius dan rapi, ternyata sifatnya berbanding terbalik dari penampilannya yang kaku dan konservatif.
“Aha, bagaimana jika kita ke kota dan bersenang-senang di sana” ucap lin Yang dengan semangat, seakan merasakan kepungan pikiran yang kreatif.
“Hmm…. Boleh juga, siapa tahu aku bisa mengeksplorasi tempat-tempat baru dan makanan yang berbeda” gumam liu huan dalam hati.
“Ayo, kak” balas liu huan dengan semangat yang sama.
“Gasskan!” ucap lin Yang, menarik tangan Liu Huan.
Mereka kemudian berjalan ke kota, seperti dua pelari yang berlomba menuju garis finish. Saat sampai di sana, lin yang langsung mengajak liu huan untuk menikmati sebuah cemilan yang bernama mochi. “Gimana, enak kan?” tanya lin yang penasaran, seakan menjadi seorang chef yang senang melihat reaksi tamu yang menikmati masakannya
“Hmm…. Enak kak, sepertinya rasanya menyejukkan hatiku yang gundah” balas liu huan sambil memakan mochi dengan perlahan.
“Entah kenapa ini terasa seperti makanan dari dunia ku dulu ya, tapi bodohlah. Kalau enak ya makan saja” gumam liu huan dalam hati.
Setelah mencicipi makanan, Lin Yang mengajak Liu Huan ke sebuah tempat. Tempat itu terlihat seperti sebuah misteri yang harus dipecahkan, mereka harus melewati beberapa gang sempit sebelum sampai ke sana.
__ADS_1
“Kak, bukannya ini rumah bordil?” ucap liu huan ketika melihat penampilan luar tempat itu.
“Sudah-sudah mari kita masuk, kau mau itu kan” kata Lin Yang dengan sinis, seakan menjadi seorang penjual yang berhasil menjual produknya kepada pelanggannya
“Hooo…. Boleh juga, mari kita masuk” ucap Liu Huan dengan mantap.
Saat mereka sedang bersenang-senang di kota, di kediaman keluarga Lin terlihat Shiori yang dari tadi berputar-putar di halaman rumah mencari seseorang. “Li Huan dimana kau!” teriaknya memanggil suaminya dengan keras, seperti seorang ibu yang khawatir kehilangan anaknya
“Hei, apakah kau melihat Liu Huan?” tanya shiori kepada salah satu orang yang berada di sana.
“Aku tidak tahu,” balas orang itu dan melanjutkan pekerjaannya. “Hadeh, kemana orang itu. Jika kakak sih tidak masalah, tapi kenapa dia juga ikut menghilang” gumam shiori menghela nafas
Karena tidak menemukan Liu Huan di mana pun di kediaman keluarga Lin, Shiori mencoba menebak keberadaannya. "Mungkin dia sedang seperti jarum dalam tumpukan jerami," ucapnya merenung.
Sebelum pergi ke kota, Shiori meminta izin dari ayahnya terlebih dahulu. Setelah mendapatkan persetujuan, ia melompat menunggangi kudanya menuju ke kota. Saat tiba di sana, Shiori disambut ramah oleh penduduk setempat.
"Permisi, apakah kalian melihat orang ini?" tanyanya sambil menunjukkan gambar.
"Saya mohon maaf, tapi saya belum pernah melihatnya," balas salah satu penduduk sambil kembali ke pekerjaannya.
Shiori bertanya-tanya pada beberapa penduduk setempat tentang keberadaan Liu Huan. Setelah beberapa saat, Shiori beristirahat di sebuah warung tempat biasa kakaknya beristirahat.
"Shiori, sudah lama sekali tidak mampir," sapa pemilik warung dengan ramah.
"Oh ya, kenapa kamu datang ke sini?" tanya pemilik warung sambil menyajikan dua piring mochi.
“Aku sedang mencari seorang pria dan juga kakaku” balas Shiori sambil duduk memakan mochi.
"Barusan kakak mu juga mampir dengan seorang pria kesini," jawab pemilik warung.
Mendengar itu, Shiori langsung bangkit. "Di mana mereka, apakah pria itu seperti ini?" tanyanya sambil menunjukkan gambar.
"Iya, itu dia. Mereka tadi masuk ke sebuah gang yang ada di sana," jawab pemilik warung sambil menunjuk ke sebuah gang.
"Terima kasih banyak," ujar Shiori dengan hormat sebelum meninggalkan warung.
"Oh iya," tiba-tiba Shiori teringat sesuatu. "Maafkan aku, ini uangnya dan terima kasih," ucap Shiori kembali ke warung dan kemudian pergi.
"Ara, enaknya jadi muda," kata pemilik warung itu sambil melihat Shiori pergi dengan cepat.
"Gadis itu benar-benar pintar, dia seperti penyulap yang membuat uang muncul seperti sihir," gumamnya.
__ADS_1
"Kakak sialan, jangan bilang mereka akan pergi ke sana," keluh Shiori sambil mengigit mochi.
"Ayo, mari kita berpesta!" seru Lin Yang dengan semangat.
"Araa... Sudah mabuk nih orang," gumam Liu Huan yang duduk di sebelahnya.
"Ayo adik ipar, mari kita berpesta!" ajak Lin Yang lagi sambil mengangkat gelasnya.
Ketika itu, para gadis yang dipesan masuk ke tempat mereka, “Permisi, maaf kami telat” ucap mereka saat memasuki ruangan dengan langkah lentik dan tubuh yang meremang seperti daun yang digoyang angin.
“Buset, ini sih spek manhwa” ucap liu huan ketika melihat mereka memasuki ruangan dengan mata yang melebar seperti bintang di malam gelap. “Tapi lebih cantikan istri ku sih, hwhwhw” lanjutnya dengan senyum nakal yang menyilaukan.
[Terdeteksi otak mesum dari tuan rumah, bersiap melakukan penanganan dengan kecepatan kilat]
“Stop, stop, aku tidak berpikiran seperti itu” teriak Liu Huan dalam hati sambil menahan nafas.
[Baiklah, mengentikan penanganan darurat dengan sigap]
“Hampir saja, aku jadi udang gosong” gumam Liu Huan menghela nafas dengan suara yang seakan-akan tenggelam di dalam lautan kegelapan.
“Mari adik ipar kita bermain bersama mereka” kata Lin Yang dengan suara lembut yang menarik hati dan tangannya yang lembut menarik tangan Liu Huan seperti magnet yang menarik besi.
Di ruangan itu, Lin Yang dan Liu Huan berpesta bersama dengan beberapa gadis yang mereka pesan. Setelah beberapa saat, pintu ruangan kembali terbuka dengan suara derak yang menggema seperti langkah kuda di padang pasir. “Eh, perasaan aku Cuma memanggil tiga orang saja” ucap Lin Yang saat menyadari pintu ruangan terbuka dengan mata yang memancarkan kecerdikan.
“Jangan pedulikan kakak, kasihan gadis disamping mu kamu abaikan itu” ujar Liu Huan yang malah ikutan mabuk dengan suara yang kacau.
“Iya juga ya, ayo gadis kecil mari masuk dan ikut berpesta dengan kami” kata Lin Yang, kembali menikmati suasana dengan senyum yang merekah seperti bunga mekar di musim semi.
Pada saat gadis itu memasuki ruangan, sebuah intimidasi kuat datang bersamaan dengan langkahnya seperti gelombang besar yang menerjang karang. Setiap langkah yang diambil di penuhi dengan emosi yang meledak seperti gunung berapi yang meletus. “Berani sekali kamu bermain disini, Suami ku” ujar gadis itu dengan penuh emosi.
“Ayo kesini gadis kecil…” Saat mendengar suara itu ucapan Liu Huan tiba-tiba berhenti, ia langsung melihat ke arah pintu.
“Mati gw!” Liu Huan terkejut, orang yang masuk ternyata adalah Shiori dengan suara yang nyaring seperti petir di tengah badai.
“kakak ipar sadar, sadar kak” ucap liu huan menampar lin yang dengan gerakan yang cepat seperti kilat.
“Aduh sakit, ada apa adik ipar?” kata Lin Yang tersadar dengan suara yang nyaring
“Lihat siapa yang datang kak” ujar Liu Huan ketakutan
“Hadeh, tenang saja adik. Memangnya siapa yang…. SHIORI!” Teriak Lin Yang terkejut dengan kehadiran Shiori
__ADS_1
“Bisa kalian jelaskan dengan jelas apa yang sedang terjadi di sini?” desak Shiori dengan nada serak dan tajam seperti pedang.