
"Astaga, tidak kusangka akan seperti ini," ucap Liu Huan saat tiba di sebuah tempat.
"Apakah kalian yakin dengan tempat ini?" tanya Liu Huan.
"Benar, tuan. Ini tempatnya," jawab salah satu orang yang mendampinginya.
"Bukankah ini norak sekali!" celetuk Liu Huan. Setelah berhasil mengalahkan mereka berdua, Liu Huan dibawa ke tempat Yan Fei berada. Menurut informasi yang diberikan, kediaman Yan Fei terbilang cukup besar. Namun, siapa sangka ukurannya jauh lebih besar dari yang dipikirkan oleh Liu Huan.
"Bagaimana cara kita masuk?" tanya Liu Huan. "Tenang saja, biasanya saat sudah tengah malam seperti ini, tidak ada yang menjaga pintu masuk," jawab orang yang mendampinginya.
"Begitu ya?" balas Liu Huan.
Liu Huan pun pergi memasuki kediaman Yan Fei secara diam-diam bersama dengan kedua orang yang pernah ia lawan sebelumnya. Saat memasuki kediaman Yan Fei, Liu Huan disambut dengan patung-patung yang terlihat seperti manusia dengan berbagai gaya.
"Apa dia Yan Fei?" tanya Liu Huan sambil menunjuk salah satu patung.
"Benar, tuan," jawab orang yang mendampinginya. "Astaga, kenapa dia begitu berlebihan!" ucap Liu Huan.
Karena tidak ingin berlama-lama di sana, Liu Huan langsung bergegas menuju kamar Yan Fei mengikuti petunjuk dari kedua orang tersebut. Di sepanjang lorong, banyak sekali benda-benda aneh dan patung-patung yang menghiasi kediaman Yan Fei. Mungkin bisa dikatakan bahwa Yan Fei adalah seorang maniak keindahan dan sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Ketika sampai di depan pintu kamar Yan Fei, kedua orang tersebut berkata, "Ini dia, tuan. Kamar orang yang Anda cari."
"Bagus, semoga kalian tidak membohongi saya," balas Liu Huan dengan suara mengintimidasi. "Tidak akan, tuan," jawab keduanya hampir bersamaan.
Ketika Liu Huan membuka pintu kamar Yan Fei, ia melihat seorang pria sedang tertidur di atas kasurnya. Di dalam kamar, terasa masih sama seperti bagian luar ruangan, begitu nyentrik dan banyak sekali benda-benda aneh.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, tuan," ucap kedua orang tersebut sebelum pergi meninggalkan Liu Huan sendirian di dalam kamar Yan Fei.
"Sialan, berani sekali mereka meninggalkanku sendirian di sini," gerutu Liu Huan.
Saat Liu Huan mendekati Yan Fei, tiba-tiba pintu kamar tertutup. "Sial, apa yang terjadi?" ucap Liu Huan memalingkan pandangan.
Saat itu, Yan Fei yang sedang tertidur membuka matanya. Sambil membuka mata, Yan Fei tertawa dengan kencang karena kebodohan orang yang telah ia targetkan. Namun, ketika ia melihat orang itu adalah Liu Huan ia terdiam.
"Sialan, apakah mereka salah menangkap orang?" ujar Yan Fei dengan geram.
"Siapa kau?!" tanyanya dengan penasaran.
"Liu Huan. Kau Yan Fei, bukan?" balas Liu Huan sambil menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Sialan, karena kau sudah berada disini jangan salah kan saya karena kau akan mati hari ini" ujarnya dengan sombong berjalan mendekati Liu Huan.
"Kalau begitu, ini akan menjadi lebih mudah," kata Liu Huan.
Krak!
Seketika itu juga, Liu Huan mematahkan salah satu tangan Yan Fei.
"Sialannnnn!" teriak Yan Fei kesakitan. "Penjaga, keluar kalian semua!"
Dengan cepat, suasana yang tadinya begitu hening berubah menjadi gaduh. Dari segala arah terdengar langkah kaki puluhan orang yang bergegas menuju tempat mereka berada.
"Liu Huan, berani sekali kau melakukan ini padaku, sialan!" geram Yan Fei.
"Memangnya kenapa? Apakah kau layak untuk menyombongkan diri di hadapan ku" balas Liu Huan dengan angkuh.
"Serang semuanya!" perintah Yan Fei.
Liu Huan menghadapi puluhan penjaga Yan Fei dengan tenang. Ia menarik pedangnya dan mempersiapkan diri untuk melawan.
Bunyi pedang yang bertumbukan dengan pedang lain terdengar seiring gerakan cepat dan lincah Liu Huan yang mematikan. Setiap gerakannya terlihat begitu indah dan elegan, seakan ia menari dalam irama musik yang hanya ia sendiri yang bisa merasakannya.
Penjaga Yan Fei terus menyerang, namun tidak satupun dari mereka yang bisa mengenai Liu Huan. Dengan gerakan yang begitu cepat dan terampil, Liu Huan berhasil memukul, memotong, dan mengalahkan satu per satu dari penjaga Yan Fei.
"Rasakan ini, Teknik berpedang tahap awal : awan hitam"
Sekali lagi, pedang Liu Huan beradu dengan pedang para penjaga. Kali ini, ia menebas pedang Yan Fei dengan kuat, mematahkannya menjadi dua bagian yang terpisah.
"Apakah cuma segini saja kemampuan kalian," ujar Liu Huan dengan dingin sambil menatap seluruh penjaga yang terbaring di lantai.
Melihat hal itu, Yan Fei yang bersembunyi di balik para penjaganya langsung berkeringat dingin. Ia tidak menyangka bahwa orang yang akan ia hadapi sangat kuat dan mungkin berada di ranah yang jauh lebih tinggi darinya. Setelah mengalahkan semua penjaga Yan Fei, Liu Huan menatap tajam ke arahnya, lalu dengan cepat ia melangkah maju dan mengepalkan tangannya dengan kuat.
Dengan satu pukulan, tangan Yan Fei yang satu lagi langsung patah. Yan Fei terdiam sejenak, merasakan rasa sakit yang begitu menusuk. Ia merintih kesakitan sambil memegang lengan yang patah dengan tangan yang satu lagi. Darah mengalir dari luka di lengannya, membasahi lantai. Liu Huan melihat dengan dingin saat Yan Fei merintih kesakitan.
Ia tidak merasa sedikit pun iba pada lawannya yang telah berniat mengancam keselamatan dirinya dan Lin Xiu. Sebaliknya, ia merasa lega bahwa sekarang Yan Fei tidak akan bisa lagi melakukan kejahatan. "Tidak ada ampun bagimu," ujarnya dingin pada Yan Fei yang masih merintih kesakitan. "Kau telah melakukan banyak kejahatan dan kini kau akan membayar untuk semua itu."
Yan Fei merintih lagi, tapi Liu Huan tidak menghiraukannya.
__ADS_1
"Apakah ada kata-kata terakhir"
Dalam kesakitan yang begitu luar biasa Yan Fei membalas ucapan Liu Huan
"Ampuni saya, saya menyesal"
[Tuan rumah, dilihat dari isi rumahnya yang penuh dengan herbal bukankah tuan lebih baik menanyakan soal acara yang akan berlangsung sebelum membunuhnya]
Seketika Liu Huan terhenti, berkat nasihat dari sistem Liu Huan menunda niat membunuh nya.
"Baiklah, akan saya beri ampun kamu. Tapi sebutkan syarat untuk bergabung dengan acara master pil yang akan berlangsung beberapa hari lagi"
Mendengar ucapan dari Liu Huan, Yan Fei langsung menjelaskan syarat utama untuk mengikuti acara itu.
"Jika anda ingin bergabung anda hanya perlu salah satu dari dua syarat. Yang pertama adalah lencana master pil yang di sahkan oleh serikat dan yang satu lagi adalah utusan dari suatu sekte"
"Hmm begitukah, jadi apakah kau punya salah satu dari dua syarat itu"
"Saya punya"
Yan Fei berdiri dari tempatnya berlari menuju ke lemari mengambil sebuah lencana dan kembali ke Liu Huan.
"Ini dia tuan, ini adalah lencana yang saya dapatkan dari serikat" ucap Yan Fei menyodorkan lencana nya
Liu Huan mengambil lencana tersebut dan memberikan ampun kepadanya. Pada saat itu, Yan Fei sempat merasa lega. Tetapi, ketika ia berbalik seketika pedang Liu Huan menembus tubuhnya.
"Tuan, apa yang anda lakukan ini" ujarnya menahan sakit
"Jangan salah kan saya, salahkan lah dirimu yang sudah salah mencari lawan"
Liu Huan menarik pedangnya, Darah dari tubuh Yan Fei mengalir deras dan membuat tubuhnya lemas dan perlahan-lahan menjadi dingin.
Setelah membunuh Yan Fei, Liu Huan meninggalkan rumah tersebut dengan langkah tenang dan mantap. Dia melangkah keluar dari rumah itu tanpa ragu-ragu, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sinar rembulan yang redup menerpa wajahnya, tetapi tidak ada perasaan bersalah yang terpancar dari tatapannya yang dingin.
[Selamat kepada tuan rumah, membuka misi utama. Kesulitan tingkat SS : Lindungi Kota dari marabahaya. Hadiah : Unknown, Gagal : Anda akan mati]
"Astaga, misi apalagi ini" gumam Liu Huan yang telah berada di luar kediaman Yan Fei
__ADS_1