
Aku Bukan Master Sungguhan
CH 14 : Masa Lalu Keluarga Lin
Setelah cukup lama di kolam surgawi, Liu Huan dan Lin Yujie kembali ke kediaman keluarga Lin. Saat mereka sampai disana, ternyata hari sudah malam, tapi entah kenapa, setelah kejadian itu, Liu Huan merasa selalu di perhatikan oleh Lin Yujie.
"Kenapa dia mengikuti ku?" gumam Liu Huan, merasa seperti selalu diikuti oleh bayangan Lin Yujie.
[Seperti yang tuan rumah ketahui, rasa suka Lin Yujie telah meningkat pesat] balas sistem
"Hadeh, dasar maniak kekuatan. Sudah punya anak dan suami tapi masih juga mengincar menantu nya," ucap Liu Huan dengan ekspresi datar, mencoba menyembunyikan perasaannya.
Saat Liu Huan memasuki kamar, dia melihat Shiori yang tertidur di meja belajar. Di atas meja terdapat beberapa surat dan sebuah strategi formasi untuk peperangan yang akan berlangsung. "Dasar, kenapa kau memaksakan dirimu sejauh ini," ujar Liu Huan mengangkat Shiori menuju kasur.
"Istirahat yang cukup, sisanya serahkan saja kepadaku," ucap Liu Huan, mengelus rambut Shiori dengan lembut.
"Adik ipar!" sahut Lin Yang, memasuki kamar Liu Huan dengan tergesa-gesa.
"Shuttt!, kecilkan suara mu," perintah Liu Huan dengan nada tegas.
"Oh, adik kecil ku ternyata sudah kelelahan," balas Lin Yang, melihat Shiori yang tertidur.
"Mari kita berbicara di luar, kak," ucap Liu Huan mengajak Lin Yang keluar dari kamar.
Mereka berjalan ke tempat duduk yang mereka tempati tadi siang. Di sana, mereka duduk bersama, dan udara malam yang sejuk membuat mereka merasa tenang.
"Ada apa, kak?" tanya Liu Huan.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas entah kenapa perasaanku tidak enak terkait pertempuran besok," ujar Lin Yang dengan nada cemas, seperti burung yang merindukan sang pemiliknya.
__ADS_1
"Hmm...sepertinya bakalan menjadi sebuah masalah," gumam Liu Huan dalam hati, mencoba merenungkan situasi.
Pada saat itu, sang rembulan terlihat dengan jelas, di atas langit malam yang begitu terang terdapat bintang-bintang yang bersinar terang benderang.
"Adik, kau tahu sesuatu," kata Lin Yang, menatap ke arah sang rembulan dengan tatapan serius.
"Aku tidak mengerti maksudmu, kak," balas Liu Huan, merasa bingung dengan ucapan Lin Yang.
"Shiori, dulu dia adalah seorang adik kecil yang imut. Sifatnya tidaklah seperti ini, hingga kejadian itu tiba," ujar Lin Yang dengan wajah yang berubah menjadi serius seketika, seperti air yang tenang yang akhirnya mengalir deras.
“Sistem, apakah kau tahu sesuatu tentang ini?” gumam Liu Huan dalam hati, kebingungannya semakin bertambah.
[Maaf, saya tidak dapat menganalisa masa lalu seseorang. Saya tercipta setelah tuan rumah bereinkarnasi ke dunia ini,] jawab sistem
“Begitu kah,” ujar Liu Huan dalam hati.
"Pada saat itu, keluarga kami masih utuh dan lengkap seperti satu kesatuan. Ada kakek, nenek, dan semuanya berjalan dengan lancar seperti air mengalir di aliran sungai. Suatu hari, saat kami sedang mengadakan rapat keluarga, ternyata ada penghianat yang merusak persatuan dan keharmonisan kami. Orang itu sangat dekat dengan Shiori, saudara perempuan saya. Karena penghianat tersebut, kakek dan nenek kami yang berada di ranah master realm harus meninggal dunia," cerita Lin dengan nada sedih.
"Iya, aku masih mendengar, Kak," jawab Liu Huan setengah sadar.
“Syukurlah,” ucap Lin Yang dengan rasa lega. “Bagi keluarga Lin kematian mereka berdua merupakan hal yang sangat fatal. Kehilangan dua orang yang sudah berada di ranah master realm merupakan sebuah ancaman besar bagi klan. Ketika itu banyak sekali klan-klan lain yang ingin menghancurkan keluarga lin. Tapi saat itu untung saja ada ibu kami, Lin Yujie yang dapat menerobos ranah master realm pada detik-detik terakhir untuk menyelamatkan klan dari semua ancaman yang ada”
Mendengar cerita tragis dari Lin Yang, Liu Huan semakin bingung dan bertanya-tanya tentang alasan orang yang mereka kenal dan sayangi melakukan pengkhianatan. Kepada klan mana pengkhianat tersebut berpihak. "Kak, bolehkah aku tahu, mengapa kakek dan nenek meninggal? Mereka sudah berada di ranah master realm, kan? Bukankah sulit untuk mereka meninggal dunia," tanya Liu Huan dengan ragu.
" Jika mereka menghadapi ancaman dari manusia atau bahkan dari alam master realm yang sama, mereka akan dapat mengatasi dan melawan. Namun, siapa sangka mereka meninggal akibat racun yang dibuat oleh seseorang yang berada di ranah alam dewa," jelas Lin yang mengerutkan keningnya.
“Alam dewa?, sistem apa kau tahu sesuatu?” pikir liu huan setelah mendengar ucapan dari Lin Yang.
[Alam dewa merupakan alam tingkat lanjutan bagi manusia. Alam manusia terdiri dari 7 tingkat yaitu manusia biasa, inti dasar, pemurnian jiwa, inti kecil, inti besar, transformasi surgawi dan master realm. Jika manusia telah mencapai ranah master realm mereka berkemungkinan untuk menembus ke alam dewa. Namun karena tekanan yang begitu kuat, sangat sulit bagi manusia untuk menembus alam itu.] jelas sistem.
__ADS_1
“Lalu apa saja tingkatan dari alam itu?” ujar liu huan sambil mencerna informasi yang diberikan.
[Alam dewa terdiri dari 5 tingkat yang dimulai dari goodly beginning stage, goodly middle stage, godly peak stage, godly ultimate stage dan yang terakhir adalah master heaven.] jawab sistem.
“Lalu apa bedanya dengan alam manusia seperti kita, secara kan mereka hanya memiliki 5 tingkatan ranah kultivasi,” kata liu huan heran, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
[Tuan rumah, anda jangan salah sangka. Walaupun seseorang berada di tingkat godly beginning stage tahap awal, ia dapat menghancurkan satu negara dengan seketika. Oleh karena itu, jika sedang berhadapan dengan orang yang berada di ranah itu, sebaiknya langsung bergegas kabur saja. Siapa tahu, mereka memiliki kekuatan luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya.] terang sistem memberikan penjelasan dengan bijak.
“Trus aku harus lari kalau ketemu dia?” ucap liu huan merasa cemas.
[Kenapa harus lari?] tanya sistem dengan penasaran.
“Lah katanya suruh lari,” ucap liu huan, seketika emosi.
“Hei, hei adik ipar, Apakah kau baik-baik saja?” kata Lin Yang kepada Liu Huan yang sedang terdiam.
“Eh, sejak kapan kamu berada di depanku, kak?” tanya Liu Huan tersadar dari lamunan-nya.
Saat Lin Yang memalingkan pandangannya ke Liu Huan, ia melihat Liu Huan sedang merenung dengan dalam. Meski Lin Yang telah memanggilnya beberapa kali, Liu Huan tetap tidak menyahut. Maka dari itu, Lin Yang memutuskan untuk berdiri dan mengguncang-guncang Liu Huan dari depan.
“Sepertinya kau sudah terlalu lelah, lebih baik kita beristirahat,” ujar Lin Yang ketika Liu Huan akhirnya terjaga dari lamunannya.
“Hehe... kamu benar, kak,” balas Liu Huan sembari berdiri dari kursinya.
Akhirnya, malam itu mereka berpisah dan kembali ke kamar masing-masing. Sepanjang perjalanan, Liu Huan terus memikirkan kata-kata kakak iparnya dan informasi yang diberikan oleh sistem, seperti air yang mengalir deras di sungai yang terus mengalir tanpa henti.
Liu Huan memasuki kamarnya dengan langkah lelah setelah berjalan dari tempat duduk bersama kakak iparnya. Dia duduk di tepi ranjangnya dan memandang keluar dari jendela besar yang menghadap ke langit malam yang cerah. Bulan purnama bersinar terang dan bintang-bintang berkelap-kelip di langit.
Namun, pikirannya tidak tertuju pada keindahan alam di luar sana. Sebaliknya, ia merenung tentang kata-kata yang baru saja diucapkan oleh kakak iparnya dan informasi yang diberikan oleh sistem. Wajahnya penuh dengan keraguan, ia merasa kebingungan dan terombang-ambing di lautan pikirannya yang dalam. Seiring dengan jendela terbuka, angin malam yang sejuk memasuki kamarnya, membawa dengan nya aroma bunga-bunga di taman yang terletak di bawah jendela. Namun, Liu Huan masih terus merenung dan memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
“Sial, aku baru ingat dengan larangan sistem” Ucap Liu Huan seketika terbangun dari renungan nya