
Aku Bukan Master Sungguhan
CH 15 : Awal Sebelum Badai
“Sial, bagaimana ini?” gumam Liu Huan sambil teringat akan sesuatu. “Sistem, apakah misi kali ini gagal?”
[Tidak, sebelum Anda menyelesaikan misi tersebut, saya tidak dapat menjawab pertanyaan dari tuan rumah.] balas sistem dengan dingin.
“Astaga, bagaimana ini? Tadi siang bukankah aku sudah membongkar identitas asli kepada Lin Yujie?” pikir Liu Huan sambil merasa panik. “Sistem, apakah ini tidak apa-apa?”
[Lebih baik Tuan Rumah tidur sekarang. Besok akan menjadi hari yang sangat melelahkan.] balas sistem dengan suara yang terdengar judes.
“Yasudahlah, lebih baik mari kita tidur saja,” ucap Liu Huan sambil meniup lilin dan kemudian tidur di samping Shiori.
Keesokan harinya, Liu Huan pergi ke kota untuk membeli beberapa bahan untuk membuat sebuah pil. Sebelum ia pergi, Shiori telah memberikan beberapa uang dan berangkat menuju medan perang melawan sekte Langit Biru. “Hati-hati,” ujar Liu Huan sambil melihat Shiori yang pergi bersama pasukannya.
Setelah cukup lama berjalan, Liu Huan akhirnya kembali ke toko herbal yang pernah ia kunjungi sebelumnya. “Hu Tao, apakah kamu ada di sini?” ujar Liu Huan sambil memasuki toko.
“Ah, Liu Huan, selamat datang. Ada yang bisa aku bantu?” ucap Hu Tao yang pada saat itu sedang membersihkan toko.
“Begini, aku memerlukan beberapa bahan untuk membuat sebuah pil. Ini resepnya,” kata Liu Huan sambil memberikan selembar kertas.
“Mari kita lihat, buah zaitu, benih perasa, ginseng yang berusia 5 tahun, dan air suci. Sepertinya kami memiliki semua bahan yang diperlukan,” ucap Hu Tao sambil mengambil bahan-bahan yang tertulis di dalam resep.
“Kalau begitu, tolong ya,” ujar Liu Huan.
Setelah cukup lama, Hu Tao kembali membawa bahan-bahan yang tertera di dalam resep. “Ini semua bahan yang kamu tulis,” ujar Hu Tao sambil memberikan pesanan Liu Huan.
“Terima kasih, Hu Tao. Jadi, total semuanya berapa?” tanya Liu Huan.
“Totalnya adalah tiga koin perak,” kata Hu Tao dengan ramah.
“Kok murah-murah ya?” tanya Liu Huan heran.
“Harga teman sama harga normal, jelas beda dong,” jawab Hu Tao dengan tersenyum.
__ADS_1
Setelah mendengar hal itu, Liu Huan merasa tidak enak hati. Ia mengucapkan terima kasih dan memberikan tiga koin perak kepada Hu Tao. “Kalau begitu, sampai jumpa lagi,” seru Liu Huan sambil meninggalkan toko.
“Hati-hati di jalan,” balas Hu Tao menatap Liu Huan yang pergi.
“Sistem, untuk apa semua ini?” tanya Liu Huan saat berjalan-jalan di kota.
[Pil ini berfungsi untuk membantu meningkatkan kemampuan tuan rumah. Karena misi yang akan dihadapi sebentar lagi adalah peringkat paling tinggi yang pernah tuan rumah dapatkan] jawab sistem
“Hmm… jadi begitu” balas liu huan datar
Liu Huan melangkah perlahan-lahan di kota yang ramai dengan aktivitas. Terdengar hiruk pikuk suara pedagang yang berteriak mempromosikan dagangan mereka, dan aroma harum makanan yang menggoda selera memenuhi udara. Saat itu, mata Liu Huan tertuju pada seorang anak kecil yang sedang berlarian dengan ceria, namun tak sengaja menabraknya dengan keras.
Terdengar bunyi benturan yang cukup keras dan beberapa orang di sekitarnya menoleh, mengamati kejadian yang tak terduga ini. Anak kecil itu terjatuh dan menangis sedih, sementara Liu Huan dengan sigap membantunya bangun. Wajahnya yang awalnya kaku dan dingin berubah menjadi lembut saat melihat anak itu menangis.
"Lihatlah di mana kamu berlari, nak. Kamu baik-baik saja?" tanya Liu Huan dengan lembut, menenangkan anak kecil itu.
Anak itu menggelengkan kepalanya sambil memegang tangannya yang terluka. "Maaf, paman. Saya tidak sengaja menabrakmu."
Liu Huan tersenyum dan meraih tangan anak itu. "Tidak apa-apa. Ayo, saya akan membantumu menemukan ibumu."
Liu Huan melanjutkan perjalanannya dengan hati yang ringan, merasa senang telah membantu orang lain. Saat ia melewati sebuah penjual makanan ringan, Liu Huan melihat ada Xiao Xue yang sedang berdiri sambil melihat ke sekeliling. Karena penasaran Liu Huan berjalan ke arahnya.
[Tuan bukannya lebih baik kau menggunakan topeng] ucap sistem mengingatkan Liu Huan
“Oh iya benar, hampir saja lupa” balas Liu Huan, lalu mengeluarkan topengnya dari dalam inventori.
“Xiao Xue, di mana kakakmu?” tanya Liu Huan sambil mendekati Xiao Xue.
“Ah, kakak bertopeng yang pernah aku temui di lembah” ucap Xiao Xue dengan lembut “kakakku pergi membeli minuman. Kakakku suruh aku menunggu di sini,” lanjut Xiao Xue dengan wajah senang saat melihat Liu Huan yang mengenakan topeng.
“Kenapa kamu tidak memesan makanan?” tanya Liu Huan lagi.
“Semua uang ada di kakakku, jadi aku disuruh menunggu saja di sini,” jawab Xiao Xue dengan sedih.
“Tidak apa-apa, biar aku yang membelikannya untukmu,” kata Liu Huan dengan senang.
__ADS_1
“Serius, Kak? Terima kasih, Kak,” jawab Xiao Xue dengan rasa bahagia yang meluap.
Mereka berdua mendekati penjual makanan dan memesan. “Mas, dua manisannya ya,” ucap Liu Huan dengan sopan.
“Baik, Bang,” jawab penjual yang langsung memulai membuat makanan mereka.
Setelah makanan mereka jadi, Liu Huan memberikan uangnya dan pergi dari sana. Mereka berdua duduk di bangku kosong yang terletak di samping jalan perkotaan.
“Inilah makananmu, Xiao Xue,” ucap Liu Huan sambil menyerahkan makanan kecil itu.
“Wah, terima kasih banyak, Kak,” ujar Xiao Xue dengan senang.
Liu Huan merasa bahagia melihat ekspresi senang Xiao Xue saat memakan makanan itu. Xiao Xue, anak perempuan yang berusia lebih kurang 8 tahun itu duduk manis di atas bangku kosong yang terletak di samping jalan perkotaan bersama Liu Huan. Wajahnya yang imut dan polos tersenyum sumringah saat memegang manisan yang baru saja diberikan oleh Liu Huan, yang terlihat begitu besar di tangan kecilnya.
Bibirnya yang kecil dan merah merekah ketika ia meletakkan satu buah manisan kecil ke dalam mulutnya. Matanya yang besar dan lucu memancarkan kebahagiaan saat ia memandangi manisan tersebut dengan penuh kegembiraan. Rambutnya yang sebahu dan hitam terurai dengan lembut di bahunya, menghiasi wajahnya yang polos dan ceria. Terlihat jelas betapa dia menikmati setiap gigitan manisan tersebut, yang membuat senyumnya semakin lebar dan menghangatkan hati siapapun yang melihatnya.
“Haa…. Malaikat, pasti dia malaikat” gumam Liu Huan bahagia
Ketika mereka menikmati cemilan itu, dari arah depan mereka melihat Sin yang baru datang kebingungan dan panik mencari adiknya yang hilang. Terdengar suara teriakan yang menyatu dengan kebisingan sekitar, "Xiao Xue dimana kamu!" serunya dengan nafas terengah-engah.
Xiao Xue yang sedang menikmati manisannya langsung melambaikan tangan dan menjawab dengan suara lantang, "Kakak, kami di sini." Namun, bibirnya yang masih berlepotan dengan manisan membuat suaranya terdengar lucu dan menggemaskan.
Saat melihat Xiao Xue yang selamat, Sin merasa lega dan segera menghampirinya dengan napas yang masih tersengal-sengal. "Xiao Xue, kenapa kamu pindah dari tempat yang kakak suruh?" tanyanya dengan wajah cemas.
"Maaf kakak, tadi Xiao Xue tidak sengaja bertemu dengan kakak bertopeng ini." jawab Xiao Xue sambil menunjuk ke arah Liu Huan yang masih duduk di sampingnya.
Mendengar itu, Sin langsung memberikan hormat dengan cepat, "Senior." ia mengucapkan kata-kata dengan sopan, memperlihatkan sikap hormatnya. “Maaf karena telah merepotkan mu senior”
“tidak usah di pikirkan, Saya hanya sedang berjalan-jalan untuk membeli beberapa bahan, tidak ada masalah." jawab Liu Huan dengan santai, menenangkan hati Sin.
Saat waktu untuk berpisah tiba, Liu Huan mengucapkan selamat tinggal dan berjalan pergi dari tempat itu. "Kakak, hati-hati ya!" teriak Xiao Xue dengan senyum manisnya.
“Senior terimakasih banyak” ucap Sin melihat liu huan yang pergi dari sana
"Tidak perlu terlalu dipikirkan, saya hanya melakukan yang seharusnya." balas Liu Huan dengan senyum ramahnya dari balik topeng. Ia berjalan pergi meninggalkan mereka berdua dengan rasa damai yang terpancar dari tubuhnya.
__ADS_1
Sementara itu, Shiori yang sedang mengarah ke medan perang sedang di kepung oleh sekelompok pasukan di sebuah hutan. “Sial, kenapa malah kita yang berakhir seperti ini,” ujar Shiori merasa kesal.