
Setelah mendaftar untuk acara Master Pil, Liu Huan dan Ling Xiu kembali menjalankan aktivitas mereka seperti biasa, mulai dari bangun, sarapan pagi, jalan-jalan santai di kota, dan sebagainya, hingga hari pembukaan acara dimulai.
Ketika mereka sedang duduk menikmati teh di sebuah taman kecil, Liu Huan melihat seseorang yang menggunakan jubah yang menutup seluruh tubuhnya sedang berlari tergesa-gesa. Di belakang orang itu terlihat ada beberapa orang yang mengejarnya.
"Ling Xiu, tunggu di sini sebentar," ujar Liu Huan.
"Mau kemana kau, Liu Huan?" tanya Ling Xiu.
"Ada hal yang harus aku lakukan."
"Baiklah, hati-hati," sahut Ling Xiu.
Liu Huan beranjak dari tempat duduknya dan bergerak cepat ke arah orang itu. Karena ketinggalan, Liu Huan menggunakan kemampuannya dan menemukan orang tersebut sedang bersandar di dinding bangunan di dalam sebuah gang.
Ketika Liu Huan sampai di sana, ia melihat orang tersebut melepas jubahnya. Rambut hitam panjang terurai dan terlihat sangat halus. Matanya lentik, bibirnya tipis, dan wajahnya manis.
"Akhirnya aku bisa kabur dari mereka. Dasar sialan, jika aku menggunakan kekuatan mungkin kota ini akan hancur"
Sang perempuan merasa lega karena akhirnya berhasil kabur dari orang-orang yang mengejar nya. Ketika ingin membuka sesuatu yang dibawanya, ia merasakan ada seseorang yang mengawasinya dari atas.
"Siapa itu?" tanyanya curiga.
Karena merasa sudah ketahuan, Liu Huan melompat dari atas bangunan dan melambaikan tangan dengan senyum tipis kepada nya.
"Halo, apakah aku..."
Seketika sang perempuan mengeluarkan belatinya dan mengancam Liu Huan.
"Tenang dulu cantik, aku tidak ada niat buruk," ujar Liu Huan sambil mengangkat tangannya.
Merasa ucapan Liu Huan itu benar, sang perempuan menarik kembali belatinya dan berjalan mundur untuk mengambil barang yang jatuh.
Liu Huan penasaran dan bertanya, "Apa itu?"
"Ini tidak ada hubungannya denganmu," jawab sang perempuan dingin.
Liu Huan memperkenalkan dirinya dan bertanya tentang nama sang perempuan, namun ia hanya diabaikan. Sang perempuan berjalan menjauh darinya, tetapi Liu Huan tidak menyerah dan terus mengikuti perempuan itu sambil terus menanyakan namanya.
"Hei, ayolah beritahu aku nama mu," pinta Liu Huan.
Namun sang perempuan tetap diam dan tidak memberi tahu. Ketika sedang berbelanja, Liu Huan kembali bertanya, "Ayolah, manis, beritahu aku nama mu."
__ADS_1
"Tidak!" balas sang perempuan dengan nada kesal.
Beberapa kali Liu Huan terus mengulangi pertanyaan yang sama, hingga kesabaran sang perempuan habis. Ia menarik Liu Huan ke gang kosong dan membantingnya ke dinding.
"Sudah cukup, saya sudah muak dengan ini. Namaku Li Wei, dari sekte Maha Raja. Apakah kau puas sekarang?" ucap sang perempuan dengan tegas.
"Sekte Maha Raja? Apa itu?" Entah karena kebodohannya atau karena tidak tahu, Liu Huan membuat Li Wei semakin marah.
"Astaga, apakah kau tidak tahu tentang sekte Maha Raja. Dengarkan, sekte Maha Raja adalah salah satu sekte yang paling berpengaruh di benua ini."
"Ooh begitu, kurang lebih sama seperti sekte Langit Biru dan Keluarga Lin."
"Jangan samakan kami dengan mereka berdua. Kami lebih hebat daripada mereka."
Setelah cukup lama menjelaskan kepada Liu Huan, Li Wei melepaskan Liu Huan dan pergi menjauh darinya. Sebelum ia pergi, Li Wei memberikan peringatan kepada Liu Huan.
"Jangan pernah kau mengikuti saya lagi!"
Li Wei yang pergi membuat Liu Huan menjadi sedikit tertarik. Ia merapikan pakaiannya dan berjalan keluar dari gang.
"Li Wei, nama yang bagus. Aku harap kita bisa bertemu lagi."
Liu Huan kembali ke tempat Ling Xiu berada. Ketika sampai di sana, ia langsung disambut oleh Ling Xiu yang tengah menyantap cemilan ringan.
"Iya, iya." Liu Huan menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah Ling Xiu.
"Kelihatannya kau cukup senang. Apakah terjadi sesuatu tadi?"
"Hmm... bisa dibilang aku menemukan sebuah mutiara yang masih kasar."
Karena merasa penasaran, Ling Xiu menghentikan makannya dan bergeser mendekati Liu Huan.
"Beri tahu aku."
"Baiklah, sepertinya aku telah menemukan calon kakak iparmu."
Seketika wajah Ling Xiu berubah menjadi serius. Ia mengepalkan kedua tangannya dan meletakkannya di bawah dagu.
"Mari kita dengar penjelasanmu terkait hal ini."
"Namanya Li Wei, katanya berasal dari sekte Maha Raja. Ling Xiu, apakah kamu tahu sesuatu tentang sekte itu?"
__ADS_1
Ling Xiu terkejut ketika mendengar nama sekte Maha Raja dan bulu kuduknya tiba-tiba merinding. "Liu Huan, sebagai satu-satunya sahabatmu, aku sarankan agar kamu melupakannya."
"Mengapa begitu? Bukankah dia wanita yang luar biasa?"
"Sekte Maha Raja adalah sekte yang sangat berkuasa di daratan ini. Siapa pun pasti mengetahuinya. Jika Li Wei berasal dari sana, kemungkinan besar kamu akan sulit mendapatkan izin untuk mendekatinya."
"Benarkah?"
"Ayolah, suatu saat kamu pasti akan mengetahuinya."
Setelah basa-basi dan topik pembicaraan yang berat, Ling Xiu kembali menyantap camilannya. Liu Huan yang berada di sampingnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Sistem, apakah kamu tahu sesuatu tentangnya?"
[Tentu saja, tuan. Li Wei adalah salah satu petinggi dari sekte Maha Raja. Dikabarkan dia sedang berusaha untuk menembus ranah Master Realm tahap akhir.]
"Begitukah. Lalu, apakah ada cara untuk mendapatkan hatinya?"
[Perasaan tidak datang begitu saja. Kamu perlu usaha untuk bisa menaklukkannya. Tapi, bukankah kamu sudah memiliki istri?]
"Hehe, siapa tahu kan Shiori mengizinkannya."
Setelah kejadian itu, Liu Huan kembali ke aktivitas biasanya.
Pergantian hari terjadi ketika matahari terbenam dan gelap mulai menyelimuti langit. Suasana di kota semakin sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki orang-orang yang pulang dari kegiatan sehari-hari. Namun, di tempat yang berbeda, persiapan untuk acara besar terus berlangsung. Kru teknis memasang peralatan, memeriksa kondisi tempat dan mengatur alat-alat yang akan di gunakan. Para pengisi acara terus latihan untuk memastikan penampilan mereka sempurna.
Setelah beberapa hari persiapan, acara Master Pil akhirnya dimulai. Suasana semakin meriah dengan kehadiran pengunjung dari berbagai daerah yang memadati tempat acara. Ketika Liu Huan memasuki area tersebut, entah kebetulan atau sebuah keberuntungan, Liu Huan kembali bertemu dengan Li Wei.
"Kamu lagi!" ucap Li Wei.
"Tenang dulu, aku tidak ada niatan untuk mengikuti mu," jawab Liu Huan.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Li Wei.
"Tentu saja menjadi peserta acara ini."
"Begitukah."
Li Wei berjalan cepat melewati Liu Huan.
"Astaga, sepertinya ini akan menjadi menarik," pikir Liu Huan sambil pergi ke posisi yang telah diatur oleh para panitia lomba. Di setiap meja terdapat nama dari setiap peserta lomba. Ketika ia sampai di mejanya, sekali lagi Liu Huan bertemu dengan Li Wei.
__ADS_1
"Hallo, kita bertemu lagi manis."
"Astaga, kenapa selalu kau sih!"