
Sudah beberapa hari sejak perjalanan yang melelahkan dari markas bandit ke desa. Setelah menyambut Liu Huan beberapa hari yang lalu, mereka memilih untuk istirahat sejenak sebelum memulai memperbaiki desa.
Ketika Liu Huan membuka mata di pagi hari, ia berjalan menuju jendela di kamarnya. Saat ia membukanya, terlihat keramaian warga desa yang bergotong-royong membangun kembali desa mereka yang telah rusak. Tanpa ragu, Liu Huan keluar dari kamar dan bergegas menuju tempat kerja, para warga.
Setibanya di sana, para warga desa menyambutnya dengan ramah. Karena kekuatannya yang bisa diandalkan, Liu Huan memilih untuk mengumpulkan kayu bersama dengan para warga lainnya. Mereka bekerja sama dalam beberapa kelompok, yaitu kelompok pengumpul, pembuat, kebutuhan dapur, dan arsitektur.
Berkat hadiah yang diberikan oleh sistem kemarin, Liu Huan tidak perlu bersusah payah untuk mengumpulkan kayu. Ia telah diberikan satu set perlengkapan bangunan untuk membantu warga desa. Dengan tenaganya, Liu Huan berjalan ke hutan dan mengangkat semua kayu untuk di bawa ke desa.
Ketika ia sampai di gerbang desa, Liu Huan melihat Ling Er bersama dengan Ling Xiu sedang memperhatikan pekerjaan para warga. Melihat Liu Huan mendekat, Ling Er melambaikan tangannya sambil tersenyum manis di wajahnya.
"Jadi, apakah kamu masih sanggup, Liu Huan?" tanya Ling Xiu.
"Tenang saja, ini masih belum seberapa."
"Jangan terlalu memaksakan diri."
"Siap."
Liu Huan pergi melewati mereka dan meletakkan kayu di tempat pengumpulan yang telah diatur sebelumnya.
"Dengan ini, akhirnya selesai," ujar Liu Huan sambil meletakkan kayu terakhir.
Ia pergi berjalan-jalan sekitar desa sambil mengamati pekerjaan setiap orang. Di bagian pembangunan, Liu Huan melihat Pak Kades yang masih memaksakan dirinya untuk ikut membangun balai desa dengan badan yang sudah tidak muda lagi.
"Pak Kades, apakah perlu saya bantu?" tawar Liu Huan.
"Nak Liu Huan, tidak usah nak. Biar saya saja," balas Pak Kades dengan ramah.
"Sudahlah Pak, Bapak duduk saja biar saya yang meneruskan."
Karena desakan Liu Huan, akhirnya Pak Kades menyerahkan sisa pekerjaannya kepada Liu Huan.
"Baiklah, mari kita mulai," ujar Liu Huan.
__ADS_1
Suara dentuman kayu dan paku berbunyi. Dari sudut desa, semua terlihat sangat sibuk sekali. Ketika matahari berada di atas kepala, suara-suara tersebut seketika lenyap menandakan waktu istirahat tiba. Liu Huan yang sedang membuat atap rumah turun dari tempatnya dan berjalan menuju ke bagian konsumsi.
"Liu Huan, sini!" sorak Ling Xiu di dalam kerumunan.
Melihat itu, Liu Huan berjalan mendekatinya sambil mengambil minuman yang disodorkan kepadanya.
"Jadi sudah sampai mana pekerjaannya?" Tanya Ling Xiu, penasaran.
"Untuk balai desa, tinggal dibuat atap dan sepertinya sudah bisa digunakan," jawab Liu Huan. "Baguslah."
Sambil menyeruput minuman, mereka berdua melihat pemandangan riuh dari penduduk desa yang sedang bekerja dan bercanda tawa.
"Setelah membantu desa ini, kemana kamu akan pergi?" tanya Ling Xiu.
"Hmm... Sejujurnya aku berniat pergi ke negeri matahari terbit," jawab Liu Huan.
"Begitukah, bagaimana jika aku ikut denganmu?" tawar Ling Xiu.
Bruphss!
"Uhuk, uhuk, seriusan?" tanyanya kaget.
"Iya, serius," jawab Ling Xiu mantap.
"Lalu, bagaimana dengan Ling Er?" tanya Liu Huan.
"Kamu tahu, anak itu sangat disayangi oleh penduduk desa, lagian dia sendiri yang menyuruhku untuk pergi bersama kamu," jawab Ling Xiu.
"Hmm... Begitukah. Jika kamu tidak keberatan, silahkan saja," jawab Liu Huan.
Mendengar ucapan Liu Huan, Ling Xiu menjadi semangat.
"Bagus, kalau begitu mohon kerjasamanya, sobat," ujar Ling Xiu sambil menyodorkan kepala tangannya ke arah Liu Huan.
__ADS_1
"Siap," balas Liu Huan sambil membalas kepala tangan Ling Xiu.
Pada saat itu, Liu Huan tidak pernah berpikir akan melihat suasana yang sehangat dan senyaman ini. Di kehidupan sebelumnya, dia tidak pernah peduli dengan keadaan dunia, ia termasuk salah satu orang yang dibully di sekolah dan sangat jarang mendapatkan kasih sayang.
Ketika mereka tengah asyik berbicara, Ling Er datang bersama dengan orang-orang bagian konsumsi yang membawa makanan utama. Makanan itu diletakkan di atas daun pisang yang dijajarkan hingga beberapa meter.
"Ayo, mari kita makan bersama," ucap mereka kepada yang lain.
Sambil berjalan di samping Ling Xiu, Liu Huan kepikiran, "Ternyata usahaku untuk menyelamatkan mereka semua ada hasilnya. Tidak seperti saat itu ketika aku ditinggalkan sendirian terkapar tidak berdaya"
Melihat kakaknya dan Liu Huan mendekat, Ling Er langsung bergegas menyediakan tempat sambil melambaikan tangannya kecil, "Kakak! Sebelah sini."
"Iya, kakak datang," jawab Ling Xiu.
Mereka semua duduk bersama seperti layaknya sebuah keluarga. Dengan makanan yang dibuat untuk bersama, suasana menjadi begitu hangat dan nyaman.
Pada saat itu terlihat kelucuan dan keseruan pada saat waktu makan. Liu Huan yang berada di samping Ling Xiu nampaknya tidak ingin makan sedikit. Mereka berdua berlomba-lomba untuk menghabiskan makanan yang berada di depannya. Terkadang Liu Huan mencuri milik Ling Xiu dan terkadang Ling Xiu juga mencuri milik Liu Huan. Melihat kelakuan mereka berdua membuat semua orang tertawa. Dengan alunan musik yang dibawakan oleh salah satu penduduk, mereka semua menikmati makanannya dengan nikmat.
"Aku sudah tidak sanggup lagi," keluh Liu Huan.
"Sama, terlalu banyak yang sudah ku makan," tambah Ling Xiu sambil memegang perutnya yang kembung.
"Dasar kalian, kenapa tidak makan pelan-pelan sih?" canda Ling Er sambil membawa dua minuman.
"Ini minum dulu, pelan-pelan," ujarnya sambil menyerahkan minuman pada Liu Huan dan Ling Xiu.
Untuk meredakan perut mereka yang kenyang, mereka berdua duduk di kursi yang telah dibuat untuk berlindung dari terik matahari.
Setelah sejenak menikmati waktu santai dengan makanan dan minuman, pandangan Liu Huan dan Ling Xiu beralih ke arah para warga desa yang kembali bekerja membangun desa. Mereka terlihat sibuk dengan tugas-tugasnya masing-masing, ada yang memperbaiki jalan, ada juga yang membersihkan saluran irigasi, dan beberapa warga desa lainnya sedang membangun bangunan baru.
Para warga desa terlihat penuh semangat dan antusiasme, meskipun kebanyakan dari mereka bekerja dengan cara yang tradisional dan menggunakan peralatan yang sederhana. Mereka menggunakan cangkul dan sekop untuk memperbaiki jalan, memperbaiki saluran air, dan membersihkan lingkungan desa. Beberapa dari mereka menggunakan papan kayu untuk menopang dinding rumah baru yang sedang mereka bangun.
Meskipun terlihat lelah karena cuaca yang panas, warga desa tetap bekerja keras dan terus bersemangat. Mereka bergotong-royong dan saling membantu satu sama lain, tanpa memandang status sosial atau perbedaan usia. Beberapa warga desa terlihat tersenyum bahagia, seolah-olah senyum itu mengungkapkan rasa syukur karena desa mereka sedang dibangun kembali dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Setelah beberapa hari bekerja, akhirnya desa yang rusak perlahan-lahan mulai terlihat lebih baik dari sebelumnya. Liu Huan dan Ling Xiu bangkit dari tempat duduk mereka dan kembali bekerja.
Sebagai hadiah perpisahan dari Liu Huan, ia mengeluarkan sebuah cat yang diperolehnya dari sistem karena menyelesaikan misi sebelumnya. "Lihat ini, teknik berpedang tahap awal: Awan Variasi,"