Aku Bukanlah Master Sungguhan

Aku Bukanlah Master Sungguhan
Chapter 19 : di Atas Langit Masih Ada Langit


__ADS_3

Chapter 19 : di Atas Langit Masih Ada Langit


Ketika malam tiba, desa menjadi sangat gelap. Rumah yang ditempati oleh Liu Huan menjadi satu-satunya sumber cahaya di sana. Sementara Ning Er tertidur, Liu Huan sedang melatih teknik berpedangnya di halaman depan.


Seperti seorang master yang sudah mahir dalam teknik berpedang, Liu Huan dengan gesit memainkan pedangnya dengan gerakan yang selaras. Setelah melakukan teknik pedang terakhir, Liu Huan menaruh pedangnya kembali ke sarungnya. Dengan keringat membasahi dirinya, ia menatap ke langit yang gelap.


“Sistem, apakah buku teknik berpedang yang saya dapatkan sebelumnya bisa membuat saya tak terkalahkan?” tanya Liu Huan.


[Tentu saja tidak, jika Anda ingin menjadi tak terkalahkan, maka berlatihlah. Latihan yang rutin dan hadiah dari saya dapat membuat Anda menjadi seperti yang Anda inginkan, Tuan Rumah]


Setelah itu, Liu Huan duduk di bangku kosong di halaman rumahnya dan meminum segelas air yang sudah disediakan. Dengan suasana yang sepi dan tenang, ia memandang sekitar dan berimajinasi jika para bandit itu tidak kesini, apakah ia dapat melihat masa kejayaan desa tersebut.


“Kamu tahu, Sistem, terkadang hidup ini tidak adil. Yang kuat membully yang lemah, sementara yang lemah hanya bisa diam dan tidak berani melawan,” ucap Liu Huan.


[Maaf, saya tidak dapat memahami perasaan manusia. Saya hanyalah sebuah program untuk Anda]


“Ya, memang begitulah dirimu selama ini,” ujar Liu Huan.


Lalu, Liu Huan kembali ke dalam rumah dan mengakhiri malam yang sunyi itu. Pada pagi hari, ia dan Ning Er sudah berada di ruang tamu. Ning Er terlihat sangat bahagia ketika sedang menyantap masakan buatannya, sementara Liu Huan sibuk menyusun rencana untuk membebaskan warga desa dari cengkraman bandit.


“Ling Er, apakah kamu tahu di mana mereka disekap?” tanya Liu Huan.


“Umm… asku tgfidak tathu, keteika mereka dat-,” jawab Ling Er dengan mulut yang masih penuh makanan.


“Eee…. Kunyah dulu makananmu, baru bicara,” tegur Liu Huan.


Ling Er mengunyah makanannya dengan cepat dan kembali berkata, “Aku tidak tahu, ketika mereka datang aku hanya bersembunyi di dalam rumah.”


“Jadi begitu,” kata Liu Huan, merasa sedikit kecewa dengan jawaban Ling Er.


Ketika Ling Er sedang makan, Liu Huan memutuskan untuk keluar dari rumah. Ia berjalan-jalan menyusuri desa sambil mencari informasi yang penting. Rumah demi rumah ia singgahi, namun semuanya terlihat sama, semua rumah terlihat sangat berantakan seperti seseorang yang mencari sesuatu di sana.

__ADS_1


‘Hmm…. Apa yang sebenarnya mereka cari?’ pikir Liu Huan.


Ketika sedang berjalan di alun-alun desa, dari kejauhan ia mendengar suara langkah kaki kuda yang berasal dari luar desa. Liu Huan kemudian mengubah arahnya dan berjalan menuju ke arah suara itu. Ketika sampai di gerbang desa, Liu Huan melihat sekelompok orang berbadan besar dengan tatapan mata yang tajam menuju ke arahnya.


Saat mereka turun dari kuda dan berjalan sombong ke arahnya, salah satu dari mereka yang terlihat seperti pemimpin rombongan berkata, “Jadi kau yang tersisa dari desa ini?”


“Ada apa?” tanya Liu Huan.


“Heh, tidak usah basa-basi. Serahkan semua uang yang kau punya demi keamanan desa ini,” balas orang itu dengan senyum menyeringai.


Melihat hal itu, Liu Huan menghembuskan nafas panjang. Entah kenapa, ia merasa baru pertama kali ada orang yang berani berkata seperti itu kepadanya.


‘Mungkin karena aku jarang keluar, makanya ada orang seperti ini.’


“Hei, kenapa kau diam? Cepat serahkan uangmu, dasar sialan!” Ketua kelompok itu menarik baju Liu Huan dengan tatapan yang mengerikan. Namun, Liu Huan yang berada dalam situasi tersebut tetap terlihat santai dan tidak takut sama sekali dengan mereka.


Dengan tenang, Liu Huan menepis cengkraman tangan orang itu dan merapikan bajunya. “Hei, jangan sentuh baju yang diberikan oleh istriku ini.”


“Sialan! Ternyata kau punya nyali untuk berkata seperti itu kepadaku. Tidak tahukah kau siapa diriku ini, ha!”


"Memangnya siapa kau? Orang penting kagak, master beladiri juga kagak"


Melihat hal itu, ketua dari kelompok tersebut marah dan langsung menyerang Liu Huan dengan cepat.


“Swussh!” Suara pedang yang diayunkan dengan cepat terdengar hingga ke dalam desa yang kosong itu.


“Itulah akibatnya jika kau berani bermain-main dengan ku.”


“Heh, begitu kah?”


“Ha! Sejak kapan kau ada di sana?”

__ADS_1


Ketua kelompok itu terkejut melihat Liu Huan yang tiba-tiba berada di sampingnya. Sekali lagi ia mengayunkan pedangnya dengan cepat, namun Liu Huan masih terlihat santai bahkan sempat-sempatnya untuk mengupil dari arah yang berlawanan.


Di dalam desa, Ling Er yang mendengar suara pedang membuatnya teringat dengan Liu Huan yang sedang keluar dari rumah. Dengan cepat, ia turun dari kursi yang lebih tinggi darinya lalu pergi keluar dari rumah menuju ke asal suara itu.


“Kakak, apakah kamu baik-baik saja?” Ling Er dengan nafas terengah-engah sampai di tempat asal suara dan melihat Liu Huan yang sedang berhadapan dengan sekelompok bandit gunung. Ketika melihat salah satu dari mereka, Ling Er menjadi terpaku.


Orang yang menculik kakaknya dan membunuh orangtuanya tepat berada di hadapannya dan sedang memimpin pasukan bandit itu.


"Kamu, kembalikan kakakku!" ucap Ling Er dengan ekspresi marah.


Ketua kelompok bandit yang sedang berurusan dengan Liu Huan mengalihkan pandangannya kepada Ling Er. Dengan seketika, orang itu tertawa dengan keras.


"Hahaha... ternyata orang bodoh yang dikirim kesini untuk menangkap mu tidak dapat menjalankan misi yang begitu mudah ini."


"Di mana kakakku?!"


"Ha... kakakmu ada di markas kami, sedang menjadi budak yang cukup berguna. Lagian, dengan badan kecil seperti itu, apakah kau kira bisa mengalahkan kami semua?"


"Haha!" Para kelompok bandit itu tertawa dengan keras melihat wajah Ling Er yang menjadi pucat. Ketika mereka sedang mengolok-olok Ling Er, Liu Huan yang berada di sana akhirnya mengeluarkan pedang dari sarung yang berada di punggungnya.


Seketika sebuah aura intimidasi yang kuat terpancar darinya. Para kelompok bandit itu terdiam, berkeringat dingin, hingga membuat bulu kuduk mereka berdiri memberikan isyarat untuk kabur dari sana.


"Hei kalian, aku tidak tahu masalah kalian dengan desa ini. Tetapi..." Liu Huan berjalan ke arah Ling Er dan menggendongnya dengan tangan kiri sambil membalikkan pandangannya ke arah para bandit.


"Apakah kalian tidak tahu pepatah di atas langit masih ada langit? Sekarang, mari kita lihat siapa yang lebih pantas untuk berkata seperti itu."


Mendengar ucapan dari Liu Huan, membuat ketua kelompok bandit itu marah. Dengan wajah geram, ia mengarahkan pedangnya ke Liu Huan sambil memberikan perintah kepada kelompoknya.


"Dasar bocah sialan, kalian serang dia!"


Di saat kelompok bandit itu berlari ke arah mereka dengan wajah yang geram, Liu Huan menyuruh Ling Er untuk menutup mata lalu membayangkan sebuah taman bunga yang luas dan mereka yang sedang menari di sana dengan bahagia.

__ADS_1


Dengan wajah yang sedikit serius, Liu Huan mulai mengeluarkan teknik berpedangnya.


"Teknik berpedang tahap awal: Pemotong Awan!"


__ADS_2