Aku Kedua Juga Terluka

Aku Kedua Juga Terluka
Siapa itu?


__ADS_3

Meta dan Saif berada di rumah makan Daeng Andi selama satu jam. Setelah itu Saif mengantar Meta ke mall untuk bekerja.


Mobil Lexus yang ia kendarai berhenti di tepi jalan yang persis di depan mall. "Sayang pulang nya naik ojek online saja atau bisa sama teman kamu, tentunya teman cewek." Saif berbicara dan mematikan mesin mobilnya. " Jika terpaksa boleh di antarkan teman cowok kecuali si Irfan," lanjutnya sebelum Meta menjawab. Meta menatap Saif dengan tubuhnya dicondongkan miring. " Dilihat nanti ya a', kalau sekarang aku nggak bisa meraba-raba," Meta menjawab dengan senyuman dan mengedipkan kedua mata.


" Ya sudah aku percaya sama kamu." Tangan Saif memegang kepala Meta.


" Aku turun dulu ya..." Meta menjinjing tasnya yang sedari tadi ada di pangkuannya.


Saif menganggukkan kepala, " I love you," katanya untuk mengakhiri perjumpaannya.


"I love you too." Meta yang membuka pintu mobil lalu keluar.


Meta memalingkan tubuh untuk berjalan ke arah mall, sedangkan Saif menjalankan mobil dan melaju pulang.


Kali ini Meta memilih melewati basement parkir mall untuk mencari Irfan. Untuk bertanya kenapa ia menelpon Meta. Biasanya para karyawan Mall yang masuk shift siang berada di parkiran untuk berkumpul sesama karyawan, sebelum mereka bekerja. Meta yakin jika Irfan berada disana karena jam masuk kerja masih dua puluh lima menit lagi.


Ternyata pemikirannya benar, Irfan ada di sana duduk bersama beberapa teman. Siska pun terlihat bergabung bersama Irfan.


" Hei Meta," sapa Siska yang mengetahui kedatangannya.


Meta duduk di dekat Siska. " Tadi kamu telepon ada apa Irfan?, tanya Meta.


"Ah ini nanti sepulang kerja si Ryo mengajak kita ke Smooth club, kamu mau ikut?," kata Irfan penuh semangat. Meta tidak mungkin ikut dalam acara itu bisa tambah gawat jika Saif tahu. Apalagi yang mengadakan adalah si Ryo yang pernah terang-terangan menyatakan perasaan pada Meta. " Sorry aku nggak bisa orang tuaku sedang pergi kalau mereka pulang nggak bisa masuk rumah, kunci rumah aku yang bawa." Meta membeberkan alasan kenapa dia tak bisa ikut acara itu, meski keseluruhan alasannya tidak semua benar. Dia memilih jalan aman untuk tidak mengikuti acara Ryo.


" Jadi kalian berkumpul untuk membahas pergi bersama Ryo?."


Lanjut Meta dengan melihat semua teman yang berada di basement.


"Iya". Siska menjawab pertanyaan yang dilontarkan Meta. Siska mendekat kepada Meta dan membisikkan pertanyaan. " Kenapa sih nggak ikut?." Dengan menengok ke arah Siska, Meta menjawab pelan "Jangan di bahas disini."


Siska meyakini ada sesuatu di balik perkataan Meta. Siska berdiri dan mengajak Meta untuk pergi dengannya. " Aku dan Meta ke atas dulu ya," pamit Siska kepada semua orang yang berada disana.


"Ada apa?. Ceritakan padaku," bujuk Siska.


" Saif tadi marah ketika Irfan telepon," kata Meta pendek tanpa menjelaskan.


"Cemburu?." Nada tegas yang keluar dari mulut Siska. " Lalu hubungannya dengan pergi nanti apa?." Siska yang bertanya karena ia benar-benar tidak tahu alasannya.


" Satu ada Irfan dan kedua itu acara yang mengadakan Ryo. Dua-duanya pernah menyukaiku bahkan di antara mereka ada yang pernah langsung menyatakan cintanya padaku," jawab Meta panjang dengan harapan Siska akan mengerti.


Siska menatap Meta dan menjentikkan jarinya


" Dia memang tergila-gila padamu. Sampai masih cemburu dengan dua cowok itu padahal Ryo kan juga sudah punya pacar."


Meta tidak menjawab hanya mengedipkan mata kanannya.


"Lalu tadi kamu bilang orang tua mu pergi itu alasan atau benar?."

__ADS_1


" Itu sih benar. Papa dan mama memang sedang keluar," tegas Meta.


Meta dan Siska sudah naik eskalator untuk naik ke lantai atas. Tiba-tiba Meta teringat ia harus memberi tahu Siska satu hal.


"Oh ya Siska... Jika suatu saat Saif bertanya padamu bilang saja kalau Irfan sudah tahu kalau aku punya pacar," tegas Meta.


Rupanya perkataan Meta kali ini juga membuat terkejut dan berpikir jika ini agar Saif tak terlalu cemburu dengan Irfan.


"Ya..Ya, tenang saja aku mengerti maksudmu. Kenapa pacarmu itu suka cemburu?."


" Kalau dengan kedua nama itu dia memang cemburu, hm lebih ke arah nggak suka sih menurut ku."


Meta menegaskan kalau kekasihnya lebih tidak menyukai Ryo dan Irfan.


"Lucu juga ya Lexus."


Kalimat terakhir yang dilontarkan Siska sebelum mereka menuju toko masing-masing.


〰️〰️


Malam harinya Meta pulang bersama Cindy rekan kerjanya. Dia meminta Cindy untuk mengantarnya pulang sepulang kerja, karena Meta tak membawa motor. Untunglah Cindy berkenan mengantar meski rumah Cindy beda arah dengan Meta.


Karena hari ini ia memang tidak ingin mencari masalah setelah kecemburuan kekasihnya.


Dia lebih memilih di antar teman ceweknya daripada meminta bantuan teman cowoknya di satu mall.


Meta hanya tidak ingin membuat hari ini lebih kacau setelah telepon Irfan yang membuat kekasihnya marah.


Motor Cindy sudah sampai di depan rumah Meta. " Terima kasih ya Cindy, maaf kalau merepotkan kamu".


" Sama-sama mbak, nggak apa-apa kan tidak setiap hari," ucap Cindy sambil membetulkan posisi duduknya.


" Ya sudah aku langsung pulang ya," lanjut Cindy.


" oke. Hati-hati dan jangan mengebut."


" Siap."


Setelah melihat Cindy pergi barulah Meta masuk rumah.


Dia naik ke kamarnya, meletakkan tas di atas meja sudut dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Dari dalam kamar mandi terdengar handphonenya berbunyi. Meta yakin itu adalah telepon dari kekasihnya.


Setelah telepon berbunyi dua kali, barulah mengangkatnya. Terdengar suara kekasihnya di seberang sana. " Baru sampai rumah?."


Meta duduk di atas tempat tidurnya, " Iya. sepuluh menit yang lalu, ini tadi dari kamar mandi."

__ADS_1


" Jadi dengan siapa pulangnya?."


" Cindy." Meta merebahkan diri di tempat tidur.


Malam ini nada bicara Saif tidak seperti biasanya.


Karena merasa ada yang aneh Meta bertanya pada kekasihnya." Kamu kenapa a'. Apa masih marah dengan kejadian tadi siang?."


" Siapa yang marah, perasaan biasa saja aku bicaranya."


" Terdengar sedikit berbeda seperti berbisik bicaranya nggak biasanya, memang kamu ada dimana?," kata Meta yang penasaran keberadaan kekasihnya.


" Di rumah, mau dimana lagi jam segini." Saif dengan nada bicara yang sama. " Sebentar aku pindah dulu biar jelas, mungkin sinyal nya akan bagus kalau aku pindah ke kamar atas ini aku ada di kamar bawah," lanjut Saif.


Suara langkah Saif terdengar dan Meta menunggu hingga Saif bersuara kembali.


Menunggu Saif berbicara Meta meletakkan handphone nya di atas meja rias dalam keadaan loud speaker. Meta duduk di depan meja rias untuk mengambil pembersih wajah.


" Sayang aku sudah di kamar atas." Suara Saif terdengar kembali. Kali ini nada bicara terdengar seperti biasanya setiap kali telepon.


"Nah ini sudah seperti kamu yang biasanya," ucap Meta.


Meta masih di depan meja rias membersihkan wajahnya.


" Kamu lagi apa... Kok suaranya terdengar jauh?."


"Ini di depan kaca handphonenya aku loud speaker."


Sepertinya Saif tidak sendiri karena sepertinya ada yang bicara padanya, tapi tidak begitu terdengar oleh Meta. Karena handphone Meta pun berada jauh dari telinganya.


Meta hanya mendengar suara itu adalah seorang cewek dan tidak jelas apa yang suara ucapkan.


Meta berhenti sejenak dari membersihkan wajah. " Siapa itu a'?."


Saif pun nada bicaranya kembali pelan.


" Ah kakakku."


Meta terheran, " Bukannya kakak kamu punya rumah sendiri dan buat apa jam segini mencari kamu?."


Saif menjawabnya terburu-buru," Sebentar ya nanti aku telepon lagi."


"Oke."


Sambungan telepon kemudian terputus.


Selama berkomunikasi dengan Saif baru pertama kali ini Saif menutup telepon seperti itu. Meta menatap layar handphonenya dan mengangkat alisnya merasa heran dengan tindakan Saif.

__ADS_1


Kalian mungkin tidak menginginkan hal buruk terjadi pada diri kalian. Apakah kalian juga tahu bahwa yang terjadi di hidup kalian tidak semua dilakukan secara sengaja.


Jangan lupa bahwa apa yang terjadi pada kalian adalah kehendak Sang Pencipta.


__ADS_2