
Di tengah ketakutan yang melanda, Liu Huan terlihat kebingungan. Ia mendekati Li Wei dan bertanya, "Li Wei, monster apa yang mereka maksud?"
Entah apakah Liu Huan bodoh atau memang tidak tahu, Li Wei merasa cukup heran dengan dirinya. "Apakah kamu tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dari tadi?" tanya Li Wei.
"Begitulah, sejujurnya dulu aku selalu mengurung diri di rumah," jawab Liu Huan.
"Aku mengerti," kata Li Wei dengan sabar. Setelah cukup panjang menjelaskan akhirnya Liu Huan paham. Monster yang sedang menuju ke kota ini bernama Hydra.
Hydra adalah monster kuno yang telah hidup di dunia ini. Ia memiliki tubuh besar dengan dua kepala berbentuk naga. Kepalanya sangat besar dan menyeramkan, dengan gigi dan lidah yang tajam. Tubuhnya diliputi oleh sisik keras yang hampir tak dapat ditembus senjata.
Yang membuat Hydra sangat menakutkan adalah kemampuannya untuk tumbuh kembali saat salah satu kepalanya dipotong. Bahkan jika kedua kepalanya dipotong, kepala baru akan tumbuh untuk menggantikannya. Selain itu, Hydra juga memiliki napas beracun dan bisa mengeluarkan api dari mulutnya.
Dalam riwayat yang lama, Hydra masih belum bisa dikalahkan oleh para manusia. Walaupun ia sudah mencapai ranah Master Realm, sangat sulit untuk mengalahkan nya. Pada ribuan tahun yang lalu, berkat bantuan dari seseorang yang berada di ranah para dewa hydra dapat di segel di sebuah gunung yang menjulang tinggi.
"Begitukah, sepertinya ini akan menjadi misi yang sulit lagi" gumam Liu Huan
Karena kondisi yang mendesak, Qi Zuyan mengembalikan pil yang dibuat oleh Liu Huan. "Apakah Anda tidak ingin mencobanya?" tanya Liu Huan heran.
"Tidak perlu, karena efek dari pil buatan Li Wei, saya sudah berada di akhir ranah master realm. Jika saya memakan pil yang belum jelas itu, takutnya akan mengganggu performa saya ketika berhadapan dengan monster itu," jawab Qi Zuyan. Dengan para prajurit dan rombongan nya, Qi Zuyan pergi menuju ke luar kota. Para penonton yang berada di altar berhamburan keluar menuju ke rumah mereka masing-masing. Shiori yang berada di sana langsung bergerak menuju ke arah Liu Huan.
"Liu Huan akhirnya kau tertangkap," ucap Shiori sambil menahan tangan Liu Huan.
"Shiori, apa kabar? Sudah berapa lama ya kira-kira?" tanya Liu Huan.
"Lebih baik kamu memberikan alasan yang bagus sebelum aku menghukummu," tegas Shiori.
Melihat pertengkaran sepasang kekasih, Li Wei menyela. "Permisi, bukankah lebih baik kita membantu tetua untuk mengalahkan monster itu?" ucap Li Wei.
Li Wei kemudian melihat Shiori dari bawah hingga ke atas. "Dari aura mu yang luar biasa, saya dapat memberikan asumsi bahwa Anda sudah berada di ranah inti besar."
__ADS_1
Berkat ucapan dari Li Wei, Liu Huan dapat terbebas dari hukuman Shiori. Shiori yang pada saat itu memegangi Liu Huan menatap Li Wei dengan tajam. "Walaupun Anda berada di ranah master realm, saya harap Anda tidak macam-macam dengan suami saya."
Li Wei menjadi salah tingkah. Ia tidak mengira bahwa Liu Huan sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik. "Maafkan saya, saya hanya datang ke sini untuk mengikuti acara master pil dan tidak sengaja bertemu dengan orang mesum ini," bela Li Wei.
"Orang mesum?!" tegas Shiori yang menatap tajam pada Liu Huan sambil menambah cengkraman tangannya.
"Aduh sakit, ampuni aku Shiori. Akan aku jelaskan semua saat masalah ini selesai," pinta Liu Huan.
Menyingkirkan keinginan untuk bertanya dan meminta penjelasan kepada Liu Huan, Shiori lebih memilih untuk membantu para kultivator dan tetua untuk mengalahkan Hydra yang sedang mengamuk. Ia menarik baju Liu Huan dan bergegas pergi menuju tempat kejadian.
Sembari berlari melewati atap rumah, Liu Huan yang ditarik oleh Shiori sempat berbicara dengan Shiori dan Li Wei. "Jika lawannya adalah monster kuno, apakah ada kemungkinan kita bisa menang?"
"Aku tidak bisa memastikannya," ucap Shiori.
"Ketika kejadian yang lalu saja kita dibantu oleh seseorang yang berada di ranah dewa, apalagi sekarang. Aku tidak bisa membayangkan seberapa kuatnya Hydra setelah ribuan tahun tersegel," ujar Li Wei.
"Benar juga, menurut informasi yang ada di dalam buku sekte, hydra tidak akan bisa lepas jika tidak ada yang merusak segelnya," sahut Shiori.
"Tapi walaupun ada orang yang berniat untuk membebaskan hydra, dia memerlukan ranah kultivasi yang sangat tinggi. Kemungkinan orang yang bisa melakukannya berada di ranah para dewa," ucap Li Wei.
"Lagi-lagi ranah para dewa. Apakah ranah para dewa selalu menjadi hal yang istimewa?" tanya Liu Huan.
sambil mereka berjalan, Li Wei mencoba memberikan pemahaman kepada Liu Huan, "Menurut para tetua, ranah para dewa memiliki perbedaan kekuatan yang sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan dengan ranah master realm tahap akhir. Setiap manusia yang melakukan kultivasi selalu berharap agar bisa mencapai ranah tersebut. Dengan kesulitan yang luar biasa, sampai sekarang masih belum jelas siapa saja yang sudah berada di ranah tersebut"
"Hmm, begitukah?" tanya Liu Huan.
Ketika mereka sedang terburu-buru, Liu Huan melihat Ling Xiu duduk di sebuah warung dan menyantap cemilan. "Shiori, tunggu sebentar. Berhenti," ucap Liu Huan.
Shiori menghentikan langkahnya dan bertanya dengan napas tersengal-sengal, "Ada apa?"
__ADS_1
""Tunggu sebentar, ada seseorang yang aku kenal di sana," jawab Liu Huan sambil menunjuk ke arah Ling Xiu.
Shiori melepaskan baju Liu Huan dan menyuruhnya untuk menyusulnya setelah urusannya selesai.
Melihat mereka berdua yang berlari menjauh, Liu Huan bergegas menuju ke arah Ling Xiu.
"Bagaimana dengan Liu Huan ya? Karena lapar aku jadi tidak bisa menonton pertandingannya sampai selesai," ucap Ling Xiu sambil menyantap cemilannya. Terus terang, Ling Xiu terus terbayang dengan keadaan Liu Huan. Apalagi ia melihat semua orang yang berlari terburu-buru seolah-olah melihat sesuatu yang mengerikan.
"Ling Xiu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Liu Huan yang tiba-tiba muncul dari atap rumah.
"Liu Huan, bagaimana hasil pertandingannya? Apakah kamu berhasil memenangkannya?"
"Sekarang itu tidak penting, Ling Xiu. Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari kota ini," ucap Liu Huan, terlihat cemas.
Melihat kegelisahan Liu Huan, Ling Xiu langsung memahaminya. Ia tidak ingin membuat temannya cemas.
"Tenang saja, aku akan tetap disini sambil menikmati cemilanku yang enak," jawab Ling Xiu, mencoba menenangkan Liu Huan.
Mendengar itu, Liu Huan tersenyum. Ling Xiu memang seorang teman yang selalu memiliki keinginan untuk makan apapun yang ada di depannya.
Saat Liu Huan hendak pergi, Ling Xiu menghentikannya. "Setidaknya bawa dua cemilan ini, kamu belum makan sejak tadi siang kan?" ujarnya sambil memberikan dua buah cemilan berbentuk tahu kepada Liu Huan.
Liu Huan tersenyum dan mengambil cemilan yang diberikan oleh Ling Xiu, lalu pergi dengan cepat. "Liu Huan, walaupun aku tidak tahu apa yang terjadi, aku berharap kamu baik-baik saja," ujar Ling Xiu yang kemudian kembali menikmati cemilannya.
Di sepanjang perjalanan, Liu Huan memakan satu per satu cemilan yang diberikan oleh Ling Xiu. "Panas," ucapnya ketika menggigit makanan itu. Namun, karena pemberian dari temannya, Liu Huan tidak terlalu memperdulikan panas yang ia rasakan, ia tetap memakan cemilan tersebut dengan lahap sepanjang jalan hingga sampai di pintu gerbang kota.
Sampai di sana, Liu Huan terdiam membatu. Ekspektasi yang ia harapkan ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan.
"Oi, oi, oi. Ini bukan monster lagi, namanya apa-apaan ukurannya yang besar ini," gumamnya.
__ADS_1