
Saif meninggalkan Mall setelah menemui Meta sejenak, sebenarnya ia sampai di Mall pukul 13.35. Dia sudah sempat berjalan ke Julia Jewelry tapi ia tidak mendapati Meta ada disana kemudian dia pergi ke cafe Box yang tidak jauh dari Julia Jewelry. Dia berpikir mungkin Meta masuk siang karena itu ia akan menunggu hingga Meta datang. Pukul 14.00 ia melihat Meta turun dari lantai tiga dengan eskalator, sejak saat itu ia melihat setiap tingkah laku Meta berjalan sampai masuk ke dalam toko dan mengamati apa yang dilakukan Meta di dalam toko.
Menemui Meta membuat Saif sedikit lega atas apa yang ia rasakan ketika masih ada di Bali. Dia bahagia bisa melihat si gadis magnet yang lebih dari dua bulan tak dijumpainya.
Waktu untuk menjemput Meta masih enam jam lagi, tidak mungkin Saif pulang ke rumah sebab jaraknya cukup jauh jika harus pulang dan kembali lagi ke mall untuk menjemput Meta. Dia menghubungi teman yang tinggal tidak jauh dari mall kemudian menjalankan mobil ke arah rumah temannya.
Salah satu keuntungan mempunyai teman yang tersebar dimana-mana yaitu bila ada waktu yang genting seperti ini bisa menjadi pilihan untuk datang ke teman meski terkesan sedikit memanfaatkan.
" Meta, aku ada di tempat parkir depan mall"
chat singkat Saif
"👍" Meta kirim tanda mengerti.
Sepuluh menit kemudian Meta turun ke parkir karyawan untuk menitipkan motor ke satpam mall, dan bilang untuk malam ini Meta tidak pulang dengan motor. Lalu Meta lanjutkan menuju ke area parkir depan mall mencari keberadaan Saif. Meta berhenti sejenak untuk mencari mobil Saif, seketika itu Saif juga melihat Meta sedang mencari sesuatu, ia memutuskan untuk keluar dari dalam mobil dan memanggil Meta.
Meta masih menengok kanan kiri mencari sumber suara yang memanggilnya, setelah Saif melangkah ke depan mobil barulah Meta mengetahuinya dan berjalan ke arah Saif.
Sampai di depannya." Nona Meta," sapa Saif
" Kenapa?."
" Sebelum pulang cari kopi dulu mau?."
" Ya sudah boleh."
Saif dan Meta masuk mobil, baru saja akan mengenakan sabuk pengaman di mobil suara handphone Meta berdering chat masuk dia melihat nama Siska, sementara itu mobil sudah di jalankan.
" Ternyata dia memang lumayan keren." Meta terheran dan mulai memahami jika Siska sedang melihat nya dan Saif, matanya melihat ke arah sekeliling area parkir tapi tak melihat sosok Siska.
Siska baru turun ke basement ketika melihat Meta sedang bicara dengan satpam untuk menitipkan motor.
Diam-diam dia mengikuti Meta keluar dari parkiran di basement, berdiri di balik tiang beton basement dan mendapati Meta berdiri di sebelah cowok yang tidak lain itu yaitu Saif.
Tepatnya bukan mengikuti tapi penasaran akan sosok Saif yang berhasil mencuri perhatian para karyawan cewek.
Siska berdecak kagum mengapa para cewek itu bisa terpesona. " Pantesan mereka tertarik sama dia," gerutunya di balik tiang beton. Kemudian dia menyalakan handphone dan ingin chat Meta.
" Dasar penguntit," balasan Meta kepada Siska
" Aku bukan obat nyamuk lebih baik aku menguntit 😂😂."
Meta tertawa membuat Saif bertanya,
" Siapa sih?."
Sedikit terkejut meta menjawab, " ini temanku yang penasaran sama kamu."
"Teman yang biasanya kamu pergi dengan mereka?."
" Iya. Namanya Siska. Dia sudah tau nama kamu tapi dia selau menyebut namamu dengan Lexus."
" Karena aku pakai mobil ini."
" Iya...Katanya lucu. Dia juga bilang dan yakin kamu ngga bakalan marah kalau dia memanggil Lexus."
Saif tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Lain kali tunjukkan mana yang bernama Siska, aku ikut penasaran siapa yang memanggilku dengan merk mobil".
" Semoga bisa ketemu?."
" Ya pasti, aku akan sering ke mall."
" Mau ngapain kamu sering ke mall?."
" Satu sih tujuanku bertemu kamu, Meta tolong ambilkan tas coklat yang ada bawah di belakang?."
" Mana?."
" Tas coklat itu Meta."
" O itu." Tangan Meta meraih tas coklat yang terletak di bawah yang tak jauh dari tempatnya duduk.
" Itu buat kamu karena aku pergi ke Bali jadi ingin berikan kamu oleh-oleh biar terkesan kalau aku memang dari luar kota."
"Beneran ini oleh-oleh buat aku ! boleh aku buka?."
" Buka saja semoga kamu suka."
__ADS_1
Sebuah kotak yang tidak terlalu besar bertuliskan Bali in your dream, berhiaskan pita bewarna perak. Setelah mendapat persetujuan dari pemberi Meta membuka kotak itu.
"Wah perhiasan alpaka bagus banget pasti cocok saat aku padukan saat memakai kebaya untuk kondangan."
" Aku jadi penasaran kalau kamu memakainya. Kamu tau ini nama nya Alpaka?"
"Kamu lupa aku bekerja di perhiasan juga? iya tau lah meski ngga jual jenis ini tetap harus tau jenis perhiasan sekedar pengetahuan."
" Suka?."
" Suka lah kan ini oleh-oleh tanpa harus beli" guraunya.
" Kalau kamu memakainya tunjukkan ke aku."
Meta tak menjawab hanya mengangkat bahunya.
" Memang aku ngga boleh lihat kamu pakai kebaya dan pakai alpaka itu?."
" Aku pakainya cuma ada acaranya tertentu contohnya pergi kondangan."
" Kalau begitu aku ikut kamu kondangan atau sebaliknya."
Lagi-lagi Meta hanya mengangkat bahunya.
Mereka tiba di cafe Golden Heritage koffie. Meta meletakkan perhiasan Alpaka di tempat semula di tas coklat yang berada di belakang nya.
Setelah memarkirkan mobil Saif dan Meta naik ke lantai atas dari cafe tempat yang bebas asap rokok, di lantai bawah khusus untuk perokok. Meta sendiri tidak bisa menghirup asap rokok, ia akan langsung batuk saat menghirup asap, debu semacam itu.
Mereka berada di meja nomor lima yang terletak di sudut balkon lantai dua.
Saif memandang gadis yang duduk di hadapannya. Meta sedang melihat menu. " Aku ini saja, kamu mau minum apa?." mata Meta mengarah kepada mata Saif dan mereka bertatapan." Saif kamu pesan kopi atau lainnya?."
" Terserah kamu."
" Kok terserah, mau minum apa?," tegas Meta kembali.
"Capuccino latte saja nona Meta."
" Sudah itu saja?."
" Iya. Lho kok cuma dua dan hanya minum kamu ngga mau makan?."
" Pesan kue atau makanan ringan gih, coba aku lihat buku menunya?." Saif mengambil buku menu yang berada di tangan Meta.
" Tambah ini , ini dan ini" Saif menunjukkan menu tambahan.
" Memang nanti habis?."
" Habis kalau kita berdua yang makan."
Sementara menunggu pesanan datang Saif ijin ke toilet. Saif kembali ternyata pesanan sudah tersedia di meja. Meta pun menyesap minuman yang iya pesan di ikuti Saif yang baru duduk.
" Kamu kenapa sih dari tadi lihatin aku, memang ada yang salah dengan ku?."
" Ngga ada yang salah sama kamu, aku cuma merasa kangen dengan gadis yang ada di depanku."
" Kangen muka nya saja? "
" Semuanya sih dari ujung rambut hingga kaki, tadi siang aku juga melihat meme wajah kamu yang lucu bisa buat aku senang begitu saja."
" Kamu ngga lelah dari perjalanan jauh terus menemui ku?."
" Engga... Justru jika aku belum ketemu kamu malah aku ngga tenang, karena kamu obatnya."
Meta merespon perkataan Saif dengan sekilas senyum.
" Kamu ngga percaya bukan !. itu hak kamu, juga bukan bermaksud merayu kamu.
" Meski kangen tapi jangan lupa ini di makan makanan yang kamu pesan." Meta memotong Croissants dan menyantapnya.
Saif tersenyum " Kamu ini orang serius masih di ajak bergurau."
" Siapa yang bergurau kata kamu ini harus di makan berdua biar habis, ya aku makan ini sekarang kamu." Sepotong croissants di garpu di arahkan ke Saif.
" Kamu memang bisa membuat cowok tertarik padamu Meta?." Meta tersenyum manis.
Karena kamu yang seperti ini membuatku jatuh hati kepadamu, ucap Saif dalam hati.
" Enak ya.. mau lagi?," ucap Meta dengan polos.
__ADS_1
" Kamu saja yang makan, aku suka melihat mu makan."
" Jam berapa sekarang?."
" Hampir setengah dua belas."
" Ini tinggal sepotong." Sekali lagi dia mengarahkan Croissants ke arah Saif yang terkesan memaksa agar Saif memakannya.
" Astaga Meta aku kenyang."
" Aku juga" senyum manjanya di perlihatkan kepada Saif.
Saif mengambil tisu dan disapukan ke arah mulut meta yang belepotan karena coklat, Meta tersentak dan mengambil alih tisu yang berada di tangan Saif. Merasa sudah cukup lama jam pun sudah tengah malam mereka turun ke lantai satu.
"Meta ini kunci mobil kamu masuk ke mobil duluan, kasir terlihat ada antrian."
Meta mengangguk dan mengambil kunci yang di berikan Saif.
Antrian kasir ada sekitar empat orang dari itu Saif menyuruh Meta untuk ke mobil.
Tidak ada yang istimewa di dalam mobil Saif hanya ada aksesoris motor Harley Davidson yang menempel di dashboard. Meta menyalakan musik di saluran radio favorit nya, ketika sebuah lagu di putar masuklah Saif.
" Besok kamu masuk apa?." Saif mengemudi menengok ke arah Meta.
" Libur."
" Untunglah kamu libur jadi tidak masalah kita pulang kemalaman."
" Makanya aku santai. Saif terima kasih untuk hari ini dan untuk oleh-olehnya."
" Sama-sama, maaf juga aku nggak hubungi kamu kalau aku sudah tiba."
" Padahal aku seharian tadi nunggu chat kamu, apa kamu sudah sampai di rumah apa belum." Meta mulai mengingat kejadian seharian.
" Kamu khawatir sama aku?."
" Habis kamu bilang tempo hari ketika kamu sampai kamu akan hubungi aku.. Otakku jadi kemana-mana."
Saif mendengar nada bicara Meta sedikit marah.
" Maaf.. maaf .. Awalnya aku memang berniat memberitahu kamu tapi setelah aku pikir-pikir aku mau beri kamu kejutan saja dengan datang ke mall, ternyata aku salah malah membuat nona Meta ini jengkel."
Jelas Saif panjang dengan harapan Meta tidak marah.
" Sekarang jangan marah ya?."
" Tapi aku juga senang kamu tiba-tiba ada di mall". Senyum Meta terlihat membuat Saif lebih baik. Meta mencoba mengendalikan jengkelnya tadi pagi agar tidak terkesan egois, kan Saif juga sudah datang ke hadapan nya dan memberi perhiasan cantik.
Dia mencoba menghentikan perdebatan kecil ini.
Mobil Lexus Saif sampai di depan rumah, Meta pun berpamitan pada Saif.
" Sekali lagi terima kasih untuk hari ini dan ini" kata Meta sambil mengayunkan tas coklat berisi oleh-oleh.
" Iya sama-sama."
" Kamu hati-hati di jalan."
" Iya nona Meta."
Meta keluar dari mobil menutup kembali pintunya tapi terdengar Saif memanggil nya
" Meta tunggu."
Meta pun berhenti lalu menengok kearah Saif, Saif datang kearahnya tiba-tiba lengan Meta di tarik dan seketika dia berada di pelukan Saif.
" Maaf sebentar saja."
" Aku benar-benar merindukanmu Meta Kirana." bisiknya
Pelukan itu terjadi hanya beberapa detik, kemudian Saif melepaskan pelukannya.
" Terima kasih," ucapnya
" Aku pulang."
Meta hanya menganggukkan kepala dan berdiri mematung dengan kejadian yang sangat cepat itu.
Untuk beberapa saat detak jantungnya berdegup dua kali lipat tidak seperti biasanya.
__ADS_1