Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Sila dan Robi


__ADS_3

Sila bekerja sebagai personalia di sebuah kantor, bekerja di kantor mempunyai kelebihan pasti libur di hari minggu dan tanggal merah dan hari besar nasional. Dulu pernah Sila mengajak Meta bekerja di kantor nya tapi ia memilih menolak, karena Meta nggak mau meninggalkan pekerjaannya. Posisi Meta sudah di bilang elit lah sebagai asisten Miss Louisa dengan gaji yang sudah lumayan besar.


Sila sepupu yang hanya beda dua tahun dengan Meta lebih tua Sila dan dia anak tunggal.


Malam ini Sabtu aku berencana tidur di rumahnya. Sila bilang kedua orang tuanya sejak pagi tadi pergi ke luar kota karena ada acara keluarga. Kali ini dia tidak memilih ikut karena ada sesuatu yang harus dia selesaikan besok hari Minggu.


Hari ini Meta berangkat bekerja bersama Sila karena dia juga hari ini masuk pagi.


Pulang juga sama-sama karena Sila berencana ajaknya ngopi di Kopi Kenangan.


Pulang langsung menuju Kopi Kenangan, tempat terfavorit Sila saat ngopi. Duduk di bagian luar cafe bagian pojok merupakan tempat favoritnya, sambil nyamil cake yang kami pesan.


" Meta, besok Robi ke rumah."


"Lalu?."


"Tapi nggak tau Saif ikut apa nggak."


"Kamu yang punya urusan sama Robi kok sampai ke Saif ."


"Iya biasanya kan dia ikut Robi."


"Memang kamu sama Robi gimana sih?."


"Biasa saja, dia kan sudah nembak aku."


"Oh ya."


" Dua Minggu lalu saat dia ajak aku keluar."


"Jawaban kamu apa?."


"Belum jawab, karena itu dia besok ke rumah mau minta jawaban."


"Kira-kira apa jawabannya?."


"Aku tolak saja."


"Kenapa?."


"Karena nggak ada yang spesial yang aku rasakan."


"Ya sudah, jawab saja besok."


"Karena ada cowok lain yang buat aku bingung."


"Siapa lagi?."


"Cakra".


"Cakra teman kantor kamu itu?."


" Seratus persen benar, setelah aku cerita padanya kalau aku di tembak Robi kelihatannya dia marah."


"Dia pernah bilang suka ke kamu?."


"Engga sih. Cuma tingkahnya selama dua bulan ini menunjukkan penuh perhatian."


"Keren nih ada yang ngrebutin kamu."


"Kalau dia suka aku kenapa nggak bilang ya."

__ADS_1


"Butuh waktu kali untuk bilang, butuh meyakinkan diri juga kalau dia suka ke kamu."


"Begitu ya menurut kamu?."


"Ya terus mau apalagi, katanya dia perhatian ke kamu belakangan ini, ya belum siap saja kali."


"Mungkin ya."


"Aku suka dengan Cakra kelihatan lebih dewasa, bisa ngemong kamu."


"Ya kita lihat ke depannya, aku mau berpikir besok kalimat apa yang harus aku katakan ke Robi."


Meta hanya manggut-manggut dengar perkataan nya.


Dua jam nongkrong dan menghabiskan minuman mereka berdua pulang.


Rumah Sila gelap karena tak ada orang, dan rumahnya cukup luas. Setelah masuk ke dalam rumah mereka duduk di ruang keluarga sambil menyalakan televisi, tapi tidak benar-benar kami lihat. Meta menyalakannya biar suasana rumah lebih ramai.


Sekitar jam 22.00 mereka naik ke lantai atas menuju kamar tidur Sila.


" Kamu sama Saif gimana?."


" Nggak gimana-gimana."


" Tapi kok kalian intens komunikasi?."


" sebagai teman."


" Lumayan Saif itu di banding kan sama Robi."


"Lumayan apa?."


" Aku sih belum sampai ke arah macam-macam."


" Bagaimana kalau dia suka sama kamu?."


" Entahlah."


" Secara kasap mata dia ada ketertarikan sama kamu."


" Oh ya."


" Aduh Meta mana ada sih cowok rela kesini nemuin kamu, padahal rumahnya lumayan jauh dari sini terus setiap hari yang chat lah belum malamnya telpon, kayak pacar saja."


Aku hanya diam dan cuma jadi pendengar.


" Aku yang sepupu atau sahabat atau temanmu nggak seintens itu chat ke kamu!"


" Nggak tau ah Sil..tidur dulu ngantuk berat aku."


Meta tidak memikirkan perkataan Sila tadi, karena memang belum berpikir ke arah sana.


Sementara berpikir tentang yang ada di depan mata saja.


Keesokkan harinya sekitar jam 08.15 bunyi handphone Meta berdering nada chat.


" Meta, kamu masuk apa?."


" Siang."


" Kenapa?."

__ADS_1


" Robi mobilnya mogok minta anter aku ke rumah Sila."


" Nanti aku antar kamu ya daripada aku ganggu mereka!"


" Iya. Kamu mau datang jam berapa?."


" Jam sebelas kali sampai sana."


" Oke."


Lagi-lagi Meta dan Saif jadi orang yang di undang tapi tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan mereka. Seperti Meta dan Saif tidak ada pekerjaan lain.


Sila sang tuan rumah terlihat santai, karena dia sudah mempunyai jawaban atas peryataan Robi.


Antara suka dan duka mempunyai sepupu antik seperti dia.


Bel rumah Sila berbunyi menandakan


tamu yang di tunggu telah datang. Sila mempersilahkan mereka masuk, tapi karena udara hari ini panas mereka mau duduk di kursi teras. Meta masih berada di kamar tidur Sila, sepuluh menit kemudian Meta baru turun ikut bergabung sambil membawa minum untuk mereka.


Ngobrol seperti biasa yang ringan dulu untuk pembukaan, biar si Robi nggak tegang dengar jawaban Sila.


Di tengah-tengah obrolan ada handphone berdering yang jelas bukan nada dering handphonenya ataupun punya Sila. Ternyata milik Saif, yang kelihatannya nada dering telepon masuk. Entah apa yang di dalam pikirannya sehingga membutuhkan waktu untuk mengangkat telpon itu.


Seperti canggung angkat telpon nya, lalu Robi bilang


" Mama kamu kah yang telp?."


" O iya mama ku."


Dengan hati-hati Saif menjawab telepon itu dengan jawaban sekedarnya dan singkat.


Kalau mamanya yang telpon kenapa seperti itu. Meta dan Sila hanya diam karena tidak punya urusan dengan telpon itu, hanya dia dan Robi yang tau. Pembicaraan telepon selesai, di lanjutkan dengan obrolan kembali, tak terasa jam sudah siang saja 12.30.. Aku pamit sama Sila dan Robi, mau siap-siap pergi kerja. Dan Saif mengikuti Meta ke rumah, tentunya untuk membiarkan mereka berdua bicara empat mata.


Saif duduk di ruang tamu sambil menunggu Meta mandi dan bersiap. Tiga puluh menit kemudian Meta selesai dandan dan menuju ruang tamu, jam 13.10 dia berangkat di antar Saif. Sepanjang perjalanan mereka ngobrol


" Bagaimana ya Robi dan Sila?."


" Bagaimana apanya?."


" Di tolak apa di terima !"


" Di tolak" tegasku.


" Kok kamu yang yakin?."


" Kemarin malam Sila nya kasih tau aku."


terdengar tawa Saif sambil dia menutup mulutnya.


" Kenapa?."


" Jujur banget, ringan jawaban kamu."


" Kelamaan basa-basi,, jujur lebih enak"


" unik juga kamu itu."


Mobil sengaja di jalankan pelan 40km/jam sama Saif agar saat dia kembali ke rumah Sila, pembicaraan Robi dan Sila sudah selesai. Seberapa pelan pun akhirnya sampai juga di Mall. Meta masuk ke Mall Saif langsung bertolak pulang.


Berawal dari pertemanan Sila dan Robi, Meta dan Saif bisa berkenalan. Ketika pertemanan mereka usai, malah pertemanan ku dan Saif berjalan dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2