
Sekarang sudah minggu akhir bulan Oktober.
tiga minggu berlalu dan sama sekali Robi sudah tidak pernah berkunjung ke rumah Sila.
Malah hubungan Meta dan Saif semakin baik untuk ukuran seorang teman. Mereka masih seperti sebelumnya masih chat dan telpon setiap harinya, tidak ada yang berbeda.
Tapi memang sejak saat itu Saif belum lagi menemuinya seperti biasa, entah ke rumah ataupun ke Mall.
Kemarin malam dia telpon dan bertanya kapan Meta libur, hari ini liburny. Dan dia bilang mau ajak Meta keluar, bisa ngopi atau hanya jalan-jalan. Mereka berdua janjian jam 16.00 dan Meta di jemput di rumah.
Kali pertama Meta dan Saif benar-benar keluar untuk jalan-jalan, biasa nya hanya sekedar jemput atau antar. Meta menganggapnya mungkin sudah tidak bertemu selama tiga minggu, maka dari itu dia mengajak jalan-jalan.
Lagi pula Meta tidak bisa menuntutnya untuk selalu menemuinya karena dia juga punya kesibukkan.
Sore menjelang Meta sudah bersiap-siap, agar nanti saat Saif jemput dia siap pergi.
Baru juga Meta mau keluar kamar, pintu rumahnya ada yang mengetuk. Meta membuka pintu, benar saja itu adalah Saif.
" Sudah siap?."
" Sudah, nggak masuk dulu kamunya?."
" Langsung saja ya."
" Oke."
Lalu Mereka langsung menuju ke mobil Saif. Dia menyalakan musik seperti biasa yang dia lakukan, musik akustik dan pop rock kesukaannya.
" Kemana kita?."
" Pertama antar aku ya beli sesuatu di Garage?." (Garage tempat menjual aksesoris mobil.), lalu nanti aku ajak ke tempat yang santai dan pemandangannya indah di malam hari."
" Memang kamu tau tempatnya?."
" Ya tau lah, aku cowok yang juga suka tau tempat-tempat kece."
" Percaya."
Tiba di Garage, dia mengikuti penjual ke ruang atas dan Meta memilih menunggu diruang tunggu yang nyaman banget. Sekitar dua puluh menit mereka kembali ke bawah dan Saif seperti membawa sebuah aksesoris mobil, entah itu apa.
Mobil melaju kembali di jalan raya
" Beli apa kamu tadi?."
" Itu titipan temanku yang ada di Denpasar, dia mau merubah mobilnya jadi dia nitip ke aku."
" Emang disana nggak ada barangnya."
" Mungkin begitu, makanya dia nitip ke aku."
" Ke POM bensin dulu ya!."
Setelah mengisi bahan bakar dia menepikan mobilnya yang masih di POM, dia mampir ke Supermarket kecil yang ada di sana.
" Kamu nggak ikut masuk ?."
" Engga, kamu saja."
" Mau nitip apa?."
" Air mineral aja."
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian dia sudah kembali dengan sekantong belanjaan, dia menyodorkannya pada Meta
" Kok ada coklat dan snack segala."
" Biar kamu ngga cuma diam di mobil, ada yang di cemil."
" Robi nggak apa-apa?."
" Baik sih dia, kenapa?."
" Setelah kejadian waktu itu kenapa dia nggak pernah muncul?."
" Engga tau juga."
" Seharusnya meski di tolak kan bisa berteman, kok langsung menjauh begitu."
" Daripada terluka mungkin dia mending begitu."
" Emang bisa ya cowok berpikir begitu."
" Buktinya ada Meta".
" Kalau kamu pernah sakit hati banget ke cewek?."
" Kalau benci banget engga tapi, kalau sakit hati di tujukan ke mantan engga juga, kan mereka pernah jadi bagian hidup kita, ngapain harus sakit hati banget."
" Cowok mah mudah , kalau cewek lebih sulit makanya banyak cewek yang sering sakit hati, karena mereka pakai hati."
" Kamu yang termasuk kan Meta?"
" Kelihatannya sih iya".
Saif memilih duduk di sofa panjang satu buah yang letaknya agak di tepi, biar bisa memandang alam di sekitar.
Meta duduk dahulu sementara Saif sedang mengambil menu di meja kasir.
Dia membawa buku menu dan satu lagi catatan order. Meta buka menu dan melihat menu yang akan ia pilih.
Setelah Meta menuliskan pesanan, Saif kembali mengantarkan catatan itu ke meja kasir. Cukup banyak pesanan yang mereka pesan, terutama Saif yang memesan beberapa kue, mungkin akan sedikit lama datangnya.
" Keren kan suasananya?."
" Iya, bisa memandang sebagian kota dari disini."
" Pertama kali kamu kesini?."
" Iya, karena aku dan teman-teman kalau mau nongkrong nggak ke tempat sejauh ini."
" Berarti aku pertama yang bisa bawa kamu kesini."
"Yup betul."
" Tersandung nih aku."
" Tersanjung. "
"Aku ajak kamu kesini ada alasannya."
Menu yang kami pesan sudah datang.
" Alasan apa?."
__ADS_1
" Aku mau ke Denpasar, berkunjung ke teman-teman disana."
" Memang kamu punya teman disana?."
" Bukan punya lagi tapi banyak teman, Denpasar itu sudah seperti rumah kedua ku, tempat yang sering aku kunjungi."
" Sering dengan kata lain selalu meluangkan waktu kesana?."
" Iya, kadang juga ke Bandung dan Jakarta, tapi sering nya ke Denpasar."
" Enak ya bisa keliling dan seru punya teman dimana-mana."
" So,,, kamu jangan kangen ya Meta."
" Kenapa aku harus kangen, sebelum kenal kamu aku juga nggak ketemu kamu baik-baik saja."
" Siapa tau hhhhhhhh" tawanya menggoda.
" Ada jadwal tertentu gitu kalau pergi kesana?."
" Engga secara khusus tapi tiap akhir tahun, karena aku nggak suka merayakan sesuatu ya seperti tahun baru, aku nggak pernah merayakan malam pergantian tahun."
" Bukan nya nanti disana akan lebih rame acara pergantian tahun nya?."
" Iya.. tapi aku nggak ikut pasti tinggal di rumah saja."
Sambil mengobrol mereka juga menyantap hidangan yang ada di meja di depan.
" Jadi dua bulan kedepan aku tidak akan muncul di hadapan kamu, nggak masalahkan?."
" Ya engga masalah kan itu sudah menjadi agenda kamu?."
" Tapi tenang saja aku masih akan chat dan telpon kamu."
" Kalau kamu ingin sendiri ya nggak apa-apa juga, kamu nggak hubungi aku."
" Nanti aku yang bingung Meta kalau nggak menghubungi kamu?."
" Ada saja jawabannya."
" Habisnya sudah sepuluh bulan rutin hubungi kamu masa' nggak hubungi kamu selama dua bulan, engga enak kali Meta !! "
" Ya sudah terserah kamu saja."
" Sudah tuh habiskan kuenya tinggal satu potong."
" Kenyang aku Saif, habis makan nasi goreng juga, kamu tuh yang pesan kue."
Meta melihat jam di handphone sudah jam 21.00, sudah tiga jam kami duduk disini.
Kalau bersenang-senang begini waktu cepat berlalu, kalau kerja saja rasanya lama amat.
Baru datang udaranya terasa sejuk tapi semakin malam udara cukup dingin juga, karena ini di atas bukit pastinya.
"Habisin minum kamu, kita pulang udara nya dingin, nanti kalau kamu sakit jadi nggak bisa kerja."
" Iya ayo, aku juga sudah kenyang."
Saif dan Meta sudah berada di tempat parkir, saatnya pulang.
Mengapa dia tidak suka merayakan sesuatu, padahal merayakan sesuatu kan juga membahagiakan.
__ADS_1