
Lembah Naga merupakan salah satu area yang terisolasi dari dunia luar. Menurut rumor yang beredar, jika seseorang ingin memasuki area itu, perlu menyelesaikan tes yang diberikan oleh penjaga lembah tersebut. Terlebih lagi, beberapa orang yang pernah pergi ke sana untuk mengikuti tes sempat memberikan bocoran bahwa penjaga dari lembah itu adalah naga sungguhan.
Di kediaman Qi Zuyan, Liu Huan bersama dengan teman-temannya yang lain sedang duduk bersama di taman.
"Jadi, setelah dari sini mau kemana lagi kalian?" tanya Qi Zuyan menatap Liu Huan.
"Mungkin aku akan pergi ke lembah Naga. Apakah kalian tahu sesuatu tentang tempat itu?"
Semua orang kaget. Mereka tidak menyangka nama tempat itu akan keluar dengan santainya dari mulut Liu Huan.
"Apakah kamu serius ingin pergi kesana, saudara?"
Ling Xiu terlihat khawatir dengan raut wajah yang memelas.
"Iya, ada sesuatu yang harus aku lakukan di sana."
"Begitukah. Jika kamu ada keperluan di sana, maka aku tidak dapat melarang mu untuk pergi," kata Qi Zuyan.
Li Wei yang baru saja datang sambil membawa minuman tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Sebaiknya kamu jangan terlalu gegabah, Liu Huan," ujar Li Wei.
Qi Zuyan yang melihat Li Wei datang membantunya untuk menyajikan minuman kepada mereka.
"Memangnya ada apa?"
"Menurut informasi yang ada, jika kamu ingin memasuki lembah itu, kamu perlu mengikuti tes yang sulit."
Li Wei memberikan minuman kepada Liu Huan dan pergi duduk di bangku yang kosong.
"Terima kasih," ujar Liu Huan mengambil gelas.
"Memang benar apa yang Li Wei katakan" sela Qi Zuyan.
"Apakah kamu sudah pernah ke sana, Qi Zuyan?" tanya Liu Huan.
Qi Zuyan mengerutkan dahinya, seolah-olah ia mengingat kembali kenangan yang buruk yang menimpa nya.
"Saya pernah mengikuti tes di sana," jawabnya.
__ADS_1
Semua orang terdiam membisu, melihat mereka semua diam, Qi Zuyan kembali melanjutkan ucapannya.
"Itu terjadi saat saya masih muda. Tapi ketika tes pertama, saya gagal."
Seketika mereka bertiga menjadi ribut, beberapa pertanyaan mulai diajukan dengan antusias.
"Benarkah? Apakah penjaga lembah itu beneran seekor naga?" tanya Ling Xiu.
"Bagaimana dengan tesnya, apakah sangat sulit?" tanya Li Wei.
"Bisakah anda jelaskan secara rinci?" tambah Liu Huan.
Melihat mereka yang berdesakan mengajukan beberapa pertanyaan, mata Qi Zuyan membulat. Sudah berapa lama, ia tidak pernah merasakan sensasi seperti ini.
Suasana yang damai, sambil duduk bersama teman-temannya, bercanda gurau, dan menikmati teh yang enak.
"Sudah-sudah, biarkan saya memberikan cerita yang singkat mengenai lembah itu," kata Qi Zuyan sambil menyeruput minumannya, lalu mulai bercerita.
Pada saat ia masih muda, Qi Zuyan sangat tertarik dengan monster-monster kuno. Hingga semua anggota sekte tempatnya berada menganggapnya aneh.
Setiap kali istirahat setelah latihan, dia selalu menyisihkan waktu untuk menyelinap ke perpustakaan sekte dan membaca buku-buku tentang monster kuno.
Suatu hari, sekte di mana Qi Zuyan berada mengadakan penelusuran di bawah kaki gunung. Qi Zuyan terpilih menjadi salah satu peserta bersama dengan beberapa temannya.
Pada hari keberangkatan, mereka berkumpul di aula sekte sebelum pergi ke tujuan. Di sana, para tetua memberi pesan untuk tidak memasuki gunung itu. Mereka hanya diizinkan untuk berjalan di kaki gunung saja karena di sana terdapat monster kuno yang menjaga tempat itu.
Hal tersebut membuat Qi Zuyan sangat bersemangat. Dia tidak menyangka akan mengetahui bahwa monster kuno masih hidup di eranya.
Setelah ceramah yang cukup lama, mereka kemudian berpamitan. Qi Zuyan dan teman-temannya bergerak dengan cepat menuju lokasi.
Tujuan dari penelusuran kali ini adalah untuk mencari bahan obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh sekte.
Saat mereka tiba di sana, hari sudah malam. Karena minimnya penerangan, pengawas dari kelompok itu meminta mereka untuk membuat tenda peristirahatan terlebih dahulu.
Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti pembuat tenda, pencari kayu bakar, dan bagian memasak.
Saat mencari kayu bakar, Qi Zuyan mendapatkan ide. Mengapa mereka tidak berpisah saja? Kalau berjalan bersama-sama, mereka akan berebut kayu bakar yang mereka temukan. Teman-temannya setuju dengan usulan Qi Zuyan.
Mereka berpisah dan bergerak dalam arah yang berlawanan sesuai dengan arah mata angin. Qi Zuyan mendapatkan bagian utara dan ia bergerak menuju gunung.
__ADS_1
Saat berada di sana, Qi Zuyan mulai mengumpulkan ranting-ranting yang patah dan beberapa batang pohon kecil yang tumbang.
Ketika melihat gunung yang berada di depannya, mata Qi Zuyan membulat, takjub dengan pemandangan gunung itu. Menurut informasi yang disampaikan oleh tetua sekte, gunung itu dijaga oleh makhluk kuno yang sangat kuat.
Karena ia sangat penasaran, Qi Zuyan melanggar perintah dari tetua. Dengan kayu bakar yang berada di tangannya, Qi Zuyan berjalan memasuki gunung itu.
Jalan yang terjal dan kabut yang tebal membuatnya kesulitan untuk melihat.
"Uhuk...uhuk.... Di mana ini? Kenapa banyak sekali kabut di sini? Bukannya tadi tidak ada?"
Di dalam kebingungannya, Qi Zuyan merasa merinding. Entah kenapa, instingnya merasakan ada sesuatu yang mengikutinya dari sebalik kabut.
Karena tidak tahan dengan suasana yang ada di sana, ia mulai mempercepat langkahnya. Dengan tujuan yang tidak jelas dan pengelihatan yang minim, Qi Zuyan tanpa sadar berhasil keluar dari tempat itu.
Namun, saat ia baru bisa melihat dengan benar, dia menjatuhkan kayu bakar yang berada di tangannya. Dengan pandangan yang menodong ke atas, pupil matanya mengecil. Keringat dingin bercucuran keluar membasahi wajahnya.
"Hei manusia, ada apa kau memasuki wilayahku ini?"
Di depannya, ada seekor naga berwarna merah yang melihatnya dengan begitu angkuh.
"Ma-Maafkan saya, saya tersesat dan tidak sengaja sampai di sini."
Walaupun dia terlihat takut, jauh dari lubuk hatinya Qi Zuyan merasa senang karena ia dapat bertemu dengan monster kuno yang sangat ia kagumi.
"Hmm...."
Naga itu menatap dengan tajam ke arah Qi Zuyan, merasa tidak percaya dengan ucapannya. Ia beberapa kali mengelilingi Qi Zuyan dengan tubuhnya yang besar. Pada saat ia kembali ke tempat semula, naga itu menurunkan kepalanya sejajar dengan tanah.
"Manusia, karena kau sudah berani menginjakkan kaki ke tempat ini, maka kau harus mengikuti aturannya."
Wajah yang dipenuhi dengan keringat, serta lidah yang kaku membuat Qi Zuyan kesulitan untuk berbicara. Di depannya sebuah mata yang begitu besar menatap dengan sombong sehingga membuatnya membeku.
"A-Apa A-Aturannya?"
Dengan segenap tenaga, Qi Zuyan mencoba membalas ucapan naga itu.
Naga tersebut kembali menaikkan kepalanya, leher yang panjang membuat Qi Zuyan kembali mendongkrak kan kepalanya ke atas.
"Kau harus mengikuti tes dariku."
__ADS_1